boleh dilihat

HEADLINE

MAKAN SIANG_Cerpen Artie Ahmad (Semarak Sastra Malam Minggu)


SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 33

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


Seperti kemarin, siang ini aku mengajak Gesit, putra keduaku makan siang di resto kesukaannya. Resto yang letaknya tak jauh dari rumah. Tapi seperti kemarin juga, wajah Gesit tampak muram. Gesit terlihat lesu meski aura wajahnya jauh lebih benderang dibanding biasanya. Bola-bola daging asam pedas kesukaanya dibiarkan saja terhantar di atas meja. Jus alpukat kesukaannya pun tak disentuhnya sama sekali.

“Makan dong, Gesit. Papa sudah memenuhi keinginanmu. Jangan 
merajuk terus,” aku mendorong piring di hadapan Gesit dengan lembut.

Gesit tidak menjawab. Dia hanya memandangku sebentar, lalu menunduk. Matanya menatap piring berisi bola-bola daging di hadapannya dengan hampa. Aku menghela napas panjang. Sudah beberapa hari belakangan aku menuruti keinginannya. Sudah lama Gesit menginginkan makan siang berdua denganku selepas pulang sekolah. Hari-hari sebelumnya aku tak pernah sempat, baru beberapa hari belakangan aku bisa menyediakan waktu untuk anak bungsuku itu.

“Dari kemarin kau tak makan makananmu. Apa kau mau memesan menu lain?” aku mengambil daftar menu yang masih ada di mejaku. 

Kali ini Gesit menggelengkan kepala. Aku memandang putra bungsuku itu dengan sedih. Entah sampai kapan dia akan memasang wajah muram seperti itu. Dulu, Gesit tak seperti ini. Dia anak lelaki yang selalu ceria. Matanya yang cerlang mampu memikat semua orang. Almarhumah istriku sangat menyayanginya. Amira, istriku itu sangat mendamba putra keduanya ini. Mengingat Amira yang telah pergi, hatiku menjadi demikian kecutnya. Andai Amira masih ada di sampingku, tentu dia bisa memberikan penghiburan untuk Gesit yang akhir-akhir ini sering terlihat muram.

Seperti kemarin, kami berdua lebih banyak menghabiskan waktu berdua dalam diam. Gesit tak banyak berkata-kata. Di meja yang sama seperti hari-hari sebelumnya, kami merasa saling asing. Aku merasa bahwa Gesit jauh berubah. Dia seakan memiliki dunianya sendiri. Aku memandangnya dengan rasa luk4 yang entah bagaimana bentuknya. Jujur, aku paham benar mengapa anakku berubah. Aku sebabnya. Aku lebih kerap memberinya sepi. Aku lebih sering membuatnya kecewa atas janji yang kuingkari. 

Seperti kemarin juga, bola-bola daging asam pedas dibiarkan saja dingin begitu saja. Dari tempat dudukku, aku memandang Gesit dengan masygul. Aku amati saja putra bungsuku itu. Gesit masih terdiam, dia seakan membatu. Aku tenggelam dalam renungan. 

***
Sepeninggal Amira lima tahun yang lalu, aku merasa begitu kesusahan mengatur waktu dengan kedua anakku. Pekerjaanku yang selalu menghabiskan waktu seakan tak membiarkan aku leluasa bercengkrama dengan mereka. Belum lagi waktuku untuk mengurus rumah tangga. Apa-apa saja yang dulu diatur Amira, sepeninggalnya akulah yang mengambil alih. Dari urusan rumah tangga sampai pendidikan anak-anak.

Awal kepergian ibunya, anak-anak memang berkubang duka. Gelis, putri sulungku sangat kehilangan ibunya. Gesit, dia memang terlihat berduka. Namun kedukaan Gesit tak lama, mungkin lantaran usianya masih muda. Awalnya aku takut apabila kehilangan Gelis, putriku itu sangat bersedih. Saban hari dia mengunci dirinya di dalam kamar. Acap kali aku melihatnya menangis seorang diri. Foto mendiang ibunya didekapnya erat-erat. Beban berat kehilangan ibunya sangat dirasa putri sulungku yang beranjak remaja. 

“Kenapa Mama pergi? Kenapa Mama cepat pergi, Ma?” erang Gelis setiap hari tatkala memandangi wajah ibunya di dalam bingkai foto.

Kadang, Gelis lama memandang foto keluarga. Dia meratapi senyum ibunya yang khas di dalam potret keluarga. Aku khawatir, bagaimana jika aku kehilangan putri sulungku itu. Berat badan Gelis merosot drastis. Dia kerap sakit. Saat-saat seperti itu, aku lebih banyak memberikan perhatian kepadanya. Tapi seiring waktu, ketika dia bisa mengendalikan dirinya, aku kembali ke duniaku yang lama. Dunia yang dipenuhi segala macam pekerjaan. Duniaku yang selalu sibuk dan sibuk.
*
Bukan kali pertama aku mendapat permintaan dari Gesit. Sudah seringkali dia memintaku menemaninya bermain, menonton bioskop, atau sekadar makan di luar. Tapi, pekerjaan yang menumpuk membuatku tak leluasa menghabiskan waktu bersama Gesit. Bahkan untuk akhir minggu, aku masih sibuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

“Kapan Papa mau mengantar Gesit berenang?” Gesit berdiri di samping meja kerjaku.

“Kapan ya? Mungkin Minggu depan,” aku menjawab tanpa menatap anakku.

“Katanya dulu juga Minggu kemarin. Tapi nggak jadi,”

“Papa sibuk, Dek. Minta tolong Mbak Gelis saja. Coba minta antar dia,”

“Papa gitu!” Gesit memekik.

Aku tersentak mendengar putraku berteriak.

“Jangan teriak begitu! Minta tolong kakakmu dulu itu.” Aku melotot ke arah Gesit.

Gesit terlihat cemberut. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentak, dia meninggalkan ruang kerjaku. Sampai esok harinya Gesit menolak aku sentuh. Dia seperti menghindar. Seringkali tak menjawab panggilanku. Gesit terlihat tak acuh. Aku meredam rasa kesal. Seperti yang dulu dilakukan Amira, aku mengalah.

“Begini, bagaimana kalau Minggu besok kita berenang? Makan di luar juga,” ujarku saat makan malam di rumah.

“Bawa bekal dari rumah saja. Dulu, kalau pergi satu keluarga Mama suka membawa bekal dari rumah,” sahut Gelis perlahan.

“Tak perlu bawa bekal dari rumah. Kita makan di luar saja.” Jawabku sembari melirik ke arah Gesit.

Gesit masih memendam rasa jengkel. Namun, dia terlihat antusias dengan rencana keluar satu keluarga itu. Tapi rencana tinggal rencana. Hari Minggu berikutnya aku masih berada di luar kota. Saat sampai rumah hari Selasa malam, aku mempersiapkan diriku untuk mendapat amarah dari anakku. Tapi dugaanku keliru. Gesit yang beberapa waktu belakangan kerap ngambek, pagi harinya terlihat begitu hangat. Dia duduk di hadapanku dengan mata bercahaya. Itulah kedua mata yang menjadi pujaan mendiang ibunya.

“Papa batal mengajak berenang. Bagaimana kalau kita makan di luar? Di resto ujung jalan sana itu. Tapi Papa jemput Gesit sekolah dulu. Papa jarang makan siang sama Gesit.” Ucap Gesit dengan mata yang penuh harap.

Aku setuju dengan idenya. Meski untuk mewujudkan makan siang bersamanya, ternyata jauh lebih susah dari dugaanku. Aku tak punya waktu menjemput Gesit sekolah. Makan siang bersamanya selalu tertunda.
***

Kami masih duduk di meja resto di ujung jalan. Gesit masih saja tak menyentuh bola-bola daging asam pedas kesukaannya. Aku mengamatinya dengan sungguh-sungguh. Gesit memang kerap ngambek, tapi baru kali ini dia terlihat benar-benar kesal kepadaku. Aku memejamkan mata untuk mengusir kantuk yang tiba-tiba datang. Tatkala aku membuka mata, Gesit tak ada di kursinya. Bangku di hadapanku kosong. Lebih membuatku terkejut, ketika Gelis sudah berdiri di sampingku.

“Gesit ke mana? Tadi dia makan bersama Papa di sini.” Ujarku terbata.

Gelis tak menjawab, dia hanya menuntunku keluar resto setelah meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja. Aku mengikuti Gelis dengan tatapan bingung. Dia mengajakku melintasi deretan pohon-pohon cemara. Aku sangat mengenal tempat ini.

Tak jauh di sana, tubuh mendiang istriku dibaringkan. Makam Amira. Gelis tak berbicara sepatah kata pun. Dia hanya membisu. Tapi kemudian aku tergugu. Di samping makam Amira, ada sebuah gundukan tanah yang basah. Aku menutup mulutku untuk meredam suara tangis. Di sela tangisku, aku memanggil-manggil nama putra bungsuku. 

***
Seminggu yang lalu, siang itu aku menjemput Gesit. Keinginannya untuk makan siang akan aku penuhi. Di seberang jalan, tepat di depan sekolahnya aku melihat kedua mata Gesit bercahaya. Inilah momentum yang dia tunggu. Makan siang bersama Papa. Entah terlalu bahagia atau tak sabar keluar denganku, Gesit menyeberang jalan begitu saja. Aku berteriak mencegahnya. Namun terlambat. Derit rem dan suara tumbukan benda keras yang ditingkahi teriakan banyak orang mewarnai siang itu. 

Aku semakin tersedu mengingat Gesit. Betapa menderitanya, tatkala memenuhi keinginan seseorang yang kusayangi setelah ia melebur menjadi bayang-bayang.

Salatiga, Januari 2018.


Tentang Penulis:

Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Saat ini berdomisili di Salatiga. Novel terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018.


Tidak ada komentar