boleh dilihat

HEADLINE

ANAK ANAK MINTA PIRING TERBANG_Cerpen Dadang Ari Murtono (Semarak Sastra Malam Minggu )

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 20

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


Anak-anak minta piring terbang. “Itu tidak mungkin,” jawab ayah mereka. “Rumah kita terlalu sempit,” lanjutnya. Namun anak-anak itu benar-benar keras kepala. Mereka mulai berteriak-teriak dan berlarian di seantero rumah. Mereka melompat-lompat seperti tiga ekor kera yang histeris. Anak sulung melompat dari lemari ke kasur, lantas ke meja tamu, dan terakhir, ia menyenggol televisi tiga puluh dua inchi yang segera jatuh dan pecah membentur lantai. Anak kedua melompat dari bak kamar mandi ke wastafel. Di sana, ia melompat-lompat di tempat. Lompatannya terlalu tinggi hingga kepalanya memecahkan eternit. Seekor tikus yang tengah bersantai di kolong langit rumah segera terbirit-birit sebagai akibatnya. Anak bungsu melompat dari sofa ruang tamu ke dapur dengan satu lompatan yang sulit dipercaya lantaran jarak antara dua ruangan itu sekitar tujuh meter serta dipisahkan oleh lorong ruang tengah yang sempit. Lompatan menakjubkan itu sukses memorak porandakan peralatan memasak sang ibu.

“Hentikan!” ayah berkata keras. Suaranya menggelegar seperti bunyi petasan pembuka pentas ludruk. Ludahnya berhamburan, lalu meleler di janggutnya yang ditumbuhi jenggot jarang-jarang. “Kalau kalian memang bersikeras meminta piring terbang, maka kalian harus bisa mandiri mulai sekarang,” lanjutnya seraya menyeka rambutnya yang berminyak ke belakang.

Kemandirian yang dimaksud ayah meliputi: bangun tidur tanpa dibangunkan, mandi tanpa dimandikan, ganti pakaian tanpa diperintah dan dibantu, makan tiga kali sehari pada jam yang telah ditentukan tanpa diingatkan, belajar tanpa disuruh, dan tidur tepat waktu. “Kalau kalian bisa melakukan itu semua selama tiga bulan, maka piring terbang yang kalian mau akan kalian dapatkan,” tegas ayah. Ia menyeringai pelan, memamerkan gigi-gigi yang kekuning-kuningan dan tak rapi.

Si ayah mengira bahwa persyaratan yang ditetapkannya tak akan mampu dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bandel-bandelnya itu. Mereka hanya akan bertahan selama empat hari – paling lama sebulan. Setelah itu, mereka akan melupakan hasrat mereka memiliki sebuah piring terbang dan mulai kembali ke kebiasaan mereka semula: tidak akan bangun tidur bila tidak dibangunkan, tidak akan ganti pakaian tanpa diperintah dan dibantu, tidak akan makan tiga kali sehari pada jam yang telah ditentukan bila tidak diingatkan, tidak akan belajar bila tidak disuruh, dan tidak akan tidur sesuai waktu yang telah disepakati.

Namun ayah itu keliru. Ketiga anaknya menunjukkan niat dan kesungguhan yang luar biasa. Bahkan lebih dari itu, anak-anak juga memberi sang ayah bonus dengan mencuci baju mereka sendiri meski hasilnya tidak terlalu memuaskan. Seringkali, di kerah baju mereka masih terdapat noda berwarna coklat sebagai akibat dari daki yang mengerak dan tidak tergosok sempurna. Menjelang bulan kedua, si ayah mulai was-was. Anak-anak mulai terlihat lebih gemuk dan segar sebagai efek dari gaya hidup yang tertib. Wajah mereka tampak berseri dan mereka bertingkah lebih ceria ketimbang sebelumnya. Mereka seolah mendapatkan elan hidup yang baru. Dan memasuki bulan ketiga tanpa sekali pun anak-anak tersebut melanggar persyaratan yang telah si ayah tentukan, mereka mulai kerap berkata agar ayahnya tak melupakan janjinya dahulu.

“Aku mau piring terbang yang warnya hijau. Sehijau seledri,” kata anak sulung dengan mata yang berkilauan.

“Aku mau piring terbang yang pintunya ada di lambung dan bisa dibuka-tutup menggunakan remote jam,” kata anak kedua seraya menepuk-nepuk perut yang tampak semakin buncit.

“Aku mau piring terbang yang setirnya tiga, supaya kami tidak berebut menjadi pilot,” kata anak bungsu sambil meringis, memamerkan deretan gigi putih yang tanggal dua bagian serinya.

Si ayah mulai uring-uringan. Ibu juga ikut-ikutan uring-uringan. Dan perempuan itu selalu menyalahkan suaminya. “Kau memang t*l*l. Seharusnya kau memberi syarat yang mustahil mereka penuhi,” ujar perempuan itu sambil menggedruk lantai. Rambutnya yang sebahu tampak kusut dan kantung matanya bertambah lebar.

Ucapan istrinya memberi ide kepada si suami, dua hari kemudian. Kepada anak-anaknya, pada suatu sore, ia berkata, “karena piring terbang yang kalian minta itu jarang sekali jumlahnya dan harganya jauh lebih mahal ketimbang piring terbang yang biasa, maka syarat untuk mendapatkannya harus aku tambah.”

Ketiga anak menyambut pemberitahuan tersebut dengan muka memberengut. “Tentu saja kalian boleh tidak memenuhi persyaratan baru ini. Itu urusan kalian. Hanya saja, aku tidak akan peduli bila kalian melompat-lompat dan menghancurkan seisi rumah,” ayah menjelaskan, kali ini dengan berkacak pinggang.

“Siapa bilang kami tidak mau memenuhi syarat baru itu?” si anak sulung menjawab mewakili kedua adiknya. Suaranya kecil dan tajam dan terasa menyakitkan begitu menyentuh gendang telinga si ayah. 

“Katakan saja dan kami akan melakukannya.”

“Kalian harus juara kelas di akhir semester ini,” kata si ayah seraya tersenyum. Jenggotnya bergerak-gerak lucu sebagai akibat senyuman penuh muslihat tersebut. Ujian semester akan jatuh satu setengah bulan lagi. Dan ketiga anaknya, meski bukan termasuk anak yang bodoh, namun jelas-jelas tidak termasuk anak pandai. Sepanjang mereka bersekolah – si sulung kelas lima sekolah dasar, si tengah kelas tiga, dan si bungsu kelas dua – tak pernah sekali pun mereka berhasil  menembus peringkat lima besar dalam kelas. Dan meskipun selama dua bulan terakhir mereka terlihat rajin belajar, tak sekali pun nilai ulangan harian mereka beranjak lebih tinggi dari angka tujuh puluh.

“Bagaimana?” si ayah meminta jawaban dengan tidak sabar.

“Itu ringan,” anak kedua menjawab. Air mukanya terlihat serius. Lantas mereka bertiga pergi ke kamar dan belajar. Si ayah tampak tak mampu menyembunyikan kejengkelan mendapati respon dari anak-anaknya yang tak pernah disangka-sangkanya itu. Istrinya menepuk pundaknya dan bertanya, “kau yakin mereka akan gagal?”

Lelaki itu tidak menjawab.

Pada masa ujian semester, ayah dan ibu berusaha mati-matian mengganggu konsentrasi anak-anak. Si ibu sengaja menunda menyajikan sarapan sehingga anak-anak akan tergopoh-gopoh menyantap menu makanan mereka dan bakal terlambat masuk kelas. Si ayah tak mau kalah. Ia menyalakan tivi dan menambah volumenya hingga mengganggu belajar anak-anak. Tak lupa, mereka juga kerap menyuruh anak-anaknya untuk mengerjakan ini atau itu, mulai dari memijit hingga mengambilkan rokok yang hanya sejangkauan tangan dari tempat duduk si ayah.

Dan setelah semua itu, ketiga anak tersebut tampak tenang dan yakin, jauh lebih tenang dan yakin ketimbang ujian semester yang terakhir. Dalam setiap kesempatan, mereka juga terus menyebut-nyebut piring terbang. Hal itu membuat orang tua mereka kian kelimpungan. 

“Kenapa anak-anak tidak puas dengan pesawat terbang?” keluh ayah itu suatu kali. Anak-anak belum pulang dari sekolah dan ia tengah memeriksa jumlah uang di buku tabungan.

“Aku tahu dari siapa mereka mewarisi sifat keras kepala itu,” istrinya menjawab sinis.

“Apa maksudmu?”

“Kau sendiri dulu yang bercerita bahwa ketika kau masih kecil, kau pernah meminta pesawat kepada ayahmu dan menolak sewaktu ayahmu menawarkan sebuah kereta api. Dan kini, kau mesti menanggung karma.”

“T*l*l! Itu tidak sama. Aku minta pesawat dan mereka minta piring terbang. Seandainya mereka meminta pesawat, tentu saja hari ini juga akan langsung aku belikan.”

“Zamannya berbeda, t*l*l!”

“Uh...”

“Memangnya benar perkara ukuran piring terbang yang terlalu besar untuk rumah kita sehingga kau tidak mau membelikan mereka?”

“T*l*l! Tentu saja tidak. Anak-anak kita hanya terlalu kecil untuk sebuah  piring terbang.”

“Kalau bagiku, harga piring terbang terlalu mahal. Dan karena itu aku tidak setuju.”

Pasangan tersebut berupaya habis-habisan memikirkan siasat agar anak-anak mereka melupakan piring terbang, atau setidak-tidaknya, menemukan alasan lain untuk menunda membelikan piring terbang bagi bocah-bocah dengan niat kuat mendapatkan apa yang mereka ingini tersebut. Namun hingga hari penerimaan rapot, pasangan itu gagal menemukan siasat. Hari itu merupakan salah satu hari paling menyebalkan bagi sepasang orang tua tersebut. Mereka berjalan mondar mandir di ruang tamu selagi menunggu anak-anaknya pulang membawa rapot. Berulang kali mereka berjalan bolak-balik hingga lantai yang menjadi jalur perjalanan itu ambles beberapa senti dan sandal mereka terbakar.

“Kami jadi juara kelas. Masing-masing kami jadi juara kelas,” teriak anak sulung mereka dari teras. Teriakan yang membuyarkan langkah mondar mandir yang seakan tak akan berakhir tersebut. “Dan sekarang, mana piring terbang kami!”

Tak ada dalih lagi. Tak ada alibi lagi. Maka sore itu, mereka berlima pergi ke pasar. Mereka menuju toko yang paling besar dan tiga anak memilih sebuah piring terbang yang mereka ingini. Proses pemilihan piring terbang itu tidak memakan waktu lama. Anak-anak itu sepertinya telah berunding sebelumnya dan menemukan kata sepakat mengenai jenis dan merek piring terbang yang mereka mau. “Kita akan meletakkannya di dalam kamar. Dan kita bisa terbang sepuas kita,” sorak anak bungsu seraya mengelus-elus badan piring terbang yang terbuat dari baja ringan dan dilengkapi dengan enam roda tersebut.

Piring terbang itu seakan besar dan luas. Hanya seakan. Sebab pada kenyataannya, piring terbang itu bisa masuk ke kamar anak-anak dengan gampang. Ayah meletakkannya di lantai. Ia memberikan buku petunjuk penggunaan piring terbang tersebut kepada anak sulung. Setelahnya, ia keluar dari kamar anak-anak dan segera mandi. Ia dan istrinya ada undangan kondangan malam itu. “Tidak segawat yang kita kira ya?” ujar ayah kepada ibu ketika mereka meninggalkan rumah. Ibu mengangguk dan tersenyum puas sebelum menjawab singkat, “semoga setelah ini mereka tidak minta yang aneh-aneh lagi.”

Mereka pulang dari kondangan menjelang jam sepuluh malam. Mereka baru memasuki halaman sewaktu pandangan mereka terpaku pada cahaya yang menerobos keluar dari atap kamar anak-anak. Cahaya yang mereka tahu bersumber dari lampu neon di kamar itu.

“Apa yang terjadi?” si ibu berteriak panik. Ia lantas menerobos pintu depan, langsung menghambur menuju kamar anak-anak. Pintu kamar anak-anak terbuka. Si ayah membuntutinya dari belakang, dengan kepanikan yang nyaris serupa. Di sana, mereka mendapati puing-puing genteng dan bambu usuk. Mereka mendongak menatap atap yang telah berlubang. Dan di ketinggian sana, sebuah titik bercahaya bergerak semakin tinggi, semakin tinggi untuk kemudian tak terlihat lagi.

“Mereka pergi?” si ibu bertanya dengan suara patah-patah. Sebuah pertanyaan yang lebih terdengar sebagai gumaman.

“Mereka pergi,” si ayah menjawab dengan kadar kelirihan yang hampir serupa.

“Kau harus mencari mereka. Kau harus menyusul mereka,” perempuan itu mulai terisak, tubuhnya yang besar berguncang pelan.

“Itu tidak mungkin. Mereka akan sampai ke dunia baru. Dunia yang bukan dunia kita. Seperti aku dulu yang dibawa pergi pesawat dan tak pernah kembali ke rumah orang tuaku.”

Si ibu memegang rambut. Kedua tangannya gemetar. Lantas menjambaki rambut tersebut sambil memanggil-manggil nama ketiga anaknya. Si ayah meloloskan sebatang rokok. Menyulutnya. Mengisapnya dalam-dalam. Mengepulkan asapnya ke langit tinggi. Mencoba menenangkan diri.

“Selamat jalan, anak-anak pintar. Selamat jalan anak-anak masa depan,” gumamnya.


Tentang Penulis :

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.


Catatan Redaksi :

Redaksi menyunting kata atau kalimat (dengan *) yang melanggar kebijakan pengiklan website.

Tidak ada komentar