boleh dilihat

HEADLINE

BIARKAN AKU GEMBIRA_Cerpen Ariani Rosa Lesmana (Sastra Pinggir Kota)


Uci, bocah yang berumur enam kali lebaran itu tampak gembira. Ia begitu sumringah ketika sang nenek memakaikan baju baru di pagi idul fitri. Baju yang dibelikan oleh ibunya tepat tiga hari sebelum lebaran, sebelum ibunya pergi meninggalkannya seorang diri. Sungguh ia tak mengerti sama sekali apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga ayah dan ibunya, yang ia tahu hanyalah memakai baju baru dan bersenang-senang dengan Een dan Rio anak tetangga sebelah rumah neneknya.

“Saya menjemput Uci.” Suara itu terdengar keras dan tegas. Uci sangat hafal suara siapa itu. “Uci tidak akan ke mana-mana, dia tetap di sini apapun yang terjadi. Saya masih sanggup untuk membesarkan dia, mengasuh dia.” Suara itu lebih jelas lagi, keras dan berwibawa tak tertandingi oleh aura apapun.

Uci yang sedang bergembira bersama kedua temannya mendadak murung. Ketiganya mengintip dari balik tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga. Apa yang sedang terjadi, tidak satupun dari mereka yang mengetahui persoalannya. Namun, ternyata Uci menyimpan trauma akan kejadian beberapa hari yang lalu ketika ayah dan ibunya bertengkar hebat yang menyebabkan ia ditinggalkan dan terpaksa diambil oleh kakeknya.

Di sore itu, Uci berlari menembus derasnya guyuran hujan. Kilat dan petir bersahutan, tapi tak menyurutkan keberaniannya untuk mengejar ibunya yang pergi bersama adik semata wayangnya. “Ibu tunggu aku…. Tunggu aku ibu….” Tangisnya melengking, tapi tak seorangpun mendengarnya. Semua orang berada di dalam rumah untuk menghindari dingin dan hujan.

Neneknya yang tinggal sekitar setengah kilo meter dari rumah Uci seperti diberi petunjuk tentang sesuatu oleh Allah. Tiba-tiba nenek ingin pergi ke rumah Uci di tengah kondisi cuaca ekstrim itu. Hatinya begitu khawatir akan cucunya. Ia segera mengambil payung dan membalut tubuhnya dengan mantel, pergi menyusul, entah untuk apa dan siapa ia pergi. “Nenek…. Nenek….”  Uci berteriak sambil menangis tersedu ketika melihat neneknya dari kejauhan. Sang nenekpun berlari menyongsong cucunya yang telah basah kuyup diguyur hujan. Segera dipeluknya cucu kesayangannya itu, digendongnya dengan tubuh renta itu, dan diurusnya segala keperluan sang cucu.

Semua terdiam melihat kejadian sore itu. Nenek segera memandikan Uci dengan air hangat. Sembari menangis nenek bicara dengan terbata, “Jangan takut, sekarang Uci aman. Ada nenek dan kakek yang nemani Uci.” Gadis kecil itu mengangguk dan sesekali ia masih sesenggukan sisa tangisnya yang barusan. Tidak ada pertanyaan dari kakek ataupun neneknya. Mereka seolah telah paham dengan sendirinya apa yang sedang terjadi.

Kakek Uci sangat pandai menghibur cucunya. Segera ia mengajak Uci bercanda dan bermain hingga Uci lupa kesedihan yang baru beberapa menit ia alami. Bocah yang baru tahun pertama menjalankan puasa itu lupa akan segala kesusahan dan kelaparannya.

Malam itu Uci tidur lelap sekali. Ia kelihatan lelah dengan apa yang dialaminya hari ini. Sepanjang malam ia beberapa kali mengigau memanggil ibunya dan menangis. “Ibuuuuu…. Tunggu aku…. Uuuu…. Ibu…. Tunggu aku.” Jerit tangis itu beberapa kali terjadi di sepanjang tidurnya. Badannya demam, neneknya khawatir terjadi sesuatu pada Uci. Untungnya nenek segera mengantarnya berobat ke dokter puskesmas dekat rumahnya.

Mendengar rebut-ribut di ruang tamu itu Uci ketakutan. Terbayang olehnya kejadian yang telah ia alami di rumahnya beberapa hari yang lalu. Ia langsung terisak dan berhambur mencari neneknya yang sedang memasak di dapur. “Nenek tolong aku…. Nenek aku nggak mau pergi….” Neneknya paham apa yang terjadi. Ia tenangkan Uci, dipeluknya hingga Uci merasa aman dan nyaman, “Uci tidak akan pergi, ada nenek dan kakek yang jaga Uci. Sudah jangan nangis lagi.”

“Jika Halimah masih sayang sama Uci, silahkan pulang ke sini! Tapi kalau Uci yang akan dibawa, maaf, nggak bisa! Uci cucu saya, Halimah menantu saya, silahkan ia pulang, urus anaknya urus suaminya.” Mendengar itu pak Rohim yang diutus keluarga bu Halimah tidak bisa lagi bicara. Kharisma yang ditebarkan kakek Uci begitu kuat, tak seorang pun berani untuk coba-coba menjawab atau melawan.

Uci kembali demam. Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, ia mengigau tak henti-henti memanggil ibunya dan menangis. Ia terlihat pucat dan kelelahan. Demam tinggi disertai menggigil membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Dengan kondisi demikian, mau tak mau nenek dan kakek kembali membawanya berobat ke puskesmas. Namun, pihak puskesmas merujuk Uci ke rumah sakit umum daerah untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.

Di rumah sakit itu Uci melakukan serangkaian pemeriksaan dan tes darah. Berdasarkan pemeriksaan itu dokter mendiagnosa Uci mengalami leuk3mia. Kakek Uci paham apa itu leuk3mia. Leuk3mia salah satu penyakit serius yang sering kali tidak terdeteksi sejak dini, salah satu jenis kank3r yang banyak diderita anak-anak.

Mendengar penjelasan dokter kakek Uci lemas. Tubuhnya gemetar menahan perasaan yang begitu berat. Berat sekali…. Cucunya yang sedang mengalami masalah dengan kedua orang tuanya, kini menderita penyakit yang serius. Bagaimana kakek akan menjelaskan masalah ini? Dan kepada siapa kakek harus menjelaskan? Kedua orang tua Uci sedang bermasalah. Mereka kuat bertahan dengan ego dan emosi masing-masing.

Di ruang dokter anak  kakek meminta izin beberapa saat untuk meluapkan emosi dengan meneteskan air matanya. Ia takut jika ketahuan menangis oleh nenek dan Uci. Takut akan ketahuan penyakit apa yang dialami Uci. Kakek mulai mencari cara untuk memberi tahu kedua orang tua Uci.

“Yahya! Segera jemput Halimah, istrimu! Uci dirawat di rumah sakit. Jangan  ditunda lagi!” Kakek memerintahkan ayah Uci untuk menjemput istrinya, ibu dari Uci. Perintah ini sekaligus permintaan kepada mereka agar berdamai. Apapun masalah rumah tangga jangan sampai terpecah belah dan terpisahkan. Apalagi sampai mengorbankan anak.

Ayah Uci masih diliputi emosi yang meluap-luap kepada ibunya Uci. Egonya tak hendak berdamai sedikitpun. Satu jam telah berlalu sejak kakek meneleponnya, tapi tak juga ada tindakan yang ia lakukan. Namun, bayangan Uci tak lepas dari pelupuk matanya. Betapa sedih ia membayangkan anaknya terbaring lemah di ruang rumah sakit. Segera ia berangkat dan melihat kondisi anaknya.

Dalam kondisi setengah tertidur Uci terus mengigau memanggil ibunya. Ayahnya merasa sangat bersalah, ia tak kuat menahan tangis melihat putri sulungnya menderita. Dengan terisak ia menelepon istrinya, “Bu, segera ke rumah sakit. Uci dirawat. Ia terus mengigau memanggil ibu.”

Halimah, agak ragu-ragu antara berangkat atau tidak. Hatinya begitu keras dan tidak menerima perlakuan Yahya beberapa hari yang lalu. Hingga malam tiba ia tak juga berangkat ke rumah sakit. Tepat pukul 01.00 dini hari Uci dinyatakan kritis dan terpaksa dipindahkan ke ruang ICU. Semua keluarga merasa terpukul dengan kejadian ini, terlebih lagi ayah Uci. Beberapa kali ia menelepon istrinya supaya segera datang ke rumah sakit, tapi tak pernah diangkat. Dokter dan perawat telah mengingatkan pada ayah Uci agar semua waspada. Uci dalam keadaan kritis, lemah, dan kondisinya memburuk.

Setelah sekian jam Uci berada di ruang ICU, ibunya baru tersadar dan segera berangkat ke rumah sakit. Ia berjalan setengah berlari mencari ruang di mana anaknya dirawat. “Uci…. Ibu datang…. “  Air matanya tak tertahan, mengalir deras dan menganak sungai di kedua pipinya. Tak henti-hentinya ia memegang tangan Uci, tapi sayang, Uci tak lagi bangun. Uci telah pergi untuk selama-lamanya menuju surga agar semua orang bisa membiarkan ia gembira. Perawat segera mencabut semua peralatan medis yang menempel di tubuh Uci. Disodorkanya secarik kertas, tulisan Uci yang masih berantakan dan acak-acakan, maklum baru belajar menulis, “Biarkan aku gembira, By. Uci, Een, Rio.”

Tentang Penulis:
Ariani Rosa Lesmana, Sehari hari berprofesi sebagai guru di Lampung Barat. Ia juga aktif dalam Gerakan Literasi Daerah (GLD) Lampung Barat.

Tidak ada komentar