boleh dilihat

HEADLINE

RAHASIA KOTA_Puisi Puisi Adit Febrian

  Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk
tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.




RAHASIA KOTA


Lampu merah yang menyala-nyala, seakan memperingati pengendara.

Bukan tentang kenapa, namun begitulah kadang ada saja yang menerobosnya.

Seperti juga kota yang tidak pernah sepi, namun bukan tempat yang begitu ramai untuk para pengadu nasib.

Yang terkadang terjilat dan juga terjerat. Bahkan terikat sampai akhirnya sekarat.

bagi mereka yang diluar kota. kota itu indah, kota itu permai, kota itu ramai. Katanya.

Namun bagi kota itu sendiri. Mereka tidak pernah mengetahuinya, hanya dengar kata orang ataupun tetangga sekitar saja.

Karawang,2019



KERINGAT IBU


Keringat ibu tidak berbau dan juga bukan semata mata keluar secara percuma.

Keringat ibu adalah usaha, usaha dalam keindahan serta ketulusan cinta.

Yang jatuh dari beduk subuh sampai benar benar kering habis tak tersisa.

Keringatnya bisa berupa doa atau sebatas keridhoan luka dan tentu itu melebihi keistimewaan cinta.

Bukan sekedar itu, keringat ibu bukan semata mata cinta biasa. Bahkan luar biasa, karena keringat ibu adalah pengorbanan yang besar untuk anaknya.

Yang bisa saja ia minum sendiri keringat itu, tetapi ibu lebih memilih untuk berbagi kepada anaknya, bahkan berbagi sepenuhnya.

Karawang,2019



KERINGAT BAPAK

Keringat bapak juga seperti keringat ibu, tetapi lebih garang dan kaku.

Rasanya juga agak hambar, seperti bapak itu sendiri.

Sikapnya yang agak sok tidak perduli, tapi percayalah disetiap tetes keringat bapak. Ada muara muara kasih yang tak bisa diduga.

Seperti bapak yang selalu berkorban untuk anaknya.

Karawang,2019




TANGGA NADA

Setiap deru nafas, seperti juga tangga nada.

Kadang naik atau panjang, terkadang juga turun atau pendek.

Seperti ritme jantung. Kadang berdentum kencang, kadang juga pelan.

Seperti tangga nada itu, terkadang seperti itu juga kehidupan.

Dan seperti ritme jantung itu, terkadang seperti itu juga perubahan.

Karawang,2019



BUMI


Hujan mulai turun membasahi bumi, yang terlihat semakin tua.
Langit menangis sedu sedan, melihat bumi yang sekarat.

Karena polusi dan udara yang telah menghiasi, serta juga limbah limbah industri.

Seperti langit yang ikhlas menangisi bumi, seperti udara yang selalu menghiasi paru. Seperti juga bumi yang selalu ikhlas untukmu.
Seharunya seperti itu juga dikau kepadanya.

Karawang.2019


Tentang Penulis:

Adit Febrian, Seorang  Pelajar  SMKN 1 KARAWANG. Pemilik hobi membaca dan bermain musik ini Lahir di Karawang  25 Februari 2002. Pendiri Gerakan Pemuda Literasi  Karawang. E-mail  : aditfebrian71@gmail.com


Tidak ada komentar