HEADLINE

UNTUKMU YANG BERNAMA KING | Puisi Puisi Titin Ulpianti |

UNTUKMU YANG BERNAMA KING

Untukmu yang bernama King
Aku menulis puisi dari ribuan kata bersarang dalam dada
meski hanya dalam sebuah aplikasi penuh imajinasi

King.
Aku mencoba menjabarkan setiap getaran
agar kau tau dari sebuah rasa rindu mulai tercipta
Ketika hasrat membara dan merangkai semua diksi cinta lewat suara dalam genggaman.

Kau faham benar
Aku menjadi manusia bar bar 
meletakan ahlak dan moral di setiap sudut kekesalan
Melipatnya dalam sebuah kemunafikan
mengemas semua kesedihan.

Mengenalmu
Membuatku melupakan di mana rasa kecewa lahir dari kepedihan serta keputus asaan yang terus mengikuti setiap langkah
meninggalkan masa lalu 
pada pojok ranjang kesunyian.

Lampung barat, 9 Juli 2020.


SENYUM YANG KEMBALI

Kala itu aku mengenalmu
Dengan wajah di penuhi kesedihan
Kemudia kita menjelajahi di setiap sudut aplikasi
Meski sinyal kadang kadang mehalangi langkah kita 
tak mampu mematahkan penasaran yang memenuhi pojok pikiran.

Melewati hari hari bersama
Seperti sebuah agenda yang tak pernah  bosan
meletakan  kesedian pada kekejaman dunia yang terus menjamahku.

Masih kuingat saat pertama kita berjumpa
Kita tak pernah mengenal rupa dan bahasa
yang ada hanya wajah wajah penuh duka
di setiap sudut mata menyimpan banyak kesediah
kemudian kita saling memuntahkan kekecewaan
Melahirkan rasa ganjen yang tak pernah alpa 
menjadi candu membuat kita lupa pada waktu.

Sahabat
Aku menikmati pagi kesejukan bersama embun harapan
dan membuat malam selalu purnama
Di mana para bintang selalu menemani
Dan lelap untuk melukis mimpi.

Senyum yang kembali di peraduan
Membiarkan waktu berkelana
Membawa sisa sia kesenangan
Pada dunia penuh kehaluan.

Lampung barat, 9 Juli 2020.


KECEMBURUAN

Lelaki bermulut tajam
menusuk perih pada hati yang dangkal
di balik wajah garang
tempat aku menitipkan hati

Menghitung bintang pada langit malam yang mulai memudar
terselip tanya pada hati yang mulai tergoyah
Di mana kau letakan cinta
Apa engkau benar benar tak mendua

Melihat engkau berkelana di antara para wanita
membuat jiwaku meronta
ada kesedihan menghampiri
tampa sadar amarah menguasai

Entah mengapa kecemburuan ini terlalu liar tak terkendali
hingga nyaris membunuh kepercayaan dan menenggelamkan pesona cinta yang terus mengalir.

Sayang 
Betapa sempurna rasa cinta
mari kita lupakan sengketa hati yang tak beralasan
mari kita semai kembali semua rasa dengan kepercayaan
kelak dia akan tumbuh bersemi.

Lampung barat, 10 Juli 2020.



RAPUH

tak mampu membendung tangis yang tumpah di wajah sepiku
meski berkali kali menolaknya.

Rapuh
Di hajar realitas yang penuh kepalsuan
nyeri dalam hati seakan membinasakan
Senyuman ini penuh tipu.

Hai rasa sakit yang ku sebut kehampaan
Jangan lagi bertandang  dan terus meradang
Karna hati bukanlah bejana
yang menampung semua cibiran.

Lampung barat, 10 Juli 2020.


Tentang Penulis:Titin Ulpianti lahir pada 13 Januari 1988 di lubuk Linggau, besar dan tumbuh di desa bandar baru kecamatan Sukau Lampung barat, di tengah aktivitas sebagai ibu rumah tangga juga suka menulis dan membaca dan tergabung dalam komunitas sastra KOMSAS SIMALABA sejak tahun 2016 serta bergabung dalam PENYAIR PEREMPUAN INDONESIA(PPI).
Cerpen dan puisinya pernah terbit di beberapa media online seperti wartalambar.com, saibumi.com, kabar pesisir.com, lamtes.com, simalaba.net dan travesia.com. juga tergabung dalam antalohi bersama EMBUN PAGI DI LERENG PESAGI(2017), KU NANTI DI KAMPAR KIRI RIAU (2018), SEPASANG CAMAR (2018), SWARA MASNUNA(2019), MEMBACA ASAP (2019), WHEN THE DAYS WERE RAINING(2019), SEGARA SAKTI RANTAU BETUAH(2019), LELAKI YANG REBAH DI PANGKUAN (2019) TEGAL MAS ISLAND DALAM PUISI(2020) dan  PANDEMI PUISI(2020).

Tidak ada komentar