boleh dilihat

HEADLINE

SIKLUS_Puisi puisi Safrina Muzdhalifah (Sastra Harian

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini untuk memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


SIKLUS

Dunia dipenuhi siklus statis. Segalanya akan menjadi masa lalu ketika berlalu. Kemarin, hari ini masih masa depan, esok ia adalah masa lalu yang menjelma lumut waktu. Terus begitu.

Siang malam

Hari ini matahari terbit, mengantarkan siang bangkit. Di ujung senja ia pamit. Lalu rembulan dan gemintang beramai-ramai menyambut malam. Di ujung subuh ia karam. Berikutnya matahari kembali terbit. Terus begitu.

Manusia

Lahir. Mulanya bayi, berkembang biak jadi balita, remaja, dewasa, berkeluarga, berketurunan, menua. Kemudian menutup mata dari dunia untuk selamanya. Kehidupan dilanjutkan keturunannya. Manusia-manusia baru lahir. Terus begitu.

Tumbuhan

Muncul dari biji, berkecambah, berdaun, kemudian tumbuh besar, berbuah, hari selanjutnya keropos tumbang. Biji dalam tanah memulai kehidupan lagi. Terus begitu.

Hewan
Hewan-hewan berlarian berkejaran, menjalin cinta satu sama lain. Anak-anaknya lahir, induknya mati. Kemudian, anak-anaknya beranak pinak. Terus begitu.

Hujan

Ia lahir dari uap air. Di lautan, di sungai-sungai, di danau. Hujan turun ke bumi. Esok lusa kembali menguap, jadi awan. Menunggu angin menggocangnya hingga guyur jadi hujan sekali lagi. Berulang kali. Terus begitu.
Dan beragam siklus lainnya. Pusat pemberhentiannya, masih berupa tanda tanya.

Pamekasan, 08 September 2019





TEMU

Sayang,
Di terminal Runggosukowati
Aku tak butuh petang
untuk melihatmu sebagai terang
Dan tak butuh gelombang
untuk merasakanmu sebagai tenang

Sayang,
Di terminal Runggosukowati
Matamu dan mataku bersitatap bisu
Kita tabu dalam rindu
Segala jalan buntu
Kecuali kebijakan waktu

Pamekasan, 10 Muharram 1441




MERAPIKAN KENANGAN

Sebagaimana aksara-aksara menjelma kata
Aku dan kamu saling membutuhkan untuk menjadi kita
Sehingga mata dan jiwa membacanya sebagai satu makna
Kita menjadi jamak dari yang mulanya tunggal
Tinggal, mencipta momentum sakral

Selagi bersama
Di sekejap waktu yang tak selamanya
Kita pernah tak sama opini
Bahkan harapan kadang berakhir ironi
Nyatanya kita sedang mengatur harmoni
Agar seirama layaknya nada, bertatut dalam simfoni

Saat waktu begitu terburu
Meski kita ragu mengakhiri temu
Mari rapikan kenangan sebaik mungkin dalam ingatan
Agar tetap bisa kita sambangi
Sebab sewaktu-waktu, rindu sudah pasti gemulai menari

Kertagena Laok, 04 Agustus 2019




AL FATIHAH

Bahkan selain hari ini
Seharusnya kukirim fatihah setiap hari
Menyampaikan amanah dunia padamu, Kartini

Sepatutnya kau berbahagia, karena Kartini masa kini
Bebas berkeliaran demi pendidikan
Tanpa ancaman, kecemasan dan ketakberdayaan

Harusnya kau bersuka cita, karena Kartini masa kini
Bebas menentukan pilihan untuk berada paling depan
Dalam ijtihad peradaban

Namun jangan sakit hati Kartini
Bila Kartini masa kini
Hanya berpendidikan tinggi, tapi belum kaya hati

Jika Kartini masa kini
Hanya pandai membanggakan diri
Namun tak berhubungan baik dengan Ilahi

Jangan kau kecewa, Kartini
Bila Kartini masa kini melampaui batas kemerdekaan perempuan
Yang dahulu kau dambakan dan perjuangkan

Semoga fatihahku sampai di sisimu
Paling tidak sebagai penawar kegelisahan
Atau membantumu mengadukan gaduhnya kenyataan pada Tuhan

Pamekasan, 21 April 2019



GAMANG

Dalam takbir, Allah datang
Dalam rukuk, Allah datang
Dalam sujud, Allah datang
Dalam dzikir, Allah datang
Dalam khusyuk, Allah memeluk
Dalam kelalaian pun, Allah memberi ampun
Sedang aku masih gamang usai sembahyang
Lantaran terlena pada pesona 
Kesementaraan yang menebar benih dimana-mana

Batangbatang, 08 Januari 2019




MALAM LEBARAN IDUL FITRI


Ramadhan tidak kemana-mana
Ia beranjangsana dalam jiwa-jiwa
Yang sempurna menghamba

Ramadhan tidak pergi
Ia abadi dalam diri
Mereka, dengan pengabdian tertinggi pada Ilahi 

Ramadhan tidak berakhir
Ia terus lahir
Mengalir dalam hati penuh dzikir

Ramadhan tunggal sebagai kirana
Bagi mereka yang berair mata
Dalam doa-doa paling maha

Batangbatang, 06 Juni 2019




TAHAJJUD


Isya’ berlalu, subuh menuju
Dalam peluk kantuk, desah lelah, dekap lelap

Bila kau terjaga
Dengan istighfar, bergetar jiwa
Tuhan binasakan dosa-dosa
Sebagaimana Ia meluluhlantankkan pasukan gajah beserta Abrahah

Bila kau rapal Asmaul Husna-Nya
Segera Ia berkati segala pinta
Kehendakmu tuntas sesuai rencana
Harapanmu tergenggam sekejap mata

Sehingga dadamu memantulkan cahaya
Seperti mahkota raja di istana

Kertagena Laok, 27 Juli 2019



Tentang penulis:

Safrina Muzdhalifah, mahasiswi semester akhir TBI (Tadris Bahasa Inggris) IAIN Madura dan merupakan santri Pondok Pesantren Puteri Khadijah Pamekasan. Berasal dari daerah timur daya tepatnya Batangbatang Sumenep. Beberapa puisinya pernah dimuat di buletin Jejak Jawa Barat (2015) dan Media online Jejak Publisher (2017 dan 2018). Puisinya pernah dibukukan dalam antologi bersama yakni Antologi Puisi Nusantara diterbitkan oleh CTA Creation (2016), Antologi Puisi Perempuan Yang Tak Layu Merindu Tunas Baru diterbitkan oleh FAM Publishing (2018), dan Antologi Puisi Komposisi Mie Instan diterbitkan oleh LPM Arena UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta (2018)

Tidak ada komentar