boleh dilihat

HEADLINE

SEMUA TENTANGMU ADA DI BULAN_Puisi Puisi Ispasier S(Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk
tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.




SEMUA TENTANGMU ADA DI BULAN

1
Di bulan-bulan ini,
aku sering bertatapan dengan bulan.
lalu kami memaku satu sama lain,
sehingga ia tak jatuh dari langit,
sedangkan aku tak jauh dari bait-bait
puisinya yang dingin.

2
Di bulan-bulan itu,
kamu dan bulan tak jarang bertukar pandang
sampaisampai, malam lelah dan memaksa bulan pulang
tapi kamu tahu
bulan tetap setia di langitNya
maka esok lusa kamu tunggu ia

Di bulan,
kamu mencari wajah sesiapa
sayang, bulan tak izinkan kamu melukis seseorang di wajahnya
sampai akhirnya
si dia tiba
tibatiba kamu damba

Sejak saat itu,
kamu tak menemui bulan
karena asik sendirian
menatap wajah si dia yang tak kunjung hilang dari langitlangit
juga dinding, laptop, bahkan gantungan kunci
sayang, bisakah kamu kembali menjadi pencari?
aku tak biasa menemui bulan sendiri

Ciswet, 2018 


PULANG


Aku ingin pulang
Mengantar malam menjemput siang
Bila kau dan kau terbiasa menyelam dalam gelap
Coba ajari aku sekejap

Aku ingin pulang
kusutnya kantung ini, biar kurapikan
bukankah mata tak butuh saku tambahan?

FIP dan Geger Asih, 2016




PERTANYAANKU


Kau akan, kau sudah: pergi
Kapan aku, aku kemana: kembali
Dia penjelajah
Dia pemimpi
Lalu siapa aku ini?

Oh….
Aku penonton yang hidupnya monoton
Terbiasa diam, terlelap, hilang dalam gelap
Hanya menyambut, menyemangati, m4ti

Kenapa?
Ada apa?
Lalu kapan?
Dari mana?
Barangkali terlalu banyak tanda
Tanya?

Ramai berkicau, takut memulai
Jadi kenapa
Masih saja
Aku bertanya
Entah pada siapa

Gegersuni, 2015



HUJAN YANG MENGETUK JENDELA


Hujan yang mengetuk jendela
adalah teman yang tlah lama kita tunggu
Membuat sungai kembali hadir
di pipiku, lalu mengalir ke telapak tanganmu

Hujan tak tahu apa-apa
Ia hanya beristirahat di kaca
Kitalah yang mengartikan kedatangannya ajaib memanggil kenangan
Kenangan kita: kau usap air mataku saat hujan tiba di jendela

Gang Dahlia, 2017


BANGKAI DALAM BINGKAI 

Hidup bersamamu membuatku merasa
hidup sebagai seorang yang tak biasa
karenanya, izinkan aku bertanya banyak
karena memendam membuat dada terasa sesak

Dek, mengapa kau tetap muda?
Menualah!
Aku akan menerima, pun jika ternyata dewasa tak membuntutimu
Jangan kau sok muda seperti ini!
Senang ya, membuatku tampak tua dan iri?

Dek, mengapa wajahmu tak kunjung berkeriput?
Bukannya aku tak suka kecantikan kulitmu
Aku risih dilirik mereka yang kiranya ingin sepertiku: hidup denganmu

Dek, apa susahnya sih tumbuh?
Kalau tak bisa ke atas seperti iklan itu, tumbuhlah ke samping!
Di sampingku, bukan di pinggir jam dinding butut itu

Ciswet, 2016



PENYEBAR HOAX



Hei hei, aku mati bahagia
karena berkelahi dengan
hidupku
di ketiak ibu

Ciswet. 2018


DATA DIRI PENULIS

Kuketik kuketuk kotakkotak
Nama pasar pasaran yang pas sesuai saran
Asik, aku bisa buat citraan

Tik, tik, tik….
Bunyi hujatan… di kepala
Menjitak jauh kalimat utuh
Menjadi kata nihil makna

Hari ini bekspes depresi
Merasa hidupnya kian tertekan
“Jarijari tak tahu diri!” begitu umpatnya pada jarijari
Lucunya, diwakili jarijari itu sendiri

Ih bekspes kayak itu rakyat
Sok tertekan, padahal gak kecil-kecil amat
Bisa kali, kasih tempat buat tambah dan sama dengan
Kasihan mereka kesempitan
Seperti itulah kata jarijari yang belajar nyinyir
Garagara sering menemaniku internetan

Tik, kuketik tuk setelah kuke
tuk, kuketuk kotakkotak yang ada di hadapan
mengakhiri puisi-puisi yang siap dilayangkan

Ciswet, 2018


Tentang penulis:

Ispasier S, lahir dan besar di Bandung. Kadang ketikketik di ispasier.wordpress.com



Tidak ada komentar