boleh dilihat

HEADLINE

Lampung Barat Terus Canangkan Gerakan Literasi


DISKUSI PARA PENGIAT LITERASI LAMPUNG BARAT

Para pegiat literasi di Kab. Lampung Barat terus canangkan gerakan literasi agar menjadi bagian dari pembangunan karakter sekaligus menjadikan masyarakat memiliki pemahaman serta wawasan terhadap dunia literasi.

Pemerintah Kab. Lampung Barat juga berperan aktif dalam rangka untuk menciptakan iklim literasi di wilayah ini. Salah satunya adalah dengan merangkul segenab unsur serta elemen masyarakat yang menjadi pegiat literasi seperti aktivis rumah baca, seniman sastra, unsur pendidik serta pihak pihak terkait.

Selasa 12 Februari 2019, dilaksanakan persiapan agenda FGD dalam rangka penyusunan roodmap gerakan literasi kabupaten Lampung barat di kantor UPT Kebon Raya Liwa dipelopori oleh Balitbang, dalam moment ini semua pihak menyambut baik serta memiliki respon positif untuk kemajuan dunia seni dan budaya Lampung Barat.
Acara ini digelar di Kebun Raya Liwa agar para peserta bisa menikmati pemandangan indah dan memunculkan ide kreatif dalam membangun dan pengembangan Lampung barat sebagai kabupaten literasi. Diskusi, bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi serta meningkatkan daya saing masyarakat melalui penguatan ekosistem pendidikan yang dimulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

Para peserta dalam kegiatan diskusi ini sangat antusian menyampaikan ide ide kreatif, menjadi masukan yang baik bagi pemerintah dan para pegiat literasi untuk menentukan langkah langkah konstruktif ke depan.

Beberapa kegiatan yang telah dihasilkan adalah, terciptanya mars literasi, senam literasi yang sudah berjalan satu tahun oleh GLD Lampung Barat yang di ketua oleh Partini Parosil Mabsus. Di Lambar juga telah berdiri beberapa lamban baca yang tersebar di sejumlak kecamatan, salah satunya di Padang Tambak, Way Tenong, yang sekaligus disebut sebagai desa percontohan literasi.

SEKEDAR MASUKAN
UNTUK SEMUA PEGIAT LITERASI DI LAMBAR

Seperti kita ketahui bahwa literasi, secara sederhana bisa diartikan sebagai dunia baca dan tulis. Kegiatan literasi berarti adalah kegiatan membaca dan menulis. Untuk mewujudkan Lampung Barat sebagai wilayah yang 'literasi' indikatornya adalah, kelak di wilayah ini akan lahir banyak nama nama penulis, baik untuk jenis karya karya fiksi atau juga non fiksi. Seperti Pulau Madura, misalnya, Madura saat ini dikenal secara nasional sebagai daerah yang sangat ramai para penulis. Nama nama dari Madura bertebaran di sejumlah media lokal dan nasional. Karya karya fiksi seperti novel, Cerpen, Puisi, Prosa banyak dihasilkan oleh sastrawan sastrawan Madura. Selain seniman seniman kata yang sudah cukup lama bergiat di dunia tulis menulis, Madura juga menghasilkan penulis penulis muda yang produktif seperti Zainul Mutaqin, Saiful Bahri, Nurohman Alif, Sengat Ibrahim, Sugik M Sahar, M Gupron Holik, Zamil Hamzah, Muzamil, A Subki, A. Habiburohman, A. Zaini S, Ayat Khalili, Abdul Rasyid, Apipaturohman, dll. Nama nama ini terus menggebrak kancah kesusastraan tanah air.

Selain Madura, Kalimantan Selatan cukup kuat dalam kancah kesusastraan dan Literasi tanah air dengan sejumlah anak muda yang nama nama mereka sering muncul dalam buku buku antologi nasional. Juga Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat serta sejumlah nama dari Timur Indonesia.

Literasi, adalah membaca dan menulis, lebih detilnya merupakan palsafah "Jika anda rajin membaca maka berpotensi atau akan muncul bakat menulis' meskipun dari seribu orang yang membaca belum tentu seluluh orang yang kemudian menjadi penulis.

Artinya, apapun gerakannya dan kegiatannya, sangat kita harapkan kelak dari Lampung Barat banyak lahir nama nama penulis yang kuat serta turut meramaikan kancah literasi nasional. Dari para penulis ini akan lahir banyak karya, banyak buku serta kegiatan kegiatan orasi budaya yang akan membawa pikiran pikiran segar untuk masyarakat Lampung Barat. Para penulis hebat adalah sekaligus juga para pemikir hebat, koloni manusia inilah yang sangat kita harapkan kelak menjadi ruh ilmu pengetahuan yang akan memberi warna bagi Lampung Barat kita. Kita belum bisa menyebut diri sebagai wilayah yang literasi, bila perpustakaan daerah dan sekolah sekolah atau rumah baca kita, buku buku yang tersedia masih dipenuhi oleh karya karya dari penulis luar. Karena itu, "Membacalah, menulislah, baru kemudian berliterasilah.."


(Liputan: Titin Ulpianti, crew Simalaba Biro Lampung Barat)

Tidak ada komentar