boleh dilihat

HEADLINE

KOPI SEPI_Puisi-Puisi Almer Kasa(Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini untuk memberi ruang bagi sahabat pemula Dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)


Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.



KOPI SEPI

"Hari ini begini sepi," gerutu kopi

Di barat, matahari mulai melangkah kaki
Tinggal rambutnya yang kuning di sepanjang pasir putih
Dikibas-kibaskannya, "Lihat rambutku, bibir merahku. aku cantik sekali," kata matahari memuji diri

Kopi itu tak kuasa melihat gerak-geriknya,
seolah-olah ia yang paling cantik dari kekasihnya yang sejak kemarin pergi meninggalkannya di sudut-sudut sepi

"Kau tak akan pernah cantik sebelum ia kembali ke sini."

Matahari utuh pergi
Kopi makin sepi

(2018)


JANGAN BUANG SEMBARANGAN!

Ia seorang yang memutuskan untuk jadi pemulung
Sepanjang malam ia di jalanan
mengunjungi taman, perpustakaan, anjungan, atau segala tempat yang masih bisa ia simpan dalam ingatan

"Di sini kau dapati yang kau cari," kata bangku Taman
"Di sini juga ada!" seru Anjungan dari kejauhan 
"Aku juga punya." Perpustakaan tak mau kalah

Dikumpulkannya semua yang ada
hingga penuh saku-saku celananya

Tempat terakhir yang ia kunjungi adalah kuburan;
Tempat segala yang pulang.
"Sayang, jangan buang kenangan dengan sembarangan," ucapnya memeluk batu nisan 

Bunga Kamboja gugur,
Kenangan-kenangan terkubur.

(2018)



BANGKU TAMAN

Bangku taman bosan memandang aku yang mondar-mandir di depannya

"Sedang cari apa?" Ia menyapa membawa tanya
"Mencari dia yang kusimpan di sini sebelum senja datang," jawabku lantang
"O. Dia sudah pergi sebelum senja habis dijemput malam yang sepi.
Duduklah dulu mumpung aku sedang sendiri. Berharap saja dia tak datang dan duduk berdempetan, sebab bila begitu kau tak akan bisa pulang. Habislah kau didatangi malam-malam rindu yang panjang."

(2018)



MENGINTIP HUJAN

Di luar pagar hujan tengah reunian dengan kenangan,
mereka asik berbicara tentangmu

(2018)



RAYAKAN KEPERGIAN

Kekasih
Rayakan kepergian ini

Seperti daun yang tanggal dari ranting ditampar angin.
Daun tahu ia sudah m4ti, tetapi, kekasih, ia menyukai kem4ti4n itu
jatuh perlahan, melambai-lambai, menyaksikan langit yang begitu biru, menyaksikan jalan pulang yang begitu panjang, merasakan rindu di kuburan-kuburan pelukan.

(2018)


Tentang Penulis:

Almer Kasa suka menulis.

Tidak ada komentar