boleh dilihat

HEADLINE

SUATU MALAM_Puisi puisi Kurliyadi (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini untuk memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.




SUATU MALAM
: hasan bisri bfc

kopi hangat di meja, doa mustajab
suara-suara merdu dari atap musholla
gugur daun-daun musim kemarau
dan kecupan purnama ke telinga pohonan
tetaplah letupan puisimu di rumah ini
anak-anak memainkan kenangan dari hulu
rambut ibunya, menyemir lukisan masa lalu
saat semuanya adalah hari yang berlepasan
dari rukun kerinduan

doa yang beranak di qunut ubanmu
berada di atas jarak kepalamu dan kepalaku
membentang mendayung lima samudra
ke relung paling dalam paling semayam

aku menulismu pada bagian yang tak ada
sebuah kertas dan pensil adalah persiapan
menuju kalam, menuju sufi hatimu di badar ayat-ayat yang bermalam menabur sepi

kepadamu puisi pulang pada tanahnya
peluhnya bagai sungai tanpa bebatu
dan maknanya bagai kerinduan dipahat waktu
seperti lalat sedang merindu membuat tahi lalat di dagu musim
membiarkan pahala waktu menulis senandung mimpi
sebagai tanda cinta puisi adalah rumah doa dalam umur kita

sebagian lagi tentang usiamu yang beranjak
membacaku di dua bab melerai sunyi
sehingga kepulangan kita pada dunia puisi
adalah bacaanmu membinar dalam buku harianku
kau bercerita tentang masa mengulang tanggal
kepadaku membukitkan gairah sebaris kata
demi lintingan puisi yang sempat aku tidurkan di meja tamu

ajaklah aku ke duniamu, mas,
bersulang dengan teh dan kopi
pekatnya adalah rindu dalam tabur kata
bermalam mesra mengajak kencan dengan purnama


2014


SEMUT 


di dinding kami setia memanjat dan berlari

memupus kesabaran dari tanah kemerdekaan sendiri
mencari makan, makna hidup yang mesti dicari setiap hari

kami pergi berjalan beriringan, seperti barisan pramuka dan upacara
tangan tak ingin lepas dari pegangan dan silaturrahmi, biarpun tangan dan kaki kami kecil kami tahu bagaimana harus menumbuhkan yang halal dan meninggalkan yang haram

kami melepas rindu untuk anak-anak di tanah itu
lubang kecil, tapi kebahagiaan adalah cangkang dari makna istiqomah
mencari keputusan hari yang belum tentu terus kami dapatkan dari seluk keringat tak terlihat olehmu

kami mencintai segala arus dari musim dan sejarah yang berubah-ubah
masyarakat kecil yang selalu teguh
mendirikan kutub anugerah di segala arah

di sebuah tiang yang jauh kami selalu ada,
benih sisa makanan yang mubadzir telah kami
jadikan nikmat agar tak laknat
sebagai jalan kami bukan rakus pada milik sendiri dan saudara

menuju sebuah ranting doa, meninabobokan keluh
adalah keputusan yang terus keluar dari darah
terkadang kami bergumam dalam hati, kami bukan maling atau penjahat kecil seperti mereka
jika harus mati sudah jelas ihklas berakar lebih dulu
tubuh kecil ini sudah kami anggap mati
sebelum perang dimulai


2014


SISA AIR HUJAN
aku tidak menangis lagi
seperti dulu luka-luka menemani niat suatu perjuangan
mungkin rasa harga tulus bukan lagi nanar masa lalu
dan aku bersaksi bahwa tiada nama lain selain namamu di doaku

kau tidak lagi menangis hari ini, haya dan selamanya
rusuk bahagia telah menemukanmu
membuat lebih bisa tersenyum sehabis urat sedih menimpa
buatlah sungai dengan airmatamu
aku ingin berenang dan mencuci darahku
lalu percaya alirannya akan membawaku melanjutkan manis cerita
tidak tertahan oleh batu-batu dan laparnya ikan-ikan penghuninya

aku tidak ingin bersumpah demi langit dan bumi
di dalam aku sudah berdarah, kembalikan darahku
biarkanlah aku tetap hidup dengan cintaku
demikianlah aku, adam yang akan kehilangan suatu paginya
cahaya itu, menara itu, wajah itu

sisa air hujan di daun waru telah kering oleh kenangan
aku kembali menekuni puasaku pada puisi
sebab sehabis lelahku lelap tidur
aku bermimpi bertemu bayanganmu


2015


NAHRUN

sebagai hamba aku ingin sepertimu
mengalir arah hidupnya
dari tubuh gunung ke bawah kaki bukit-bukit sebagai kepulangan
ada batu-batu berlumut bercakap dengan ikan-ikan
saling bertanya keadaan masing-masing
walau lahir dari rahim yang berbeda

di tapal batas kampung itu
anak-anak bergantian mencuci ternak
berdiri di atas batu_ melompat bersamaan ke dalam air
renyah tawa juga berlomba mencari keutuhan
inilah bayang hari di mana sungai-sungai masih utuh dengan doamu

perempuan-perempuan membawa keranjang berisi pakaian
beriringan memikul beban hidup adalah milik bersama
kaki-kaki tanpa alas dan rambut yang terurai panjang
di ujung sungai para lelaki menggoda dengan matanya
tidak dengan puisi atau sepucuk bunga
cukup berkenalan dan jatuh cintalah hati yang sama rasa

sungai ini adalah tempat mengusir lelah untuk semua
air terjun yang selalu rukun dan beriringan jatuhnya
mengampas di dinding-dinding batu tua itu
belukar yang rimbun oleh daun-daun musim semi

meski hujan tak bertandang setahun
tetaplah alirmu  harapan baru
di sinilah segala hidup didiam alirkan
menuju restu semesta
restu cinta dan jujur pada hakikat panjang doamu

2015


KEPADA RAMADHAN


aku bersaksi kepada datangmu

bintang dan bulan memulai perjalanan menuju barat
mengupas penanggalan dari syawal berselimut cahaya
hingga kita bertahan selama bulan haus dahaga

kau datang dengan ajaran dan ampunan
bahagia ini adalah taman dan sungai juga kebun untuk bercocok tanam
menanam iman, amal yang semestimya semakin di eratkan
agar segala rasa nikmatnya sampai di dada
mengucur susu surgawarna keemasan

di setiap malam menjelang seribu bulanmu
pahala-pahala menyerupai bias-bias sinar cahaya
datang menelusuri sisi doa, dan kita tetap sama berada
di atas sajadah berlumur airmata-airmata
dan kita tak selalu tahu
di malam itu ada pintu pahala terbuka ibadah seribu bulan
melebihi umur kita yang semakin renta dan papa

kepadamu ramadhan aku pulangkan segala
agar esok di hari kemenangan dan takbir kebesaran
aku tetap manusia dengan tasbih lafaz agungmu
sampai maaf menjadi akhir yang restu dan piatu


2016


Tentang Penulis :

Kurliyadi lahir di kepulauan Giligenting Sumenep Madura, salah satu alumni pondok pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan Sumenep, menulis karya sastra berupa puisi, cerpen, novel, roman, pantun ,esai dan lainlain.dalam dua dua bahasa ( Indonesia dan Madura ) beberapa karyanya juga pernah dipublikasikan di media massa seperti “Kuntum,Radar Madura ( Jawa pos), Waspada, Buletin Jejak, Banjarmasin Post, Radar Bekasi, Sastra Mata Banua, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Harian Cakrawala Makassar, Jogja Review,Post Bali, Majalah Infitah, Radar Surabaya, Rima News,Malang post,Analisa medan, Padang Express, Minggu Pagi, Buletin santre pangarangan, Koran Madura,Harian Fajar Sumatera, DinamikaNews, Persada Sastra, Harian Fajar Makassar,Buletin Kanal, Harian Rakyat Sultra, Sastra Sumbar, Detak Pekanbaru  juga aktif di Forum Sastra Bekasi ( FSB ) Antologi bersamanya terkumpul dalam antologi Puisi Untuk Padang (2011) Nyanyian Langit ( Ababil 2006 ) Nemor Kara ( Balai Bahasa Surabaya 2006 ) Ayat Ayat Ramadhan ( Kisah Inspiratif Ramadhan AG. Publishing 2012 ) Selayang Pesan Penghambaan ( Pustaka Nusantara 2012 )Dialog Taneyan Lanjhang ( Majlis Sastra Madura 2012 ) Mengabadikan Keajaiban Dekapan Hangat Kasih Sayang Ibu ( JPIN 2012 )Indonesia Dalam Titik 13 ( Lintas Penyair Indonesia, 2013 ) Jejak Sajak di Mahakam( art.lanjong foundation, 2013 ) Kepada Bekasi ( Forum Sastra Bekasi 2014 ) Solo Dalam Puisi ( Festival Sastra Solo 2014 ) Tifa Nusantara ( TKSN 2014 ) Goresan-goresan Indah Makna Kasih Ayah Bunda ( 2014 ) Senarai Diksi ( Pena House 2014 ) LumbungPuisi Sastrawan Indonesia ( Jilid II 2014 ) Jalan Cahaya Jilid II ( KSI 2014) Jaket Kuning Sukirnanto ( KSI 2014) Sang Peneroka (Gambang Yogyakarta 2014 ) Lentera Sastra II ( Antologi puisi lima negara 2014 ) Merangkai Damai ( APPN, Nittramaya 2015 ) Dalam Remang Kumengejar Mimpi  (KOMCIBA, Pena House 2015) Saksi Bekasi ( Forum Sastra Bekasi 2015 ) Sajak Puncak ( Forum Sastra Bekasi 2015) Nun ( INDO POS 2015 ) Dari NegriPoci 6 ( Radja Ketjil 2015 ) Memandang Bekasi ( KSSB 2015 ) Ketam Ladam Rumah Ingatan ( lembaga seni dan sastra reboeng 2016 ) Sekarang berdomisili di Alamat Jalan Yos Sudarso kampung cangkol selatan Rt.02 Rw.06 No.47 kelurahan lemahwungkuk kecamatan lemahwungkuk Cirebon 45111 


















Tidak ada komentar