HEADLINE

SEBUAH PERJALANAN | Puisi Puisi Aan Hidayat |


SEBUAH PERJALANAN #1

Anakku ...
kau terlahir dari tanah yang basah
dan akan kau lalui kehidupan di langit yang kemarau, di mana daun-daun akan ranggas.

Kenalilah dirimu sebagai manusia, agar kau sanggup bertahan hidup di antara debu zaman yang akan menutupi jalanan.
Debu yang akan menutupi pandangan matamu.

Ketahuilah, bahwa langit tak selamanya kemarau, dan akan ada saatnya, angin membawa kabar tentang hujan, tentang cerita cinta dan kerinduan pada bumi yang basah.

Lampung Barat, 01 Juli 2020


SEBUAH PERJALANAN #2

Anakku ...
pergilah engkau sebagai lelaki
dan pakailah jubah yang telah kuberikan padamu.

Telah kutuliskan peta di balik lipatan bajumu
sebab, kelak, akan kau temui jalan yang berliku dan bercabang.

Teruslah berjalan
langkahkan kakimu dengan pasti
hingga kau jumpai bait-bait puisi yang pernah kutorehkan pada daun  dan kulit kayu.

Lampung Barat, 01 Juli 2020


SEBUAH PERJALANAN #3

Adalah dia yang kusebut sunyi
terdiam dalam labirin bumi
hidup tanpa pendar cahaya hati.

Entah apa yang dia pahami
tentang surat biru yang ia pelajari
hingga wajahnya tiada berseri.

Wahai engkau sang sunyi
tengadahkanlah wajahmu dengan berdiri
hingga kau temukan tambatan hati.

Lampung Barat, 02 Juli 2020


Tentang penulis:
Aan Hidayat, sehari-hari menekuni wira usaha di bidang mebel, pria yang hobi memancing ini juga sangat menggemari dunia sastra. Untuk menyiasati kegelisahan hatinya, ia tuangkan ke dalam puisi, karya karyanya pernah terbit di beberapa media online dan sejumlah antologi puisi; di antaranya Embun Pagi Lereng Pesagi, (45 Penyair) Nusantara Mazhab Rindu, Rumah Seribu Jendela, Purnama Di Tepi Liwa, Kunanti Di Kampar Kiri, Sepasang Camar, Penyair Asia Tenggara 2018 Padang Panjang, Swara Masnuna Krakatau Award, dll

Tidak ada komentar