boleh dilihat

HEADLINE

KESEDIHAN ITU SUDAH AKU LETAKKAN PADA LUBANG LUBANG KEBAHAGIAAN_Cerpen Ilwa Iradian( Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 22

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


“Apa aku harus pulang bu untuk mencium tanganmu dan memohon maaf untuk segala perbuatan,” pikir Talib ketika ia sedang duduk di pelantara rumah kontrakannya. Pikiran itu muncul ketika ia melihat beberapa orang lewat dari hadapannya membawa bunga kembang dan air dalam termos kecil. 

Mereka pasti akan pergi ziarah, aku tahu itu, sebab bulan ini adalah bulan yang suci. Bulan yang amat baik untuk melakukan sesuatu, termasuk mencabut satu rumput dari sekitar tanah perkuburan. Aku tidak akan pulang, lebih baik aku mengirimi ibu doa, itu pasti lebih baik. ucap Talib dalam hatinya dan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran seperti itu.

Setelah merasa lelah seharian di sebuah kantor besar yang menjadi sawah ladangnya untuk menafkahi istri dan tiga orang anaknya, Talib duduk di atas kursi yang di depannya ada sebuah meja, yang terpasang sibuk. Di atas meja itu ada beberapa buku yang menumpuk dan juga sebuah komputer kantor yang memang sengaja ia bawa pulang untuk mengerjakan tugas-tugas yang penting.

Talib mengambil sebuah kertas kosong dari dalam laci meja itu, dan juga mengambil satu pena yang tersusun rapi di samping komputer miliknya. 

Ia mengembangkan kertas itu, lalu menulis sebuah permohonan maaf yang akan ia kirimkan pada ibunya.

Assalamualaikum, itu kata-kata pertama yang ia tulis.

Ibu, ibu apa kabar. Semoga ibu selalu sehat. Bu, aku tidak bisa pulang di bulan yang begitu suci ini dan mungkin juga lebaran nanti. Mungkin Tuhan akan marah padaku, karna tidak membersihkan tubuh dari kesalahan kepada ibu. Bu, melalui surat ini, aku kirimkan permohonan maafku yang sungguh. Bu, aku minta maaf. 

Talib, dan keluarga,

Dalam surat itu, Talib mrnyelipkan beberapa uang untuk ibunya. Setelah surat itu ia kirimkan pada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai tukang pos. Talib tersenyum simpul lalu berdoa pada Tuhan. Tuhanku, berilah ibuku umur panjang, agar setelah ini aku bisa bertemu dengannya melepaskan rindu yang sudah sangat sesak dalam dadaku.

Sudah seminggu berlalu, surat Talib tidak berbalas. Talib pasti mengerti akan hal itu, bagaimana mungkin seorang perempuan tua yang tinggal di daerah perbukitan, jauh dari keramaian mengerti perihal kemajuan Zaman. 

***

“Mas,” tanya Nadia pada Talib. 

“Mas, apa masih ada sisa uang bulan lalu. Sekarang bulan puasa dan tidak lama lagi, lebaran. Satu stel baju saja belum ada untuk anak-anak kita. Apa uang itu masih ada mas?” 

Talib, tidak bicara. Ia hanya diam sambil menatap langit-langit rumah.

“Mas, apa uang itu masih ada mas?” ulang Nadia dengan nada sedikit naik.”Atau Mas mengirimkan uang itu pada ibu, iya mas. Apa uang itu sudah mas kirimkan pada ibu?” Bentak Nadia pada Talib dengan wajah yang kecewa.

“Mas, aku istrimu. Pikirkan anak-anak kita mas. Mengirimi ibu uang tidak masalah bagiku mas, tapi mas juga harus memikirkan anak-anak kita. Sekarang yang mesti kita makan saja sudah sangat susah. Belum lagi setiap sore aku harus menyediakan makanan untuk berbuka puasa.” 

Talib tidak mengindahkan keluhan istrinya, ia pergi tanpa sepatah kata. Hanya bunyi derap langkah dan hempasan pintu yang ia tinggalkan untuk istrinya. 

Setiap langkah yang ia bawa, hanya kekecewaan pada nasib yang ia sesali. Tuhan, kenapa kau beri aku pilihan hidup yang begitu sangat sederhana jika pada akhirnya aku sulit untuk memilih. Siapa yang mesti aku perjuangkan, jika aku hanya mampu memilih satu. Keluargaku atau ibuku. begitu isi pikiran hati Talib ketika ia sudah tidak mampu untuk mempercayakan pada istrinya tentang yang ia lakukan.

Talib, sudah terlalu jauh. Malam yang penuh dengan lantunan kulimah-kulimah Tuhan, membuatnya ingin masuk ke dalam Masjid. Talib berdiri di halaman sebuah Masjid, lalu menatap kubah yang begitu mewah terpasang indah di atasnya. Di dalam masjid itu sangat ramai dengan manusia-manusia yang sedang melaksanakan perintah Tuhan.

Talib belum masuk ke dalam Masjid itu, ia hanya berdiri memandangi orang-orang salat di dalamnya. Lama Talib melakukan hal itu sampai ia tidak sadar bahwa semua orang dalam Masjid itu telah pulang kecuali imam Masjid. Akhirnya ia sadar, setelah seorang imam Masjid menyentuh pundaknya dan menyapa dirinya, dengan kata-kata Assalamualaikum.

Talib tersadar, lalu kembali pada tubuhnya lagi setelah beberapa saat berkhayal tentang dirinya yang dipenuhi dosa karna pilihan hidup yang selalu kurang.

“Pak, bapak kenapa? Dari tadi saya lihat, bapak seperti memikirkan sesuatu,” tutur imam Masjid itu datar.

Talib, belum menjawab pertanyaan imam itu. Ia masih memperbaiki pikirannya yang belum pulih dari khayalannya tadi. Ada sesuatu yang menjadi pengganjal dalam dirinya. Kenapa Tuhan memberikan pilihan, jika di antara pilihan itu harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam kehidupan yang pada akhirnya Tuhan mencatatnya sebagai dosa yang besar, karna telah mentelantarkan sesuatu yang tak terpilih. Talib bingung dan kacau dengan kehidupan aneh yang menerpa hari-harinya. Ia berfikir, setiap hari ia selalu melakukan dosa. 

Imam masjid itu menyentuh pundak Talib untuk ke dua kalinya. Talib langsung bicara tanpa ia sadar bahwa yang ia ucapkan itu tidak lagi di dalam hatinya. 

“Ampuni aku Tuhan,” begitu ia ucapkan dengan nada sedikit keras dan cepat.

Ia baru sadar kembali setelah ia mengucapkan kata-kata itu pada akhirnya ia memasang muka yang seharusnya tidak pada manusia ia  perlihatkan, tapi pada Tuhan.

“Kamu kenapa pak?” Tanya imam itu sambil memegang pundak Talib kembali seraya memberi sentuhan penenang. 

“Tidak apa-apa pak,” jawab Talib datar seolah-olah ingin menyembunyikan yang ia sampaikan tadi. Tapi imam itu belum percaya pada jawaban yang disampaikan Talib. 

“Jika ada masalah, ceritakan lah pak, barangkali saya bisa membantu bapak. Dari yang bapak igaukan tadi, saya rasa bapak mempunyai masalah dengan Tuhan. Mari kita masuk ke dalam Masjid ini pak, itu rumahnya tentu akan menjadi jalan yang baik untuk berurusan dengan Tuhan.”

Talib tidak menyangkal lagi, ia mengikuti langkah imam itu. Tiba-tiba langkah Talib berhenti ketika melihat sebuah tulisan asma Allah di pintu masuk Masjid itu. seketika itu juga ia teringat dengan dirinya yang masih terhitung berapa kali ia mengucapkan kulimah itu pada Tuhan.

“Ayo pak!” Tutur imam itu kembali.

“Sebentar pak, saya mengambil air suci dulu. Aku ingin bersih menghadap kepada Tuhan. Setelah itu, Talib mengucapkan salam pertamanya dari sekian umur yang ia besarkan di jasadnya.

Imam itu menjawab salam Talib lalu mempersilakannya untuk duduk di sebelahnya. Percakapan mereka dalam Masjid itu sangat lama, hingga mereka tidak sadar bahwa waktu sahur sudah datang dan sebentar lagi akan imsyak. 

“Terima kasih untuk semuanya, pak”

“Sama-sama.”

Talib pergi kembali menelusuri jalan yang pernah ia temui penyesalan hidup di setiap derap langkah kaki yang ia bawa. Kali ini ia pulang penuh dengan senyuman dan rasa percaya diri yang begitu hebat muncul ketika imam masjid itu memberikan siraman rohani pada Talib, tentang hidup dan arti dari kehidupan.

Talib sudah sampai di halaman rumahnya. Ia menggucapkan salam pertama pada rumah yang sudah sekian tahun ia dirikan. Nadia istri yang sangat ia cintai membuka pintu itu dan merasa sedikit heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah.

Talib duduk di sebuah kursi sofa usang di ruang tengah ruamahnya, lalu memanggil ketiga orang anaknya. 

“Ladri, Giraf, Ranti. Ayo sini, duduk dekat ayah,” begitu ia ucapkan pada ketiga orang anaknya. Ranti anak yang paing kecil langsung berlari ke pangkuan ayahnya, mungkin rasa yang seperti itu memang sudah sangat mereka rindukan, karena sosok laki-aki yang mereka panggil ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Nadia masih heran menatap kejadian yang menimpa suaminya. Ia berdiri mematung tidak begitu jauh dari suaminya dan juga tiga orang anak-anaknya yang sudah berpelukan dengan ayahnya.

“Masih ada satu tempat yang kosong, kamu tidak mau ikut?” Gumam Talib sambil memberikan senyuman pada istrinya.

Tanpa ragu Nadia pun ikut dalam kebahagiaan yang tiba-tiba datang itu. 

“Lebaran ini kita harus pulang, sepertinya Nenek sedang membuat lemang untuk kita.” Kata Talib pada anak-anaknya sambil melirik mata istrinya penuh dengan kepercayaan. 

“Oh, iya dan untuk besok, ibu harus membawa anak-anak ke pasar, jangan tunggu pasar penghabis sebab itu akan sangat ramai, tentu akan sangat sangat melelahkan dengan kepadatan yang akan menimbulkan sesak.”

Nadia masih belum mengerti dengan apa yang dilakukan suaminya. Tapi ia tidak berani bertanya di depan anak-anaknya. Barangkali banyak pertanyan yang ia tanyakan pada suaminya tentang kisah yang keluarga yang tidak pernah ia bayangkan.

Pagi sudah datang penuh warna indah dalam diri Nadia, begitu juga dengan tiga orang anaknya. Kebahagian yang datang tiba-tiba ternyata membuat Nadia berdoa pada Tuhannya, semoga hari ini selalu bertahan di setiap umur yang aku bawa dari lahirku hingga pada masa kesudahanku.

“Mas,”

“Iya, apa buk?” Jawab Talib datar ketika istrinya mencoba memberanikan diri untuk bicara setelah beberapa saat hanya diam menikmati perubahan itu.

“Mas, Mas kenapa?”

“Lo, Saya baik-baik saja bu.”

“Mas tidak baik-baik. Ada yang berubah dari diri mas.”

“Jika perubahan itu tidak baik, maka tunjuki aku bu, jika baik maka bantu aku untuk melengkapi kebahagian anak-anak kita dan orang tua kita di kampung.”

Nadia semakin heran, semenjak ia mengeluh pada suaminya tentang hari yang akan segera dipestakan, ia tidak pernah berfikir akan bahagia secepat ini. 

“Mas, adakah sesuatu  yang tidak baik dari ini semua?” Tutur Nadia sedikit pelan.

Talib berdiri  lalu memegang kepala istrinya.

“Demi keselamatanmu, anak-anakku, dan ibu di kampung, aku berani bersumpah bahwa segala sesuatu yang ibu curigai itu tidak ada padaku. Percayalah bu, aku hanya ingin bahagia dalam kesederhanaan ini. Ibaratnya aku sudah tahu bagaimana cara meletakkan kesedihan pada lubang-lubang kebahagiaan, dan itu sudah aku dapat kan.” Nadia langsung memeluk suaminya, lalu sambil melontarkan kata-kata permohonan maaf yang sungguh dari dalam hatinya.

***

Begitulah kisah ibu dan ayahku. Aku Ladri, anak yang paling tua dari tiga bersaudara. Seperti yang ayah katakan, jangan pernah memelihara kekurangan, tapi peliharalah kecukupan dalam kehidupan yang meski tak berkecukuupan. Ayah juga mengatakan, bahwa setiap langkah manusia pasti memiliki nasip hidup yang tak sama, dan itu sudah menjadi keputusan Tuhan agar setiap manusia di muka bumi bisa untuk melengkapi. Seperti hari ini, seorang fakir miskin dan anak yatim selalu diberikan bantuan dan itu sudah menjadi keputusan di dalam kertas.

Sekarang aku mempunyai dua orang anak dan satu istri yang sangat aku cintai. Kata ayah juga, sekeras-keras istri akan menjadi lembut jika dibesar-besarkan dengan kasih sayang. Ayah terimakasih atas kesetiaanmu pada ibu dan pada kami. Dari kisahmu, aku sudah pandai pula bagaimana cara meletakkan kesedihan pada lubang-lubang kebahagiaan.

Pasaman, Dua Koto, 2018


Tentang Penulis :

Nama Ilwa Iradian, biasa dipanggil Ilwa. Lahir di Jambak pada tanggal 28 Mai 1993. Tinggal di Pasaman Lubuk Parupuk. Alumni STKIP PGRI Sumatera Barat. Sekarang Guru di MTsN 5 Pasaman. Pernah menjuarai lomba menulis cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa di STKIP PGRI Sumatera Barat pada tahun 2016, juara dua lomba menulis cerpen tingkat Nasional pada tahun 2016, yang diselenggarakan oleh Langgam Pustaka. tulisannya berupa cerpen dan puisi pernah dipublikasikan di antaranya media Singgalang dan Rakyat Sumbar, sekarang aktif menulis bersama komunitas “Daun Ranting” dan aktif bersama komunitas literasi di Kabupaten Pasaman.  



Tidak ada komentar