boleh dilihat

HEADLINE

KOTA PUKUL 21 | Puisi Eko Setyawan |

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 2 (2020)
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi minimal 5 judul untuk dipublikasikan setiap malam minggu
kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com
subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU.
Apabila dalam 1 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(karya yang dimuat diberikan honorarium)


KOTA PUKUL 21
(dilengkapi konten video youtube)

1.
sebelum kota ini padam,
tangis pecah menerangi seisi langit.
nyala bintang merekah di kedua matamu.

2.
barangkali kesedihan lahir pukul sembilan.
kita menarik diri dari kota yang sesak.
tak ada napas bagi cinta.

3.
kota ini turun hujan.
harapan kembali mekar.
tak terkecuali jantung kota yang sempat ranggas.

4.
tapi mengapa masih saja
menunggumu adalah laku yang sia-sia?

5.
tersebutlah bahwa langit pekat, hujan, bintang,
dan tentu, sedihmu adalah segala hal tak jauh
dari cinta yang kerap kali kau tanyakan.

6.
namun, kau tak lain cahaya yang sebenar-benarnya
cahaya. begitu terang. terlampau terang.
hingga aku tak dapat menangkap cahayamu.

7.
sesekali langit abu-abu.
seringkali berwarna kau.

8.
selagi masih bisa kautuliskan,
mungkin kota ini akan terus-menerus hidup.
dalam kau, dalam aku, dalam seluruh keheningan.

9.
namun tetap saja, pada gelap malam,
kau masih akan merasa sendiri.

Karanganyar, 2019.


KITA AKAN MEMBICARAKAN APA SAJA
YANG KAU SUKA DAN TAK KUSUKA

di kepalamu, sebuah negara mekar.
dibuat dari mesiu yang tak henti-hentinya dilontarkan.

kau menyaksikan sebuah negara yang tumbuh
dan tak pernah tidur barang sedetik.

lahirlah kota-kota asing dan serba instan.

hotel, supermarket, kedai makan yang menjajakan
kudapan instan, juga lalu-lalang kendaraan.

aku ingin lahir juga di kepalamu, masihkah tersisa ruang untukku?

“tapi, aku perlu yang lekas saja jika barangkali aku perlu.
seperti halnya KFC, MCD, atau kedai makan
cepat saji lain yang kau benci.
sehingga, aku bisa mengudapnya semauku. tanpa kau.”

“tapi bukankah cinta tak ada yang benar-benar instan,
biarkan ia tumbuh perlahan di sela-sela
negara yang mekar di kepalamu.”

sebuah neraka dan cinta yang tak kenal usia.

Karanganyar, 2019.


MEJA MAKAN

yang kau pesan itu adalah kantung mata.
dengan sedikit kuah duka.
ditaburi sedikit kebahagiaan.

yang kau minum itu sepi.
segelas kesedihan dan rasa kantuk.
hasil menangis semalam.

sendawamu sunyi.
dari kelakar.

rasa sedihmu.

kau pesan saja sesukamu.
bayar dengan pelukan untukku.
: sepanjang hari.
kau boleh pergi setelahnya.

jika kesedihan tak juga reda.
biarkan aku mengingatnya sebagai bencana.

Karanganyar, 2018.


PEMBERHENTIAN

kau ingin aku mencintaimu setelah
kau benar-benar mencintaiku.

berhenti membandingkanku dengan masa lalumu
sering kujumpai tangisan
dari sebuah keinginan yang kauajukan.

gema dibangun dari kepercayaan
mahal dan tak bisa dibayar.

kukira memang kau sebuah pemberhentian.
tapi masa lalumu tetaplah sebuah tujuan.
dari sejauh-jauhnya langkahmu.

Karanganyar, 2019.


JALAN YANG PANJANG BAGI JARAK YANG PENDEK
: DES

1.
kau menuju terang di balik bukit.
cuaca― tidak lebih baik dari lenguh napas.
memeluk lebih erat setiap kesedihan.

bagaimana mungkin, sebilah ingatan,
jauh lebih dingin ketimbang sebuah perjumpaan?

2.
rusuk adalah mantra dari tubuh lelaki yang gamang.
merekahlah menjadi taman bunga.
seperti Adam, yang meruapkan Hawa.

terkadang― cinta memang lebih keras kepala dari sebuah jarak.

3.
menebas jarak― dengan rapalan doa―
adalah cara paling sederhana mencapai cahaya yang dituju.
sebab― bentangan jarak adalah merambat dan merekat.
: lewat pelukan Tuhan.

4.
ketika hampir mencapai nyala cahaya,
seekor anak rusa meracap:
“bagaimana kita mengharapkan kehadiran,
jika berpisah saja kita tak pernah rela.”

5.
“ciuman adalah obat paling mujarab memeram kesedihan.”

6.
tak ada apa-apa setelahnya.
anak rusa memejamkan mata seraya berkata:
“kita bisa memangkas jalan paling panjang―
menuju jarak paling pendek.”

Karanganyar, 2019.



Tentang Penulis
EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Alumni Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017).

Tidak ada komentar