boleh dilihat

HEADLINE

GURU_Puisi puisi Rijalul Zikra Ridhwan(Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini untuk memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


GURU

Telah tiga tahun sudah kita bersama
Pahit manisnya pendidikan telah kau curahkan
Mengajarkan kami bertapa kerasnya dunia ini
Membimbing kami untuk kemasa depan
Tak jarang dikau selalu mengeluh
Akan perbuatan yang telah kami lakukan
Dan tak jarang dikau marah kepada kami
Yang tak pernah patuh akan perintahmu
Meski engkau selalu mengeluh kepada kami
Tapi tak pernah terucap rasa menyesal di hatimu
Dan meski engkau selalu marah melihat kami
Tapi tak pernah tersirat rasa benci di wajahmu

Guru
Tak tau apalah jadinya kami jika tidak ada mulutmu
Mulut yang selalu terbuka tanpa henti
Hanya untuk memarahi kami
Dan untuk memberikan kami sebuah luka
Sekarang waktu berpisah pun telah tiba,
Dan kini kami akan kehilangan mulutmu itu
Mulut yang memiliki beribuan motivasi didalamnya
Mulut yang telah mengantarkan kami pada hari ini
Selamat tinggal guru
Jasamu lebih berharga dari berlian di lautan
Pengorbananmu hanya tuhan saja yang dapat membalas
Terimakasih guru.

Sungai nanam,    Juli 2019







API

Di dalam tetesan air hujan kuberkata
Dunia akan selalu terbasahi
Dan ditemani keangkuhan dalam berkata
Dari petanda diri telah lupa ilahi.

Kau turunkan hujan di dalam awan
Kau turunkan cinta lewat persatuan
Tapi kami hanya dapat merusak
Menjadikan dunia berapi-api permusuhan.

Lewat dendam di dalam diri
Melupakan titah dalam kebajikan
Menjadikan api terus menyala
Lewat syair yang berduka.

Kau carikan ribuan  alasan
Hanya untuk membela kejahatan
Melupakan jin dan s3t4n
Yang tercipta dari api.

Sungai nanam, Juli 2019


GELAP GULITA

Kau datang dengan seketika
Meninggalkan duka tak terkira
Menghancurkan kepercayaan dalam cinta
Membersihkan hati penuh kenangan lama.

Tak tau daku dalam kegelapan
Mencari nanar dalam duka
Yang kau ambil secara paksa dariku
Sepercik cahaya dalam kesuraman.

Kau hadir bagikan gelap gulita
Perangkap hidup penuh  kebusukan
Dengan rencana yang tak pernah usai
Menjebak daku dalam pertikaan.

Ketika diri percaya akan sebuah cahaya
Pelengkap dari sepercik yang ku miliki
Kau kabur dengan kejutan mengerikan
Membawa harapan dalam nanar diri.

Sungai nanam,    Juli 2019



MIMPI

Kau hadir disela tidurku
Pemberi cinta dalam kesepian
Penyiksa batin dalam ketenangan
Pencurah khayal tanpa  batas

Akankah ini terjadi di dunia nyata
Atau petunjuk dalam menjalani
Liku yang tak pernah bertepi dalam cahaya
Pengugah selera dalam bertindak

Semua dapat terjadi disini
Didunia yang tak tau dimana
Keajaiban atau malah mala petaka terjadi
Menimpa diri dalam kebodohaan.

Sungai nanam,Juli 2019


HARI


Setiap hari kau selalu berganti
Meninggalkan semua tanpa peduli
Meninggalkan tawa dalam dalam kesedihan
Mengobati duka dalam perjalanaan.

Waktu adalah satuanmu
Dalam kehidupan  yang bergonjang
Silih berganti membawa perubahaan
Baik tawa maupun tangis.

Tanpa hati kau berjalan
Menyusuri dalam rowongan ketaatan
Tanpa peduli kau pergi,
Meninggalkan peristiwa tuk dikenang

Ketaatanmu adalah obat
Yang mengobati semua luka,
Kenanganmu adalah sejarah
Dalam mengingat dunia yang tak tertentu.


Sungai Nanam,2o19


Tentang Penulis:

Rijalul Zikra Ridhwan,seorang siswa yang remaja yang masih duduk di  bangku smp kelas IX, Ia lahir 24 maret 2003 yang bertempat di sungai nanam. 



Tidak ada komentar