boleh dilihat

HEADLINE

ARLOJI RINDU_Puisi Puisi Hendrawan Nur Mardiyanto (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk
tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


ARLOJI RINDU

kuperas air mata dalam bejana
meratapi setiap jengkal pemisah
jarak yang mengatakan dalamnya rindu
menembus dan meny4y4t urat hati
sekuntum rindu pada arloji
berputar mngisahkan
batas antara rindu dan benci
namun, diri ini tak peduli
kususuri jalan berduri
mencari obat rindu yang meronta dalam hati

Purwokerto, 15 September 2018



LAYANG LAYANG HARAPAN

harapan kugantung pada layang-layang
terbang tinggi membelah awan
benang tak sanggup menahan
terputus terombang-ambing hilang kendali

haruskah harapan kurelakan jatuh
dan mengganti yang baru?
sanubari mengisyaratkan tuk mengejar
layang-layang yang
membawa harapanku

Purwokerto, 19 September 2018



NGAJI PAGI 

di gedung itu waktu fajar
menggema suara suci
bersahutan tiada henti hingga
menemani mentari menampakan diri
cahayanya
mengisyaratkan telah kembali pagi
berbondong mereka pergi
dengan wajah berseri

Purwokerto, 19 September 2018


SEKUNTUM MALAM

di malam yang membekukan hati
aku masak butiran rindu dalam tungku
asapnya menyelimuti badan 
namun, bukan hangat yang kudapatkan
melainkan rindu yang mencekik terlalu kencang
menjadi teman dalam jahatnya malam
aku terbaring dalam kasur kecil
berselimut canda tawa dan
monolog kejahatan malam
dingin menusuk relung hati

Purwokerto, 15 September 2018



TEMPURUNG TAK BERDAYA

aku hanyalah sebagian bongkahan kelapa
tergantung disisi daun yang melambai
menguatkan tuk bertahan
dari hembus angin yang menghantam

detik berputar tak terasa
cengkir kiring meluncur meninggalkan cengkraman
menyisihkan tempurung yang sudah tak berdaya
sebagai pengingat lainnya

Purwokerto, 16 September 2018


Tentang Penulis:

Hendrawan Nur Mardiyanto. Kelahiran Banjarnegara, 14 September 2000. Beralamatkan di desa Banjarmangu, Rt 03 Rw I, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Ia menulis puisi lantaran kegemarannya membaca. Saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Purwokerto.

Tidak ada komentar