boleh dilihat

HEADLINE

ARSIR | Puisi Puisi Muhammad Irwan Aprialdy |

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 9 (2020)
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi minimal 5 judul untuk dipublikasikan setiap malam minggu
kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com
subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU.
Apabila dalam 1 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(karya yang dimuat diberikan honorarium)

ARSIR

petang tak matang. kepada siapa kau datang?
harian dosa kauselipkan di pinggang.
apa kabar duka yang tak kunjung redam?

seharian larutan suara terseduh di teh pagi.
menciptakan desakan demi desakan yang mesti
ditekan dalam-dalam ke sekotak rahasia
pada tubuh pecinta.

mulut-mulut terkatup; harga diri tersayat;
pukau yang terlambat; hidrasi lembar-lembar puisi
yang telah lumat.

kau arsir yang terlalu pekat kububuhkan
pada sketsa susunan anak tangga.
mengantar pasrah pada pendakian malam buta
yang tak genah.

sebab itu, penghapus kugantung seinci di atas
gegambar penunjuk waktu. memutuskan
apakah gelap mesti dibubuhkan, meski langit
sebentar ‘kan mendermakan benderang.

tapi memang aku selalu butuh remang.
setiap kolom harus diisi dengan dosa
berulang dari garda pencerita
berdada rumpang.

Banjarmasin, Desember 2019


PODIUM DI RUANG TAMU

di atas podium kau berbicara
tentang tata cara kepala berhenti
menunggangi mulut kepala lain.
bacakan ayat dan tatap cermin kejadian.
lalu, tiupkan ke ekor yang kau mamah itu.
adakah sekilasan kaulihat wajah anak
kehausan? menggaruk gurat di depan pintu,
mengetuk, dan dibalas sunyi yang menebal
dari jarak kamar ke ruang tamu?
ia tak meminta wastu, pun metah benih itu.
cukup waktu dan ruang tanpa debu,
untuk dia dapat menyimpang bayang
di dalam situ.

Banjarmasin, Desember 2019


NAFAS DAN LELATU

semua prakiraan bertiupan seperti angin.
siapa mengirim seamplop senja? kau kehilangan
lebih banyak dari pohon musim kemarau. hanya frasa
dan dua nama tergores di batang pohon. pengingat
bahwa cinta hanya menjadikanmu landasan. bukan Tuan.

kenangan membuatmu kehilangan lebih banyak
dari lahan gambut. kau mencari langu kekasih
pada ingatan dan udara keruh. tapi yang kau dapat
hanya asap. paru-paru yang digores tarikan nafas
di ruang terbuka.

bukan di dadamu. bukan pula di dadaku.
sebab, pada beberapa amsal dan pengulang kejadian,
kau bai’at diriku kau bai’at dirimu
sebagai pecinta bernafas lelatu.

semua yang terucap dan disimpan hanya kata
dari ladang pembakaran usia belia.

Banjarmasin, Desember 2019


BILA

bila kurampungkan segala soal dan lubang kekosongan
kukubur dengan torehan tak peduli. bila bayang pengiring
bukan perpanjangan dari tubuh beliaku. bila garmen bersih
mewangi kemangi dan matahari menyambutku sebagai anak hilang.
bila rumah hanya persinggahan dan pulang adalah bentang langit
berbatas samudera. bila wajah-wajah yang kukenal kulipat
di buku perjalanan. bila kota-kota diziarahi sebelum hari mati.
bila telur harus retak sebab gelap pembentukan harus membentur
celah kelahiran. bila luka sembuh tak meninggalkan bakteri
untuk infeksi esok hari. bila mataku pulih dari lingkar gelapnya.
bila suara bukan tentang tawa sia-sia. bila malam larut jadi
kelumun selimut. bila aku menyepi sebab tetangga lupa
menghargai pagi. bila tiap pencapaian bukan lagi tentang medali.
bila kekalahan bukan tentang kemalasan dan suhu dingin pagi.
bila kuhadapi kebisingan sambil menyembunyikan lelah
dan gumam gundah. bila kudaki luka tapi masih tak ingin pasrah.
bila perputaran gigi roda kukumpulkan pelumasnya untuk melicinkan
pelarian. bila semua soal hanya menyisakan satu abjad
untuk dihitamkan

maukah kau menjadi pensil yang membulat pasti.
tentang benar dan salah, itu hanya perhitungan nanti.

Banjarmasin, Desember 2019


KALONG

dingin menggigilkan sunyi yang coba kukibas
dari tahun-tahun yang terlepas dari pantauan mata ibu.
seekor kalong memamah jambu dan menggugurkan
sisa biji di sembarang tanah tak bertuan.

ada yang tumbuh. entah harus bersyukur atau menuduh.
dipupuki sisa pembuangan makna tanpa ada kuasa
memuntahkan diri dari liang kematian yang lain.

pohon-pohon berbaris bagai kediaman angin.
rumah-rumah berbaris bagai impian-impian licin.
malam mundur dengan gema terompet yang menyambut
datangnya langit bersih bersuhu getir.

ini jalan panjang dan apa yang tinggal diam hanya buah-buah
yang belum dirangsek tajam gigi kalong. biji-biji ditinggalkan.
tumbuh di tanah yang tak mengenal Tuan.

sudah kita berjalan, hari mendesak maju di landasan
yang bertambah licin.

Banjarmasin, Desember 2019


Tentang Penulis:
Muhammad Irwan Aprialdy, lahir di Banjarmasin, 28 April 1995. Puisi-puisinya telah diterbitkan pada harian Mata Banua, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, dan Media Kalimantan. Antologi puisi bersamanya Balian Jazirah Anak Ladang (2011), Kisah Tak Sudah Tanah Banjar (2012), Kepak Sayap Sastra Banua bagi Kemanusiaan (2013), Tadarus Rembulan (2013), Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014), Pena: Selaksa Kata (2015), Ije Jela (2016), Melankolia Surat Kematian (2016), Antologi Aruh Sastra XIV (2017), dan Antologi Tadarus Puisi Membumikan Langit (2018). Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univesitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Bergiat di Teater Dua Pijar, Kelompok Studi Seni Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, dan Kelompok Halilintar.


Tidak ada komentar