boleh dilihat

HEADLINE

PINGGIRAN KOTA SEBELUM LIWA_Puisi Puisi Q Alsungkawa ( Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 22

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)



PINGGIRAN KOTA SEBELUM LIWA

Inilah bumi berjuta pohon kopi
berbukit-bukit hikayat ditanam ayah
dari mulai sajak-puisi
hingga kemungkinan-kemungkinan lain tertancap di tebing
menggelinding aroma pilihan
dikemas di atas meja, menjadi perbincangan dan pelengkap cuaca.

Sebelum langitku mendung
ketika pilihan-pilihan itu pergi
beberapa ramalan menuruni terjal bebatuan
membentang jarak dari derap kaki yang tak asing lagi
kemudian kau pernah menghadiahkan perpisahan
kurasa itu, kematian yang dicicil
karena aku gagal memaknai angin gunung
yang tiap hembusnya menampar hari esok
desirnya mengental di separuh punggungku.

Singgahlah sejenak Adik, di kedai pinggiran kota sebelum Liwa
ada banyak yang mesti kita pahami
dan hingga hari ini masih terdiam
seperti selimut kabut yang menutup separuh Pesagi
selalu bertikai tentang dingin
apakah iklim ini yang bukan jodoh kita
atau pembicaraan dari setiap katanya yang terluka?

Lampung Barat, 27 Mei 2018.


SINGGAHLAH SEJENAK ADIK

Singgahlah sejenak Adik,
aku ingin meramal matamu
saban hari merapikan sepasang kursi
upaya bila larut itu bicara
tiada lagi debu
atau puing-puing yang bakal hinggap ke hari esok.

Jalan yang semula lurus
didekap banyak kemungkinan lain
rela berbagi waktu dengan peristiwa
hingga membentang tikungan
dan sedikit menunda mimpi yang tersusun dari bait-bait puisi
dalam risalah kata-kata yang mengental di ingatan.

Sejatinya Adik,
kita bukan berpulang pada kenangan
biarlah mendung yang bergulung tempo hari
mengendap dalam catatan yang tak terawat saja
bila pun mengingatnya
adalah cermin
untuk tidak mengulang luka di tempat yang sama.

Lampung Barat, 7 Mei 2018.



SEJAK ENGKAU ADALAH SUNGAI

Sejak engkau adalah sungai
mengalir di urat dadaku
deras arus kecintaan
membentuk muara kasih
dan kilaunya
terpancar di bening matamu.

Sejak masa lalu
menjelma debu
seakan senja di ujung pandangan
bertikai dengan hari lusa
tetapi
kelam ini
perlahan disusupi getar-getar
dan seberkas kecil-kecil
mengental menjadi nyala
akan tersedianya harapan terang.

Setelah banyak menelan waktu
kemarau dan mendung
adalah sepasang kekasih
yang menggenggam kerinduan.

Inilah kita
yang menepi dari kalimat-kalimat ganjil
yang mencolek ganjen bahasa tubuh
sepertinya kita
adalah titipan dari serpihan jalanan
ketika tiada lagi, kecipak yang menabuh gejolak ombak.

Lampung Barat, 28 Mei 2018.



HIKAYAT SUNYI

Kita menjadi bagian yang lain
berpeluk cium jauh ke dalam ruh yang paling sepi
menarasikan setiap jengkal masalalu
melucuti kepingan malam yang lebam
dan
pentilasi yang mengurung seperangkat rindu
adalah rasa yang masih saja samar
ketika waktu meruncing ke hulu.

Adakah warna yang kau biarkan di sini
membentuk garis lurus
mengubah kelam malam
agar bila
aku membaca kalimat-kalimatmu
terdapat beberapa
kerlip cahaya, untuk
menyalakan ide-ide dari patahan hati yang terkecil.

Sementara wajah kian nanar
rentan waktu, cemburu dan berlalu
tiada menoleh lagi
sekedar meyakinkan
peristiwa yang tak kunjung usai
sebab esok kemelut lainnya
menambah catatan kelam
dalam kitab hikayat sunyi.

Lampung Barat, 2 Juni 2018.


BAHTERA KHATULISTIWA

Menerima yang murni akan selalu dianggap paling benar. Protes bukanlah bukti dari kekuatan
dan toleransi yang menjadi fondasi, akan tercipta kebenaran yang berujung pada keadilan.

Biji panen yang terkubur
menentukan nasibnya sendiri
ketika kesadaran singgah
kita tercengang, melihat bahtera tengah menjinakkan ganasnya ombak dari gemuruh yang bertikai di jantung kota.

Bukan warna langit yang menjegal pandangan
tetapi
laut di masing-masing kepala yang tak berbagi muara
atau merasa menjadi laut yang paling dalam.

Sudah saatnya
kita mengeja lagi riwayat Pertiwi
dari yang paling purba, hingga era moderen
menancapkan bendera di banyak tempat
di pucuk-pucuk pulau dan di dasar samudra
dan tentunya di hulu dada.

Kita yang menimba desah hidup
di paru paru Nusantara
nadi yang menunggangi bahtera khatulistiwa
sejatinya menjelma amanah
dari luka para juang.

Lampung Barat, 7 Agustus 2017.


TUNGGU AKU DI UJUNG LIDAHMU

Tunggu aku di ujung lidahmu
suatu hari, setelah bukit-bukit berbaris
warisan kekata yang hanya kubaca, tanpa bertanya
atau berkelana ke dalam puisi yang mati suri.

Tunggu aku!
Ketika sajak engkau bacakan
tentang si bocah ireng yang tak kenal bapaknya, tentang raut perempuan yang terusir dari bilik lapuk
karena bila malam tiba, ia bermimpi menjadi ibu dari seorang sarjana.

Tunggu aku-

dan matahari yang memetik pagi
mengulang rencana kemudian melengkapinya
membujuk jalan agar berdamai dengan waktu
ketika denyar dari pementasan para elit keluar dari cangkangnya
yang akhirnya menggeser sebuah nadi dan nafas aliran kecil.

Tunggu aku di pementasan bersama
sepercik sajak yang masih kurancang
tetapi, mungkin
tak layak untuk lindap di papan reklame
namun-

untukku
kuingin membacanya bersama karib yang berhembus dari barat
dan melepas sebiji harap ke langit-lagit yang menaungi riwayat malam.

Lampung Barat, 26 Juli 2017.


REPUBLIK SELIPAT KERTAS

Orang orang di dunia kertas
ramai-ramai membicarakan sebuah garis lipatan
dari hulu hingga hilir
tiada peduli mengapa, kenapa dan siapa?

Jama-ah yang dimentori seorang kolot
elektronik digadang-gadangkan
untuk sebuah efektif menebas birokrasi
tetapi
dan tetapinya
hanya teka-teki yang nyeleneh.

Aku terkesan-

mungkin sebagian isi kepala sama
mufakat pada sistem yang diaplikasikan menjadi benar
tetapinya lagi
jiwa jiwa enggan kembali pada air mata dan bersuci.

Hai, aku ranting kecil yang setiap sepoinya ditunggangi cemas
dan meringkik, sebab fatwa-fatwa yang mengalir
dicemari lumpur-lumpur yang menetas dari celah pelipis berbatu.

Lampung Barat, 10 Juli 2017.


RAUT KUSAM DI UJUNG DEVISA

Wajahku-

adalah emperan kota
menggelinding terbawa nasib
bercerai dari ribuan pulau
aku Indonesia yang terseret ke banyak negeri
jauh dari republik yang di mataku tak kunjung selesai.

Di ujung Devisa
kutebus sebuah harga manusia
dan celah hidup yang kutinggalkan
sebuah lalulalang angin belukar
ketika tubuh ini bercumbu dengan liarnya peristiwa malam.

Ya, sebab dari kacamataku
nadi yang berdenyut di jantung kota
tak pernah kujumpai, bahkan tiang-tiang lilin membuang pesona sebab kehilangan cahayanya.

Aku terus mencari arti dalam setiap suara yang kudengar
bahkan dengan kode etik ketelitian
tetapi sabda itu jatuh sebelum waktunya
lalu ia mendarat di punggung
dan menguasai wilayah damai.

Hai, negeri yang tak kukenal
kita memang tidak pernah menjadi karib
tetapinya lagi
aku hanya memungut sepercik cahaya
untuk kutanam di sepojok lahan warisan. Sejatinya aku tak ingin menjelma sepenggal Devisa.

Lampung Barat, 15 Juli 2017.


ALAMAT BAHARI

Sejenak aku duduk di sini untuk bersajak
ya, di sini
mengulur nafas, meyakinkan pekikan camar  yang terbakar, sapaan badai yang bersembunyi di balik birunya laut
tentunya
sejarah purba, yang tertera di tujuh belas ribu pulau-

bahkan suara kecil di emperan musim, cuaca yang bertengger di tiang-tiang temaram
maka, kucipta sebuah lolongan
di tengah bisingnya suara suara kota
raung pabrik, asap cerobong yang membinasakan paru paru malam.

Dan-

raut unggun di puncak tugu
kobarnya berkabut, bahkan redup
monumen yang dikuas hanyir darah
untuk kita sepakati, tentu bukan ajang memilah siapa yang duduk paling podium.

Hai, sisakan satu tiket di kapalmu!
Sebab engkau akan menanyakan rasa kopi
ketika berkelahi dengan kantuk
sebab hulu ombak, dinamika pelayaran.

Lama kita tidak berkata-kata
dalam ruangan kecil
mengeja lagi sebuah harga manusia
tentang tapal batas di ujung Malaka.

Mari kita rapikan lagi beranda Khatulistiwa dari serpihan bubuk mesiu
atau petasan mainan anak anak!
Agar tunai hutang kedamaian yang menguasai ranah perbincangan.

Lampung Barat, 8 Juli 2017.

Tentang Penulis :


Q Alsungkawa, lahir di Tasikmalaya dan besar di Lampung Barat. Tulisannya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di sejumlah media, tergabung juga dalam buku MY HOPE 2017, EMBUN EMBUN PUISI, MAZHAB RINDU, EMBUN PAGI LERENG PESAGI, ANTOLOGI LANGIT SENJA JATI GEDE (Sumedang)  dan yang terbaru EPITAF KOTA HUJAN (TPAT) SENYUMAN LEMBAH IJEN (Kemah Sastra Banyuwangi) ANTOLOGI ANGGRAINIM, TUGU DAN RINDU (tugu Sastra Pematangsiantar) ANTOLOGI PUISI SOEKARNO CINTA & SASTRA. (Bengkulu) ANTOLOGI SEPASANG CAMAR (Semarak Sasta Malam Minggu SIMALABA)  dll. Saat ini aktif sebagai pengurus di Komunitas Sastra (KOMSAS SIMALABA) Lampung Barat.




Tidak ada komentar