boleh dilihat

HEADLINE

KENANGAN YANG DIAM_Puisi Puisi Yuliana (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini untuk memberi ruang bagi sahabat pemula Dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.




KENANGAN YANG DIAM

Dari sudut kota aku menyapa
Gerimisnya lebat kian terasa
Gundah hati bukan hanya cerita
Kisah langkah yang gundah
Anak kecil berambut ikal
Masih dalam buaian tuan
Menunggu cahaya untuk bersama
Langit kian terik
Kembali aku memandang
Sejarah singkat hanya di awan
Kembali awan kumulus merakus
Merampas segala rindu yang menggebu
Gelisah Kian merambah
Hujan menumbuk tak bertadah
Air mata melengkapi sunyi
Dipersimpangan jalan kuberhenti


DI KEJAUHAN

Gelisah dan rindu menyelinap dalam lamunanku
Keberadaan jarak bukanlah alasan
Untuk merindu punggung letih
Murung dalam kesendirian dan ketiadaan
Seakan sesak dadaku

Jalan buntu bukanlah tujuanku
Musim gugur isyarat rindu
Ladang kering
Tandus gurun merindu sejuknya embun



LAGU LIRIHKU

Rindu itu… Tak realistis
Newton apel semakin membuatku terpuruk
Tak bisa terbang
Gelap ini akan tetap gelap
Walau dalam terang
Masih saja kurasa kegelapan
Aku langkahkan kakiku disebuah negeri
Dengan mengharap kegelapan itu pergi
Gundah hati semakin menggelayuti
Kini aku coba tuk berlari
Mencari sebuah penjara yang katanya suci
Rasa hati tak sendu lagi
Perlahan rindu ini terobati
Kerasnya hati Kian melembut
Dia yang Maha Lembut
Yang membisikkan cinta
Dalam sayup-sayup waktunya



SURYA IBU

Dari sudut langit ku melihat
Fajar berpendar dengan eloknya
Senyum surya mengahangatkan jiwa
Kasih peluknya masih terasa
Cinta tulusnya bukan sebatas ilusi
Sosok halusnya terbawa jauh di Alam mimpi
Syukur tasbih tiada henti
Engkau bukanlah ibu tiri


MENUNGGU

Sudah lama rasa ini terbengkalai
Masih melekat
Hampir berkarat
Penantianku belum kau ikat
Sisa pertemuan masih dalam angan
Kasuh selalu bungkam
Senja hampir tenggelam
Kudengar kabar lara
Mata yang berkaca-kaca masih dalam cerita
Malam in kusampaikan rindu
Pada diri yang masih semu



Tidak ada komentar