boleh dilihat

HEADLINE

TERSESAT DI TUBUHMU | Puisi Puisi Diah Febriani |


SEPOTONG SAJAK

Izinkan aku ke hulu, ke tempat sepotong sajak kita simpan,
di sanalah kita pernah terjebak sketsa kata-kata.

Dan di sana pula imaji kita bersengketa,
saling menajamkan diksi,
tak jarang kekata berseteru,
memporak-porandakan hulu dada
hingga untuk beberapa waktu saling melupakan, tetapi perlahan kita saling memunguti.

Ah, sunggguh kita sudah dihanyutkan oleh kata
hingga tak lagi kita hiraukan malam mengetuk-ngetuk lingkup jantung
sementara kalimat  terus merayu, dan kita kembali menggigil
memanggil kerinduan
lalu bercengkrama
menetaskan udara yang sempat kehilangan sayapnya.

Kini kita kembali pada aroma kopi
sajian mesra di atas meja
dan saling menterjemahkan pelosok bola mata
lantas menghapus kalimat-kalimat resah.

Lampung Barat, 03 Juli 2020


TERSESAT DI TUBUHMU

Ini tentang rongga di tubuhmu
yang mengalir dari hulu pesagi
lugu dan tersipu
tetapi aku suka
suka dengan apa adanya.

Kau telah menungguku
di sana, di bawah  selimut kabut tempat paling teduh untuk kita bersua
sejak itulah aku masuk ke rongga tubuhmu penuh kedamaian,
karena jiwamu pandai merawat luka orang lain
meski tubuh itu limbung, terhuyung
di lipat angin
Itu sebab aku tersesat di tubuhmu, hingga tak niat mencari jalan pulang.

Pastinya, sungguh tak adil
jika aku tak menyebutmu puisi
dan aku temukan di tubuhmu itu
sebaik-baiknya peta kedamaian yang berlukis keindahan.

Lampung Barat, 01 Juli 2020


DIANDRA

Kulepas langkahmu ke pelataran
jauh sebelum kaki embun hinggap di bumi
dan malam menemukan kita
aku mendekapmu mengalirkan hangat, 
sebab sebentar lagi  pagi membawa kabut pergi.

Kita narasikan tarian hidup
yang gemulai kadang membuat kita hanyut
hingga biji-biji kalender berserakan
tak teraba.
Tetapi gemercik nyayian pancur hayutkan resah ke muara
tempat ikan seluang bermanja
mengusir perih yang mengiris
hingga ke lereng-lereng bukit.

Tak usah takut, Nak.
Kita masih punya banyak kenangan,
ingatkah kau saat memetik jambu merah di belakang rumah?
mengejar itik-itik di sawah
lalu mengeja daun-daun yang gugur
memberi warna atap rumah kita?

Diandra,
biarkan langit bercengkrama dengan  mendung
agar kita bisa berteduh lagi di bawah akasia,
menancapkan seluruh asa pada
pohonnya,
sebab di situlah muasal rindu dipertemukan.

Lampung Barat, 09 Maret 2020


Tentang Penulis:
DIAH FEBRIANI  Lahir di Mutar Alam, 07 Februari 1985, ia tinggal di Kelurahan Fajar Bulan, Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat. Diah F senang menulis dan membaca puisi sejak SD, puisi-puisinya terbit di  media online SIMALABA, buku Antologi MALAM PURNAMA DI TEPI LIWA(2018), Buku Antologi SEPASANG CAMAR (2018), Buku Antologi penyair ASEAN Kunanti di Kampar Kiri (2018), Event Puisi Pringsewu Kita (2020), Event Puisi Antologi Bersama PANDEMI PUISI (2020)

Tidak ada komentar