boleh dilihat

HEADLINE

MENUNTASKAN RINDU DI TANAH RATA_Cerpen Maula Nur baety (Sastra Pinggir Kota)


Pukul lima sore. Sebelum kumandang takbir. Langkah ini begitu pelan, menelusuri jalan setapak tempat berpulang manusia. Genangan air mata masih setia menggantung di pelupuknya. Lalu, berhenti sejenak ketika ada seorang wanita paruh baya menjajakan dagangannya yaitu ; kembang. Bunga telah terbungkus memincuk. Membentuk pola tusuk lidi di dua sudut daun pisang. Bukan plastik atau kantong melainkan hal umum untuk daerah kami Brebes, Jawa Tengah. Menggunakan daun pisang. Kita bukan di kota yang serba menomer satukan kehigienisan. Bagi kami, kesederhanaan dengan masih menggunakan bahan alami dari kebun, atau masih menggenggam adat lama. 

Jari jari sisi kanan telah mendekap erat buku kecil Ya'sin. Untuk menghantarkan dedoa pada sanak saudara yang telah menghadap Sang Pencipta

Sebentar lagi gumamman dalam batin. Sebentar lagi ia akan menemukan kerinduan yang begitu besar. Sampai sampai tak sanggup menopang beban kala mengingat kepergian yang terlalu cepat. 

Sakit batin ini Tuhan. Ketika mengingat momen kepergian orang berharga namun tidak bisa berjumpa hanya bisa meratap sedih dari jauh. Begitu nyesek tiada tara ketika tidak melihat terakhir kalinya. Begitu dendam pada sang majikan ketika tak di izinkan pulang ke kampung halaman untuk menilik wajah keriput yang memucat. 

Napas ini tersendat ketika detik terakhir napas kakek tidak kita temani. Meraung dengan keras di bilik kamar tempat bekerja. Aku rindu rumah, rindu pada setiap aktifitasku dengan kakek. Rindu pada setiap kali aku merajuk ketika sang kakek lebih fokus catatan buku usang. Dahulu, kakek di kenal bisa mencarikan tanggal cocok untuk setiap orang mengajukan acara, dari ; pernikahan, khitanan sampai tanggal bagus untuk bepergian. Entahlah, aku masa itu hanya bocah yang tidak mengerti kenapa sering orang berkunjung. Setiap kali makan saat kakek sakit, aku yang menyajikan. Menurtuti segala perintahnya bahkan uang saku jajan ku dapat lebih dari kakek ketimbang ibuku. 

Akhirnya....

Sampai juga di halaman deretan gundukan tanah. Ada yang masih basah, dengan gundukan tinggi ada pula yang termakan waktu hingga merata kering dengan batu nisan hampir tenggelam. 

Bersimpuh di hadapan sebuah makam yang sudah lama menjadi impian. Dalam sejarah waktu menunggu hingga bisa mendekap tanah rata dan banyak sampah daun serta semut di sekitar. Tidak peduli baju menjadi kotor. Tidak peduli rasa sakit ketika semut merambat pada celah celana. 

"Aku pulang, kek..." lirihku dengan tetesan yang mulai muncul, merambak ke wajah. 

"Cucumu yang selalu menemani hari harimu selama sebelum merantau di kota orang. Kini pulang, ingin mendekapmu. Maafkan cucumu ini, kek. Yang tidak bisa menemani masa terakhir. Maafkan cucumu ini yang belum menuntaskan harapan tujuan membahagiakanmu. Maaf beribu maaf untuk semuanya, kek. Banyak yang membebaniku ingin ku bagi untuk kakek. Cucumu ini kurang beruntung dalam kehidupan, kek. Restui langkahku, kek. Biarkan cucumu ini memetik impian dan kebahagiaan. Akan aku temani kakek tidur seperti hari hari sebelumnya ketika kakek masih melihat raut cantik cucu kakek." 

Dalam denting waktu yang entah pukul berapa. Langit mulai gelap. Suara gemirisik dedaunan terdengar merinding. Namun tetap acuh. Seakan tuli dan buta akan rasa takut yang menjalar dalam dada. Ingin berkukuh pada niat dan tekad. Menemani tempat tidur terakhir kakek. Menikmati momen ini. Tahun besok dan besok lagi, tidak bisa mendekap tanah ini. Hanya bisa menghantarkan doa dari seberang. 

Kepergian itu hakiki makhluk. Tak semestinya berharap abadi karena terciptanya ada akan pergi juga pada waktunya. Dan aku percaya kepergian itu hanya tubuh sementara kasih sayangnya masih melekat hidup dalam dada. 

Selamat tinggal kakek. Aku menghantarkan banyak dedoa untukmu di sana, bukan hanya pada hari yang fitri namun hari hari biasa setiap menitnya. Dalam batin merekat sejarah perjalanan kehidupan kita sebelumnya. 

Tamat. 

Tentang penulis: 
Maula Nur Baety lahir di Brebes, Jawa Tengah. Kelahiran 20 Juli 1996. Ia aktif sebagai anggota Komsas Simalaba. Sejumlah karyanya tergabung dalam beberapa buku antologi, dipublikasikan di simalaba.net dan Harian Rakyat Sumbar.

Tidak ada komentar