boleh dilihat

HEADLINE

TANGAN TANGAN PENYAIR | Puisi Hidayat Ad-Dasuki |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor) Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.



TANGAN TANGAN PENYAIR

Di kala tangan emas penyair bergoyang
Menari-nari indah pada kertas putih nan suci
Berjuta kata telah terangkai indah pada sajak pikiran
Menuai kisah yang lalu bersama secarik puisi

Kau bagi kami rakit dan atid
yang senantiasa mencatat bagi jagat
Dicurahkan dalam bentuk rasa
Bersama indahnya permainan kata

Kau bawa jiwa
Bersama sajak yang indah
Menuai harapan dalam dada
Menanti paggilan nyawa

Annuqayah, 17 Desember 2019



NEGERI ILIR ILIR

Tuhan...
Kau beri kami khalifah
Namun ia tiada berguna
Kau perintah kami menerima
Tapi haruskah kami yang menanggung derita dalam lara

Negeri kami negeri ilir-ilir
Yang tak mudah kalian pikir
Akan air keruh yang terus mengalir ke hilir

Negeri kami negeri ilir-ilir
Yang Kau pimpin bergilir-gilir
Tak tahu siapakah seorang amir
Bagai teka-teki seorang mufasir

Negeri kami negeri ilir-ilir
Kau jadi kusir
Dan kami tak jadi sopir
Tak begitu pula montir

Negeri kami negeri ilir-ilir
Negeri yang tersimpan sejuta fosil

Begitulah negeri kami
Negeri yang kami sebut dengan ilir-ilir

Annuqayah, 17 Oktober 2019


BATU PENANTIAN

Kau sebut ia batu nisan
Batu menaruh harapan
Batu menyimpan seribu kenangan
Batu bagi setiap insan

Di atas jajaran batu-batu
Aku menaruh rindu
Bersama doaku yang pilu
Jiwa dan rasa kuhaturkan padaMu

Dan ketika air mata ‘tlah bercucuran pada tanah
Terbesit kenangan yang ada dengannya
Mengalun bersama nada
Sirna, apalah daya dirinya bagi seorang pujangga

Batuku, batu penantian
Batu munajat amalan
Batu bagi impian

Kini, batu itu tak lagi memberi
Sembari tak didatangi lagi
Hanya menjadi tugu perindu
Bagi sisa-sisa yang telah lalu

Wahai batu penantianku
Aku tersungkur kaku
Tak tahu arah akan dituju
Di kala diriku merindu

Maka padamulah aku mengucapkan sumpah rindu
Hadirkanlah dirinya padaku
Agar cinta ini tak lagi beku
Menumbuhkan kasih sayang yang baru

Annuqayah, 19 November 2019


SELAMAT MALAM HAWA

Semoga mimpi indah
Menyatu dalam dunia kedua
Nyata selaksa realita

Annuqayah, 25 Desember 2019

Tentang Penulis:
Hidayat Ad-dasuki. Santri Annuqayah asal Jelbudan, Dasuk, Sumenep. Sekarang masih belajar di salah satu Kampus INSTIKA Prodi ES semester IV. Dan masih menyelami dunia tulis menulis di gubuk sufi Lubangsa.

Tidak ada komentar