boleh dilihat

HEADLINE

SOSIS UNTUK SUCI_Cernak Titin Ulpianti (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



Aku paling tidak suka kalo bibi memarahiku. Dia selalu saja minta uang lebih banyak pada nenek apalagi nenek bilang kalau puasanya lancar sampai lebaran nenek akan memberi THR baju baru, sendal dan uang. Tentu aku makin semangat  berpuasa.

“Ibu, sudah jam 12. Aku buka sekarang ya?” sambil menunjuk jam dinding diatas  pintu kamar nenek.

“Nanti ya Suci, ini masih jam 11.”

“Tapi aku lapar Bu.” sambil memegang perutku yang bernyanyi.

“Makanya kalo sahur yang semangat,biar kuat sebentar lagi Suci mau masuk SD bukan? Sekarang main dulu ya.” Ini kesekian kalinya ibu berkata seperti itu.

Kebetulan ada Nadine dan Dila. Aku bermain masak-masakan dengan aneka rumput dan bunga yang ada di halaman rumahku. Sementara bibi Salwa asik memanjat pohon ceri.

Dila datang dan merebut  pisau  dari tangan, lalu dia pulang tampa mengenbalikan pisau itu.  Aku menangis tersedu-sedu,kemudian ibu datang dan memelukku.

Ibu membawa aku ke kamar dan menemaniku tidur siang.

Bibi datang membangunkanku. Di tangannya ada handuk kesayanganku.

"Suci bangun, kita mandi yuk.”

“Memang mau kemana Bik?”

“Kita nyore  sambil nunggu buka puasa. Mau ikut gak?”

“Jam berapa bik?”

“Jam 3, ayok buruan mandi”

“Sudah jam tiga, aku kan belum buka bik"

“Nanti saja, kita cari sosis yuk”

Aku bergegas ke kamar mandi, kemudian siap-siap bersama bibi yang sudah menunggu di atas motor kesayangannya. Ternyata, bukan hanya bibi dan aku. Sudah banyak teman bibi yang menunggu di lapangan kecamatan.

Bukan hanya berputar-putar di lapangan. Di sana banyak yang bermain sepatu roda dengan amat riangnya.

Bibi yang berbadan agak gemuk, dia ikut bermain sepatu roda. Disaat berbelok ia terjatuh, aku pun tertawa lucu.

“Bibi mana yang sakit?

“Gak ada Suci, sudahan dulu kita cari sosis saja. Ok!”

“Ok bik. Tapi, kata ibu-kan gak boleh beli sosis.”

“Gak apa apa. Yang penting jangan banyak banyak.”

Segera kami naik ke motor dan membeli sosis. Ternyata sudah banyak yang mengantri, aku lihat pisau di depan sudah habis dipegang masing masing pembeli.

Sudah hampir magrib. Dan aku belum mendapatkan bagianku.

“Mbak Amel aku pijam pisaunya dong.”

“Iya sih Mel. Gantian dong aku juga mau”

“Sabar kenapa sih Salwa. Kamukan gemuk masak gak tahan suruh nunggu sebentar. Mendengar itu penjual sosis  hanya ketawa saja.

Akhirnya sang penjual melayaniku. Mungkin kasian, karna aku paling kecil.  Dia menyuruhku memakan sosis yang sudah masak. Tapi, aku menolak karena aku berpuasa.sampai di rumah aku telat, kulihat ibu, nenek, kakek dan buyutku sudah mulai berbuka puasa. Ibu yang melihat kedatanganku dan bibi lansung melotot, kemudian  menyuruh kami berbuka puasa.

“Suci, Salwa. Besok lagi kalo nyore ingat waktu.”

“Iya mbak.” Ujar bibi.

“Besok gak usah beli sosis bakar lagi. Ngerti gak?”

“Iya.”

Perutku sakit. Aku menangis di pangkuan ibu,kemudian ibu mengambil sendok nasi plastik dan mulai membagi isi perutku yang kepenuhan.

“Ini untuk Bibi, ini untuk nenek, ini untuk kakek.” Berulang ulang ibuku membaginya. Mataku semakin mengantuk ketika bibi pergi teraweh bersama temannya.

Ketika terbangun. Tendengar  ibu memanggilku untuk sahur, aku di gendong dan disuapi Ibu. Dan segera tidur kembali.

***

Sudah seminggu aku tidak membeli sosis bakar buat berbuka. Aku tidak berani minta kepada ibu. Kebetulan nenek tidak ada dirumah, seperti biasa mencari uang.

Ibu sedang asik di dapur  memasak, bibi bermain  tempat mbak Amel.  Aku izin pada ibu mau puasa setengah hari. Perutku sakit sekali dan kepala terasa pusing. Kemudian ibu  menyuapi dan memberikan aku bodrexin.

Tidak terasa terdengar adzan magrib tapi aku masih berbaring  di tempat tidur.  Kulihat ibu dan bibi berbuka hanya berdua saja. Setelah selesai ibu mendekatiku.

“Masih sakit sayang perutnya?” sambil mengelus perut kemudian keningku.

“Sudah lebih baikan bu. Besok Suci mau puasa.”

“Iya sayang. besok Suci puasa full” sambil  tersenyum manis sekali.

Hari ini bibi dan aku tidak sekolah. Di kalender tanggal merah, jadi kami bermain di halaman rumah.

Awalnya kami bermain masak-masakan, kemudian bermain boneka di rumah Mbak Amel. Aku melihat bundanya membawa belanjaan. Mbak Amel menunjukan oleh oleh dari bundanya. Ternyata, bundanya membelikan satu bungkus sosis kesukaanku sayangnya Mbak Amel hanya pamer saja padaku. 

Aku pun menangis dan mengadu pada bibi.

“Sudahlah dek, jangan menangis. Kata ibu gak boleh makan sosis nanti sakit perut.”

“Satu saja bibi. Masa tidak boleh” sambil terus merengek pada bibi.

“Sudah diam, nanti kita beli ya” ujar bibi sambil membawaku pulang kerumah.

Masih  siang  bibi mengajak aku tidur Kami pun tidur siang.

Sayup terdengar suara ibu memanggil, ibu menyuruh kami mandi karna sudah jam 4 sore. Setelah itu aku dan bibi jalan jalan sambil menunggu adzan magrib.

“Ayo dek buruan,  sudah hampir magrib. Nanti kita si marah sama ibu. Bentar lagi nenek sampai rumah.”

“Iya bibi, tapi beli sosis dulu ya”

“Jangan nanti dimarah sama ibu Suci. Lagian bibi gak punya uang.” Dengan sedikit kecewa aku melangkah pulang bersama bibi.  Aku membayangkan malam ini hanya berbuka puasa dengan sayur asem dan ikan asin goreng. Aku sempat melihat ibu memasak itu tadi sebelum oergi bersama bibi.

Aku duduk  di dekat kakek sambil bermalas malasan di pangkuanya sambil menunggu adzan magrib. Sementara bibi membantu ibu menyiapakan makanan buat berbuka.

Adzan magrib berkumandang, aku dengan sedikit bermalasan mengambil nasi dan sayur asem buatan ibu.

“Kenapa Suci? Kok dikit banget makannya. Kan tadi sudah seharian puasa.ayo makan yang banyak.”

“Lagi malas Bu “

“Suciiiiiiii. Lihat apa yang bibi bawa” bibi mendekatiku sambil menyodorkan piring berisi sosis bakar kesukaanku.

“Sosisss” sorakku kegirangan. Apalagi sosis yang ada si hadapanku besar-besar. Tidak seperti milik mbak Amel yang dibelikan bundanya.

“Iya ini hadiah buat cucu nenek tersayang yang penting puasanya full ya sayang.”

Aku memeluk nenek dan berterimakasih. Langsung aku mengambil nasi dan melahapnya bersama sosis bakar hadiah dari nenek.

Ternyata puasa itu indah dan disayang keluarga. Akupun dimanja oleh nenek dan kakekku.  Ternyata ibu melarang karna ga boleh sering sering beli di luar takut sosisnya dah lama. Jadi ibu meminta pada nenek  untuk  membelikan sosis yang masih fresh dan si olah sendiri. Biar lebih terjamin.



Tentang Penulis :

Titin Ulfianti, karyanya berupa cerpen, puisi dan cernak diterbitkan di media simalaba.com. sekarang tengah bergiat di KOMSAS Simalaba Lampung Barat.

Tidak ada komentar