boleh dilihat

HEADLINE

DOA HARI ESOK_Puisi Puisi Nurinawati Kurnianingsih(Sastra Harian)


Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



DOA HARI ESOK

Berlalu
Harap akan kasih sayangMu
Memaafkan segala waktu yang sudah berlalu
Kuharap doa esok
Tak seperti masa lalu

Al-Amin, 05  Agustus 2018

JARUM DAN BENANG


Setiap mengiringi cerita kita
Aku yang katanya penyebab sebuah luka
Padahal keburukan yang kau cipta
Aku yang lebih sering menambalnya

Kroya, 04 Agustus 2018




LAMPU TAMAN 


Aku 
Hanya lampu taman 
Menerangi banyak pasangan
Namun aku hanya diam

Bila ku lelah pada malam
Yang kuharap hanya bulan
Yang menerangi sejuta harapan
Jangan biarkan aku dalam kesunyian

Yang tak dirindukan jarak
Meski sajak-sajak meriak
Aku hanya lampu taman yang tak mampu berteriak
Bila kekasih bersorak-riak

Purwokerto, 06 Agustus 2018


DATANGNYA KUPU-KUPU


Kupu-kupu masuk dalam sebuah hati yang sendiri
Tanpa ada isyarat kau memberi semangat pagi
Serta memberi hal indah disetiap hari
Halnya seperti pelangi
Melukiskan cerita gelap menjadi warna-warni

Purwokerto, 06 Agustus 2018


MUTIARA ATAU BATU


Bila kutemukan cinta 
Maka aku hanya menemukan tempat yang nyaman di hatimu
Meski banyak batu 
Aku adalah yang selalu dicarimu
Di sepanjang waktu

Purwokerto, 06 Agustus 2018


JAM PASIR


Bila ku mau, segala yang berlalu ku putar kembali
Di isi lagi dengan kau yang sudah lama pergi
Menjauh dari kekosongan hati
Kurindu di saat sepi, sunyi dan hanya air mata tak kunjung berhenti
Andai kau
Sebuah waktu
Yang bisa dimau
Kan kuminta kau jangan jadi masa lalu

Purwokerto, 06 Agustus 2018


LANGIT MENANGIS
Seluruh kuberi 
Dari hati yang begitu luas dan suci
Kini, kau malah tinggal aku dalam gelap dan sunyi
Tanpa tanda-tanda akan pergi
Begitu kau tak mendengar isak air mata turun dari pipi
Hanya melihat aku senyum
Padahal air mata sudah terbendung

Purwokerto, 06 Agustus 2018


BENDERA KUNING


Aku memang yang tak bisa seperti dia
jauh dari sempurna
Aku memang sering membuat duka
Dan aku memang yang tak bisa kau terluka
Apabila kutulis sajak ini untuk terakhir kalinya
Agar kau bebas kemana perginya
Aku tak bisa apa-apa
Perlu kau tau aku sudah tak ada untuk selamanya
Hanya bendera kuning lambangnya

Brebes, 29 Juli 2018


MENUNGGU PELAUT MENJEMPUT

Kutidurkan tubuhku di hamparan laut 
Sambil kutunggu sang pelaut, datang menjemput
Kini tubuhku sudah disapa sahut air laut
Tak terasa malam sudah larut

Kusaksikan malam di ujung bibir penatian
Namun mulutku hanya diam kedinginan
Terbawa angin yang menyampaikan kerinduan
Di kesunyian

Kebumen, 27 Juli 2018


Tentang Penulis:

Nurinawati Kurnianingsih, lahir di Cilacap, 22 Juli 1999, mahasiswi IAIN Purwokerto jurusan Perbankan Syariah. Memiliki hobi mountenering dan makan bersama rekan-rekannya untuk menulis dan bertukar fikiran. Bergiat dalam berbagai komunitas antara lain, SKSP Purwokerto, Bilik Sastra Banyumas, Sahabat Jawa Tenggah, Saka Wira Kartika Koramil 03 Kroya( pengisi pemateri mountenering) dan seorang aktivis DEMA FEBI dan PMII Komisariat Walisongo.  Karyanya pernah publikasikan di UMAR, antologi Sasta Indonesia juga di media Simalaba

Tidak ada komentar