boleh dilihat

HEADLINE

SAMUDERA SERIBU SATU LUKA | Puisi Norul Hidayat |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.




SAMUDERA SERIBU SATU LUKA


Rembulanku diam-diam meninggalkanku
Membiarkanku berselimut air mata dan pilu
Dia lebih memilih fajar ketimbang setia
Menenggelamkanku  di dasar malam yang paling kelam

Setelah malam selesaikan tugasnya
Mentari membangukanku secara perlahan
Menceritakan kepergianmu bersama dia yang kau pilih
Seketika itu pula jiwaku serasa tersambar petir
Awan hitam merampas pandangan dan hujan pun mulai 
mengguyur kota hati yang dulu pernah kita bangun bersama

Romansaku merana, mahligai kasihku luluh lantak tak berdaya
dan semesta tak berani mengisyaratkan apa-apa
Aku terdampar di samudra seribu satu luka
bersama air mata, entah sampai kapan akhirnya.

Madura,2020




KATAKAN

Katakan pada mereka
Tugasku berkata apa adanya
Percaya atau tidak, itu haknya

Katakan pada mereka
Tugasku mengingatkannya
Buang atau terima, itu haknya

Katakan pada mereka
Aku hanya manusia biasa
Segalaku sewajarnya
Usahaku ada batasnya
Hitam putih penilainnya, itu haknya

Katakan pada mereka
Tugasku mencintai sesama
Kanan kiri asumsi mereka, itu haknya.


Madura,2020

CATATAN DARI LANGIT


Segala potret kehidupan yang kutangkap selama ini tak ada yang kebetulan. Awan yang menghujan, laut yang membadai, langit yang meninggi, bumi yang diputar, rumput-rumput yang tak silau akan cerah mentari, laju rapi tangan kaki kanan kiri, malam bulan, siang mentari, panas dingin, ramai sepi, sampai akar yang dalam dan pucuk yang tinggi

Pelangi tak perlu mengundang hujan
Senja tak perlu membujuk mega bergantian
Musim semi tak perlu mengemis pada bunga-bunga biar mekar
Bulan tak perlu mengetuk pintu langit tuk hadirkan para bintang

Segala kehendakNya telah dicatat oleh langit
Dari yang paling mudah, hingga yang paling sulit
Tak perlu heran mengapa daun yang jatuh
Sama sekali tak membenci pohonnya
Atau para kumbang yang tergila-gila pada mawar dan kenanga
Begitu juga pada cinta yang bisa tumbuh dan binasa
Dimana saja dan kapan saja. 
   

Madura,2020



DEMI MASA


Akan datang suatu masa 
Dimana aku dan kamu menjadi kita
Dimana dua hati jadi satu jiwa
Dimana segala beda jadi se-iya dan sekata
Dimana satu dan dua jadi tiga dan seterusnya

Demi masa yang telah lama
Menyimpan duka lara saat membangun istana cinta dengan air mata
Simpanlah segala kenangan kelam yang telah pergi
Lalu jadikan amunisi pembaja hati

Demi masa yang akan tiba
Kuatkanlah segala daya
Satukan hati seragamkan jiwa raga
Yakinlah, selama tangan masih menguatkan
Selama mata saling percaya
Selama hati tak hilang kendali
Selama itu pula segala coba dan goda
Bertekuk lutut di hadapan kita

Dan demi pagi yang bila nanti kau telah pergi
Menghadap sang pencipta tuk tunaikan janji
Percayalah,bahwa cinta yang dulu pernah kita tanam
Akan tetap baik-baik saja sampai masa benar-benar terbenam.

Madura,2020


DI PANGKUAN TUHAN


Pasrahku pada tuhan selalu
Merawatmu sepanjang waktu
Pada detik yang terus melaju
Memupuk kebahagiaanmu adalah hobiku

Pengembaraan ini masih lama
Bekal sabar dan tabah harus hemat kutempa
Di persimpangan jalan, menunggumu ku sudah terbiasa
Tak peduli apakah jalanmu melata atau secepat cahaya
Yang pasti di setiap kali kau merasa lelah
Ada aku yang siap memapah

Di pangkuan tuhan, kamu kutitipkan
Karena ku yakin, bahwa amin yang terbuat dari iman 
Mampu buatmu selalu aman. 

Madura,2020



Tentang Penulis:
Norul Hidayat. Pria yang hobi menulis ini lahir di pulau garam Karangpenang Sampang Madura Jawa Timur. Masih aktif kuliah di salah satu kampus di Madura, tepatnya di Universitas Islam Madura. 


Tidak ada komentar