boleh dilihat

HEADLINE

BALADA SI APPANG_Cerpen Daeng Patanga

                 Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk
tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


Appang di rumah sakit waktu itu. Di sebuah kamar paling ekonomis, tubuhnya terbaring tanpa bisa menggerakkan kaki kirinya.

Di luar kamar rawat itu, terlihat beberapa anggota keluarganya duduk melantai. Tak ada kursi disediakan buat pembesuk ataupun keluarga pasien hanya untuk sekedar menopang beban pikiran karena biaya rumah sakit yang begitu mahal. Mereka terdiam tanpa percakapan, mencoba mengadu kepada nasib. Kepala tertunduk bersandar pada lutut,  seiring tertunduknya kebijakan oleh aturan.

Hasil foto rontgen terlihat tiga tulang kaki kiri Appang patah yang harus segera dioperasi. Dari kondisi  itu mengisyaratkan bahwa ongkos operasinya pasti mahal, ini terngiang-ngiang dalam pikiran keluarga Appang, terutama Daeng Gassing, ayahnya.

Tak pernah terharapkan namun dia datang. Seorang dokter dengan membawa secarik kertas, isinya daftar ongkos untuk biaya operasi tulang kaki Appang. Jika dikalkulasi, jumlahnya mencapai puluhan juta. Ini bukan sesuatu yang berlebihan, kata dokter. Kondisi kaki Appang memang sudah begitu parah ditambah jika tidak segera ditangani, ditakutkan tulangnya tidak akan bisa disambung lagi.

Segala cara telah ditempuh keluarga kecil Appang ini, demi membiayai perawatan anaknya di rumah sakit setelah kecelakaan sepeda motor. Rasa malu dan harga diri disisihkannya.

Sebuah keterpaksaan ini membuat Daeng Gassing keliling kiri-kanan mengetuk rumah tetangga, namun keluarga ini hidup di lingkungan yang ekonomi masyarakatnya  menengah ke bawah. Adapun bantuan yang diterima dari para tetangga tidaklah seberapa.

Dengan sangat terpaksa kakak Appang meminta bantuan kepada teman-temannya di kampus, namun lagi-lagi teman-teman kuliah Appang kebanyakan adalah mahasiswa rantau yang juga kekurangan uang, nyambung hidup di kampung orang saja susah. Namun teman-teman si Appang tidak lantas tak menghiraukan kawan seperjuangannya itu.

Pengkaderan dunia kampus telah mempererat rasa persaudaraan dalam diri mereka. Nilai solidaritas yang mereka dapatkan di pengkaderan itu telah mengajari mereka untuk tetap harus saling melengkapi.

Sampai akhirnya, biaya rumah sakit itu masih terlampau jauh meskipun semua dana bantuan telah terkumpul.

Pinjaman tetangga, bantuan teman, hingga simpanan spp anaknya untuk semester depan pun jadi korban. Kini Daeng Gassing diperhadapkan pada sebuah pilihan yang sulit yang akhirnya membuatnya berkeputusan bahwa kesembuhan anaknyalah yang lebih berharga dari apapun, termasuk kelanjutan kuliahnya.

Meskipun cita-cita seorang ayah yang sudah lama ingin menyekolahkan anaknya dari uang yang ditabungnya selama ini sedikit demi sedikit untuk memperbaiki nasib keluarga, harus dikorbankan. keselamatan anaknya tentu lebih penting dari apapun, termasuk hanya sekedar uang spp. Uang masih bisa dicari hari esok, namun nyawa, tidak. sebuah prinsip hidup seorang Makassar.

Entah cara bagaimana lagi keluarga Appang bisa memecahkan masalah ini. Segala program bantuan kesehatan dari pemerintah juga tak bisa diandalkan lantaran beranekaragamnya persyaratan yang tak mampu dipenuhi.

Sabar, hanya itu yang mampu mereka lakukan. Mau marah, marah kepada siapa. Marah kepada keadaan yang ada, apakah berani. Tak ada yang bisa menolong di rumah sakit ini. Rumah sakit yang sejatinya untuk manusia namun hampa dari nilai kemanusiaan.

***

Pikiran begitu kacau, dipenuhi berbagai pertanyaan yang tidak terjawab oleh ide tentang solusi yang bisa diandalkan agar bisa mengatasi persoalan. Biaya operasi kini telah berkuasa dalam kecemasan keluarga Appang, membuat mereka hanya bisa mengadu kepada nasib. Ingin rasanya segera mendapat pertolongan dengan segera, mengingat kondisi Appang yang semakin parah jika tidak segera diobati.

Di tengah pikiran yang teraduk-aduk itu, datang sebuah solusi yang hanya ikut mengaduk-aduk kepala.

Solusi itu datang dari saudara Daeng Gassing, paman Appang, hal itu membuat ayah Appang kini tenggelam dalam dilema. Sebuah pilihan besar harus segera diambilnya. Bagaimana tidak, Daeng Tiro menawarkan kepada saudaranya agar kemanakannya dibawa saja ke tempat urut. Tentu tidak akan terlalu memakan biaya. Seper dua, seper empat, bahkan seper sepuluh pun, biaya urut pada sanro kenalan Daeng Tiro pun masih lebih murah dibanding dengan biaya operasi di rumah sakit.

Dalam kondisi yang harus memilih tersebut, Daeng Gassing diliputi oleh rasa ragu. Bagaimana jika nantinya Appang dibawa ke sanro. Yang di tengah majunya teknologi dan metode pengobatan yang sudah begitu canggih. Apakah hasilnya akan lebih baik?, apakah Appang bisa sembuh?, atau malah sebaliknya. Di sisi lain, kalo bukan dengan jalan seperti itu, bagai mana mungkin bisa membayar ongkos operasi yang begitu mahal itu.

Namun Daeng Tiro sangat yakin atas usulannya tersebut dan berusaha meyakinkan saudaranya, bahwa sanro tersebut adalah ahli di bidang ini. Kalo hanya sekedar patah tulang, itu gampang, tak perlu ada yang di khawatirkan. Yang terpenting saat ini adalah usaha untuk keluar dari permasalahan.

"Jika kamu masih lama berfikirnya, anak kamu yang akan celaka", Daeng Tiro mengancam.

 " Baiklah", suara Daeng Gassing begitu berat keluar dari mulutnya.

---

"Daeng, tidak boleh membawa pasien begitu saja, pasien harus dirawat dan diobati, ini untuk kebaikan Appang sendiri pak. Kalo nantinya terjadi apa-apa terhadap pasien, pihak rumah sakit tidak bisa bertanggung jawab”

"Maaf Bu dokter. justru karna ini demi kebaikan dan kesembuhan anak saya, saya harus keluar dari sini dan harus segera membawanya ke sanro"

"Begini Daeng, Kesembuhan anak bapak akan lebih terjamin jika dirawat di rumah sakit ini, kami harap bapak tidak usah pergi ke sanro. Di sini aja"

"Ohhh, jadi kalau negitu kapan anak saya bisa di operasi Dok"?

"Silahkan selesaikan dulu transaksi biaya operasinya dulu Pak untuk biaya operasinya"

"Kalau begitu, biarkan kami bawa anak kami dok".

Keputusan itu akhirnya dipilih oleh Daeng Gassing, setelah melalui pertimbangan masak-masak. Meskipun masih terganjal dalam pikirannya yang masih ragu akan pilihannya itu. Dengan berat hati, Appang terpaksa harus meninggalkan rumah sakit untuk berobat ke sanro. 

Sambil melangkah keluar dengan menggendong anaknya, merasa tak punya hak menggunakan fasilitas rumah sakit, kursi roda pun tak mau  digunakan oleh keluarga Appang. Mereka terus melangkah keluar dari rumah sakit.

--
   
Dengan sangat lihai si sanro itu mengurut kaki kiri Appang. Tanpa melalui pendidukan formal yang dilegalkan oleh secarik kertas, hanya bermodalkan pengetahuan yang secara turun-temurun dari keluarganya. Tanpa mengetahui unsur-unsur yang terkandung dalam tulang yang disebut kalsium, yang dikenalnya hanyalah sebuah keyakinan untuk dapat menyembuhkan pasiennya. 
   
Sebatang-demi sebatang tulang yang patah disambungnya dengan menggunakan teknik urut. Tanpa pernah melihat sebelumnya foto rontgen dari dokter, namun sanro itu mengetahui dengan jelas bagian tulang mana yang mengalami kepatahan. 

Satu-persatu tulang yang patah disambungnya diiringi teriakan dari mulut Appang yang mengerang kesakitan. Teriakan kesakitan itu direspon oleh si sanro dengan semakin menggenjot kakinya yang patah itu. Seperti tiada kata ampun baginya.
  
 "Aduuuh, sudah hentikan"
  
"Sudah kamu diam saja. Mau sembuh nda?"
   
Daeng Gassing ditemani Daeng Tiro ikut memegangi kedua tangan Appang agar tidak terus meronta lagi, berusaha memberi keleluasaan kepada si sanro agar bebas mengurut.
  
Appang masih terus mengeram kesakitan akibat diurut, membuatnya tak sadar kalau pengobatannya yang secara tradisional telah selesai. 

Hanya butuh tiga kali diurut dalam sebulan, Appang akhirnya sembuh dengan total dan bisa berdiri kembali. 


Tentang Penulis :

Daeng Patanga. Penulis  saat ini masih berstatus mahasiswa asal kota Makassar.

Tidak ada komentar