boleh dilihat

HEADLINE

Jangkrik Menyerbu Mekkah: FENOMENA LANGKA YANG TAK MASUK AKAL

(Beberapa petugas sedang membersihkan serangga yang menyerbu Mekkah)

Info hangat mendunia pekan ini datang dari jazirah Arab, tepatnya di Negara Arab Saudi, diperkirakan berawal pada Selasa (8/1/2019) kawasan Masjidil Haram, Mekkah didatangi ribuan serangga. Jangkrik jangkrik dalam jumlah besar ini tidak hanya menyerbu Mekkah saja tetapi juga sejumlah wilayah lain di Saudi Arabiah.

Kepala Departemen Perlindungan Tumbuhan Fakultas Pangan dan Ilmu Pertanian Universitas King Saud, Hazal bin Mohammed al-Zafar memperkirakan terdapat 30.000 serangga jenis jangkrik yang menginvasi Mekkah. Lembaganya juga mencatat bahwa kawanan yang lebih besar dapat mencapai ratusan ribu ekor.


Sungguh ini merupakan fenomena yang terbilang langka. Di negeri kita Indonesia, jangkrik sebenarnya bukan jenis hewan yang dominan hidup berkoloni, kecuali saat musim kawin atau beberapa saat setelah telur menetas menjadi larva. Serangga jenis ini juga memiliki masa hidup yang terbilang singkat, sejak telur hingga menjadi jangkrik dewasa, serangga ini memliki usia paling lama tiga (3) bulan untuk jenis jangkrik yang biasa diternak oleh para petani serta dijual untuk pakan burung. Tetapi untuk beberapa jenis jangkrik yang hidup di alam bebas memiliki usia sedikit lebih panjang serta ukuran yang bervariasi tergantung spesiesnya.

Simalaba ingin menguraikan sedikit hasil observasi tentang kehidupan jenis serangga yang bernama jangkrik ini, sebagai berikut:

Jangkrik, serangga ini jenis hewan yang berkembang biak dengan telur, dimana betina betina matang akan menempatkan telurnya pada media tertentu. Jangkrik betina memiliki ciri khas, terdapat sejenis alat untuk mendistribusi telur pada bagian belakang tubuhnya. Alat ini berbentuk seperti pedang dengan bagian paling ujung lebih runcing agar memudahkan jangkrik untuk menacapkan alat tersebut ke dalam media penyimpanan seperti pasir, tanah atau lainnya. Alat distribusi telur ini terdapat rongga pada bagian tengahnya yang juga berfungsi sebagai organ reproduksi sekaligus organ s3xua1 sang betina dewasa.

Sementara jangkrik jantan bagian belakang tidak memiliki hal tersebut di atas, namun jangkrik jantan memiliki karakteristik lain yang juga khas dengan bunyi berderik untuk memanggil betina betina matang. Suara derik ini ditimbulkan oleh dinamika getaran yang terdapat pada kedua sisi sayap bagian dalam pejantan, sedangkan betina tidak memiliki suara berderik. Pejantan yang siap kawin biasanya akan mengeluarkan music khasnya (berderik) nyaring pada malam hari. Sinyal ini akan memancing betina untuk mendekat serta berupaya menemukan sumber suara, hingga terjadilah sebuah aktivitas percintaan. Uniknya, saat melakukan ritual percintaan tersebut, jangkrik betina akan mengambil posisi pada bagian atas tubuh pejantan sementara pejantan standby pada posisi di bawah. Itu sebab dalam ulasan ini Simalaba ingin menyebut bahwa jangkrik betina adalah subjek dan pejantan adalah objek. Selesai mengawini jantan yang matang ini, betina akan pergi mempersiapkan calon calon telurnya beberapa hari untuk disimpan pada tempat yang aman sementara pejantan tangguh akan kembali berderik untuk memanggil betina-betina matang yang lain, hasil riset yang pernah dilakukan crew Simalaba berhasil mencatat bahwa pejantan yang sehat bisa dikawini oleh 4 sampai 5 betina yang matang dalam satu malam.

(Beberapa jangkrik betina sedang menyimpan telurnya di dalam tanah)

Betina yang siap bertelur akan terlihat dari bagian perutnya yang kencang membuncit disertai perilaku yang gelisah. Kemudian ia akan menancapkan pedang pada bagian belakang tubuhnya ke pasir atau tanah hingga kedalaman maksimal. Saat inilah telur-telur yang sehat akan didorong ke dalam media yang aman serta tidak tampak dari permukaan.

(telur jangkrik dalam jumlah besar hanya akan bisa dikemas oleh peternak)

Antara 5 sampai 7 hari, larva-larva berukuran seujung jarum akan menetas. Kemudian bayi bayi jangkrik ini berupaya keras untuk keluar dari tempat persembunyiannya menuju permukaan tanah atau pasir. Saat inilah koloni pertama larva akan terbentuk tetapi itu tidak berlangsung lama sebab jangkrik sendiri sebenarnya adalah hewan yang lebih bersifat oportunis. Di alam liar, jangkrik akan menggali lubang tanah sebagai tempat persembunyiannya, dimana pada satu lubang biasanya akan dihuni oleh jangkrik jantan dan betina dalam jumlah yang sedikit, pada wilayah teritorial inilah pasangan akan melakukan aktivitas reproduksi. Sangat berbeda dengan serangga jenis semut, lebah, rayap atau laron yang memang memiliki insting berkoloni dalam jumlah besar.

Dari uraian di atas, bisa kita pahami bahwa ribuan jangkrik yang menyerbu Kota Mekkah adalah sebuah fenomena yang tidak masuk akal. Sekali lagi, bahwa jangkrik bukan serangga yang biasa berkoloni seperti semut atau lebah. Fakta lain yang juga tidak masuk akal adalah mobilisasi jangkrik tersebut. Jangkrik bukanlah serangga yang memiliki kemampuan hijrah pada jarak yang jauh mengingat alat gerak dari serangga ini bukan sepenuhnya terletak pada sayap tetapi lebih mengandalkan sepasang kaki belakangnya yang berfungsi sebagai tuas untuk memobilisasi tubuh mereka berpindah dengan gerakan cepat menghindari bahaya, dalam kondisi tanpa ancaman jangkrik akan memilih berjalan merayap dengan kaki kakinya, seperti kecoa.

Informasi yang berkembang saat ini menyebutkan bahwa jangkrik dalam jumlah besar menyerbu Mekkah sangat sulit diterima logika, beberapa fakta tak lazim bisa kita simpulkan sebagai berikut:
  • Bagaimana mobilitas serangga tersebut bisa sedemikian jauh? nyaris mustahil jika tanpa bantuan manusia!
  • Jangkrik dalam jumlah besar hanya ada pada lokasi lokasi peternakan jangkrik sebab manusia mengurungnya dalam box tertentu yang membuat serangga ini tidak bisa pergi jauh
  • Jangkrik dalam jumlah besar dan berkeloni hanya bisa terjadi bila telur dalam jumlah besar pula dikemas oleh manusia dan ditetaskan dalam media tertentu (buatan manusia) sebab di alam  bebas jangkrik hidup hanya dalam koloni-koloni kecil dan akan berpencar setelah tumbuh dewasa, sangat mustahil ada telur dalam jumlah yang besar tanpa campur tangan manusia atau peternak


(jangkrik di alam bebas bersifat oportunis dan teritorial, jarang sekali berkoloni)

Kesimpulan redaksi, fenomena yang terjadi di Masjidil Haram beberapa hari lalu menimbulkan tanda tanya besar, semoga fakta fakta yang kami suguhkan ini bisa menjadi inspirasi bagi para ahli untuk melakukan penelitian serta riset lebih lengkap. Yang terpenting adalah, kita tidak bisa berspekulasi itu dan ini terkait peristiwa ganjil tersebut tanpa dilengkapi dengan ilmu serta informasi yang benar, terlalu dini bila ada pihak-pihak tertentu kemudian menghubung-hubungkannya dengan akhir zaman dan sebagainya. (Riduan Hamsyah/crew redaksi).

Tidak ada komentar