boleh dilihat

HEADLINE

PEREMPUAN BERHIJAB MENJUNTAI_Cerpen Q Alsungkawa (Semarak Sastra Idulfitri 1439 H)



Dinginnya iklim cuaca di Lampung Barat memang menjadi identitas di sini, gunung-gunung memagari kota dan desa-dasa. Setelah seminggu lamanya kembali dari Jakarta, sengaja aku mudik lebih awal agar lebih leluasa menjalankan ibadah puasa di kampung. 

Sudah jadi kebiasaan setiap pagi di beranda rumah aku duduk, merasakan sensasi angin gunung, melepas pandangan pada bukit-bukit hijau di ujung jauh, sungguh pemandangan seperti ini tidak pernah kujumpai di Metropolitan.

Sejauh ini ada yang luput dari perhatianku. Aku tidak menyadari kalau tetangga yang di seberang jalan antara rumahku telah menjual rumahnya dan dihuni oleh pembeli baru dari Ciamis-Jawa Barat, konon ia sudah lama berkebun di daerah kawasan Pematang Ribangan. Namun ada pemandangan yang tak seperti biasanya, ternyata tetangga baru itu ada anak gadisnya. Tentu ini berita bagus, apa lagi gadis itu memiliki paras yang sangat cantik dengan balutan syar’i, sudah bisa ditebak kalau anak gadis itu pernah lama mendekam di pondok pesantren. 

Sebagai lelaki yang cukup awet menjomblo, aku merasa betah disajikan pemandang yang menurutku cukup langka di belahan bumi sejuta pohon kopi ini. Naluriku terpacu untuk lebih jauh mendapatkan informasi yang akurat mengenai bidadari tak kasat mata itu yang muncul seolah mengisyaratkan warna baru, mungkin warna burik abu-abu akan bersalin rupa menjadi biru toska atau pink seliweran, lebih jelasnya warna di mataku bisa semakin terang dan tajam. Pikiran ini kembali dikuras begitu keras, mengkaji beraneka cara untuk bisa mendekati si burung camar yang kabur dari laut, gadis berkerudung tanpa cadar. Mungkin sekedar berkenalan atau mengenalkan kekagumanku pada makhluk Tuhan yang berhijab lebar itu. Menurut bisik-bisik tetangga lainnya ia gadis yang sikapnya sangat ramah kepada siapa pun yang kebetulan bertegur-sapa. Rasa penasaran semakin memuncak dibuatnya, tentu harus lebih melatih lagi insting, kepekaan sekecil apa pun informasi tentangnya, kuserap sebagai bahan mental, atau untuk menyikapi bila kesempatan itu menghampiriku.

Memang sulit untuk dikatakan sebuah kebetulan, sebab ada peran Tuhan di dalamnya sekecil apa pun peristiwa yang terjadi dicelah waktu, seperti pada suatu sore ketika aku sedang duduk bersantai sambil membaca puisi-puisi terbaru tahun 2018. Sudah cukup lama aku di buat gandrung oleh dunia literasi. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kemunculan sesosok gadis yang menggunakan jilbab lebar menjuntai, yang tak lain adalah penghuni baru tetanggaku. 

“Assalammualaikum,” suara lembut itu memberi salam.

“Waalaikum salam,” spontan aku menjawabnya.

“Maaf, apakah ibu, ada?”

“Oh, ada tuh lagi di dapur sedang bikin kolak, silahkan langsung masuk saja”

“Oh, iya a, terima kasih.”

Kemudian ia masuk. Aku menajamkan telinga berharap bisa menguping apa yang gadis itu bicarakan dengan ibuku, tetapi memang sulit untuk menyadap apa yang mereka bicarakan di dapur karena jaraknya cukup jauh. Namun selang beberapa lama ibuku muncul diikuti si gadis berparas cantik itu. 

“Al, tolong ambilkan daun pandan di kebun belakang,” perintah Ibu, yang pastinya tidak bisa ditawar.

“Baik bu, berapa banyak yang dibutuhkan?”

“Ambil saja beberapa puluh helai, dan jangan lupa rumpun pandannya gak jauh dari gubuk sebelah barat”

“Iya bu.”

Aku stater motor dan meluncur meninggalkan sepasang mata indah yang sekilas kutatap untuk bekal berpikir di kebun sambil menunaikan tugas negara yang tak bisa ditolak. Sejatinya aku senang dengan tugas ibu pertiwi untuk mencarikan daun pandan, setidaknya aku mulai menemukan jalan agar-supaya mengenal gadis yang baru beberapa hari ini mencuri perhatianku. Tak habis waktu 20 menit, aku telah kembali dengan membawakan setumpuk daun pandan.

“Langsung antarkan ya al, daun pandannya ke rumah si neng yang tadi ke sini,” ucap Ibu menambahkan perintah. 

“Baik bu.”

Tanpa menyanggah perintah ibu, aku bergegas ke rumah tetangga. Ini peluang bagus, dan tak baik menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih mengenal anak gadis tetangga yang mulai merasuki pikiranku. Setibanya di rumah yang dimaksud, pandanganku hinggap pada anak gadis itu sedang duduk di depan rumah dengan memegang sebuah buku. 

“Assalammualaikum, neng.”

“Waalaikum salam, a, eh aa sudah pulang dari kebunnya?”

“Sudah, dan ini pesanan daun pandannya neng.”

“Eh, terima kasih banyak a, maaf ya jadi ngerepotin.”

“Gak apa-apa atuh neng, biasa itu namanya juga sama tetangga.”

“Sekali lagi terima kasih banyak a, sudah mau direpotin.”

“Santai saja, tidak apa-apa neng, oh iya, kalau boleh tau siapa namanya neng?”

“Hmmm, nama saya Elis Yuningtias, biasa dipanggil Elis.”

“Nama yang indah dan cantik, secantik orangnya.”

“Eh, aa, mah curang, aa, sudah tau nama saya tapi saya gak tau nama aa?”

“Oh iya, Neng Elis, boleh panggil saya Abun.”

Percakapan yang cukup renyah untuk sebuah awal pertemuan. Sepertinya aku harus lebih menajamkan lagi gaya bicara, setidaknya biar tidak terlihat monoton dan kaku di depan gadis yang tentunya bukan gadis biasa. Sungguh Ramadhan ini penuh keberkahan, dan aku sangat beruntung mudik lebih awal, di samping lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga,di kampungku ini udaranya sangat segar jauh banding dengan udara di kota yang sudah tercampur aroma pertikaian hidup, dari asap knalpot hingga cerobong pabrik berbaur dalam satu wadah menjadi denyut jantung dan bersarang di paru-paru orang orang yang bermukim di kota kota.

Setiap aku mau berangkat ke mesjid untuk menunaikan tarawih, aku selalu menunggu di sebuah kedai kecil di dekat mesjid, selalu berharap mendapat kesempatan untuk sekedar bertegur-sapa dengan gadis yang selalu menggunakan hijab lebar menjuntai. Tetapi lagi dan lagi gadis itu selalu berangkat ke mesjid bareng kedua orang tuanya bahkan bareng beberapa orang tetangga lainnya. Namun aku tak pernah putus harapan setidaknya aku dapat melihatnya dari sisi yang tersembunyi itu pun cukup mengguncang degub jantungku. Ya aku cukup sadar dan bener-benar paham jika ia seorang gadis yang sangan berbeda dengan kebanyakan gadis lainnya, ya tentunya butuh perjuangan dan kesabaran yang ekstra keras.

Aku tidak tau hasilnya akan seperti apa bentuk perjuanganku, yang kuyakini hutang manusia adalah bepaya dan berikhtiar, dan aku tidak harus menunggu sebuah kebetulan atau pun keajaiban yang menghampiri, tetapi aku masih mengimani tentang rencana Tuhan yang hingga saat ini belum terpecahkan misteri apa yang hinggap di kehidupanku, yang kurasakan saat ini semua pikiranku mengarah kepada gadis tetangga yang berhijab menjuntai, tiada hari yang terlewatkan tanpa kepikiran gadis cantik bersuara merdu itu, setiap ada waktu lenggang ia selalu melantunkan ayat-ayat suci Alquran, sungguh suara itu selalu berdenging di telingaku menancap ke celah ingatan dan mengaduk-aduk manusiaku.

Baru kali pertama aku menemukan gadis yang membuatku mati gaya, padahal aku tergolong yang mudah untuk bergaul bahkan terbilang mudah untuk menaklukan hati gadis-gadis pada umumnya, akan tetapi gadis tetanggaku sangat lain dari yang lain, mungkin karena ia anak pondokan yang auratnya serba tertutup menandakan ia sedang melindungi dirinya terutama dari tatapan-tatapan jahil hingga semua mata yang menatapnya timbul rasa hormat dan membuang jauh-jauh sikap yang arogan. Sungguh pikiranku ini sulit untuk dialihkan, atau menganggapnya biasa, karena sejatinya gadis birjilbab menjuntai itu sangatlah luar biasa, hanya dengan menatapnya dari jauh saja sudah mengalirkan kedamaian.

***

Gema lebaran tinggal menghitung hari, aroma minyak panas terus menyengat dari dapur-dapur para tetangga terdekat hingga terjauh, dan setiap sore berseliweran orang orang yang membawa rantang nasi berkunjung ke sanak saudara, mempererat ikatan persaudaraan tentunya pemandangan ini hanya dibudayakan di kampung dan dusun, tidak berlaku di kota kota besar yang mana orang orangnya sibuk dengan urusan masing-masing. Suasana kampung inilah yang memicu aku lebih awal mudik. Suasana Ramadhan yang begitu tenang.

Aku ingin suasana lebaran ini akan menjadi lebaran yang terindah sepanjang hidupku, dan aku ingin memberikan bingkisan yang cukup berarti, selain buat keluargaku sendiri aku ingin memberi cinderamata buat gadis tetanggaku yang selama aku mudik ia telah banyak menyita perhatianku. Senja itu aku memacu motor jalan-jalan  menuju Sumberjaya, menyelusuri setiap pertokoan, keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya, hingga seluruh kebutuhan yang kucari terpenuhi. Di samping itu tentu ada yang lebih spesial sengaja aku meminta pelayan membungkusnya dengan kertas kado karena itu satu hadiah yang ingin kuberikan pada gadis tetanggaku sebagai pengganti dari pembicaraanku yang tak mampu terucapkan secara langsung. 

Menjelang buka puasa ibuku sudah menyiapkan beberapa renteng rantang nasi yang akan dibagikan ke tetangga, tentu kesempatan itu tak kusia-siakan, sekalian mendayung dua tiga pulau terlampaui, kutitipkan kepada adik perempuanku yang bertugas membagikan rantang-rantang itu. Setelah cukup bernegosiasi dengan sang adik akhirnya ia cukup mengerti apa yangku maksud dan tentunya bukan adikku namanya jika tidak mempalak aku dengan memanfaatkan peluang yang ada. Selembar pecahan seratus ribu, adikku menyetujui dan menjanjikan semuanya beres, lalu setelah aku sodorkan bungkusan kado itu lengkap kartu ucapan di dalamnya, adikku berlalu dengan senyum penuh kemenangan.

Semenjak paket spesial itu dikirim, aku jarang melihat gadis yang selalu ingin kulihat dari beranda rumahku. Pikiranku berkelana, menafsirkan banyak andai-andai, mungkin saja ia tersinggung atas kirimanku tenpo hari itu. 

Andai saja aku cukup memiliki kesempatan untuk mengutarakan isi hati ini, begitu banyak warna hati yang ingin kutunjukan padamu Elis, tetapi semua itu hanya mengental di balik dada ini. Aku cuma jujur atas perasaanku ini, dan tak ingin mendustai rasa dari manusiaku ini.’

“A, gimana, sudah direspons belum sama si teteh cantik tetangga kita itu?” celetuk adikku di suatu sore ketika sedang duduk santai.

“Hmmm, belum, jadi merasa serba salah aku dik,” aku menimpali dengan sedikit malas.

“Semangat atuh a, jangan pesimis gitu.”

“Dia itu tipenya lain dik, langka gadis di zaman sekarang yang menjaga kehormatannya dengan menutupi auratnya.”

“Pastilah a, kan si teteh itu anak pondokan, tentu akhlaknya sudah tertata rapi.”

“Maka dari itu, aa, gak cukup banyak jurus yang ampuh untuk membuatnya luluh.”

“Tapi a, si teteh itu pantas diperjuangkan.”

“Iyasih dik, dia layak diperjuangkan sampai tetes keringat paling akhir hehehe.”

Terasa begitu singkat Ramadhan Tahun ini. Ya, karena yang terasa begitu lama adalah menanti jawaban dari gadis tetangga. Sebab apa pun yang terjadi hari ini aku pasti mendapatkan jawaban.

Pagi sang ceria, puncak dimana semua umat muslim berbondong-bondong menuju mesjid untuk menunaikan solat id, menyambut hari kemenangan yang selama sebulan penuh diperjuangkan, bertikai dengan lapar, menekan tenggelam hawa nafsu dan meningkatkan ketaqwaan agar terus meningkat. Sengaja aku duduk di beranda rumah dan mengarahkan pandanganku ke pintu tetangga dimana di balik pintu itu sesosok yang selalu kukagumi bersemayam di dalamnya. Dan penantianku membuahkan hasil ketika pintu terbuka dan sosok lelaki paruh baya muncul dengan baju koko dan peci putih meskipun belum berpredikat haji, lalu dibelakangnya ibu baruh baya juga dengan stelan gamis, dan beberapa menit kemudian munculah sesosok yang selalu kuidamkan muncul dan menggetarkan jantungku, bahkan nyaris copot, ternyata sang gadis pujaan muncul dengan busana yang aku bingkiskan, sebagai kado lebaran, betapa cantik dan anggunnya gadis itu, semua yang dikenakan serba pas dan kerudung yang menjuntai yang menjadi ciri khas penampilannya, ternyata aku tak salah memilih warna biru dari kerudung hingga gamis model terbaru dengan hiasan renda berbunga-bunga dan ada sulaman tapis, kain khas Lampung Barat, dan keseluruhannya sangat layak jika ia disebut peri biru ala muslimah. Hatiku berkecamuk tak karuan, antara rasa senang dan kaget, seolah apa yang nampak di mataku adalah hayalanku saja, tetapi berulang-ulang aku meyakinkan diri, menggisik-gisik kedua mata, ternyata kejadian ini bukan mimpi, mungkin hanya sedikit ajaib saja, atau inilah jawaban dari Tuhan atas doa-doaku. Lalu aku pun bergegas menuju mesjid untuk menunaikan solat id, dengan perasaan penuh kemenangan.

Suasana lebaran yang tak pernah kuterka sebelumnya, jika lebaran ini menjadi yang terbaik di antara lebaran-lebaran sebelumnya. Setelah sungkeman terhadap orang tua dan sanak-saudara aku bergegas mengunjungi para tetangga untuk mempererat silaturahmi antara umat muslim dan atara tetangga, tradisi ini sangat lazim di kampung-kampung. Hingga tibalah aku di rumah tetangga yang sangat spesial, sejenak aku berdiri di halaman rumah, memompa semangat fisabilillah, menarik nafas begitu dalam dan melafalkan doa-doa terdesak. 

“Assalammualaikum,” kuhaturkan salam tanpa mengetuk pintu. 

“Waalaikum salam,” beberapa orang menjawab salam. 

Selang beberapa detik ia yang muncul dari balik pintu yang cuma terbuka separuhnya saja. Gadis impian begitu menawan dibingkai lawang pintu, rautnya nampak sedikit grogi, dalam hitungan beberapa kali tarikan nafas ia kembali menguasai dirinya, begitu juga dengan yang menyerang diriku rasakan seperti tersengat hantu cantik, sambil membukakan pintu sepenuhnya peri biru di hadapanku mempersilahkan aku masuk.

Sungguh sulit untuk dilukiskan kegembiraan ini karena bisa menguasai diri, dari kikuk dan pikuk, penyakit yang entah apa namanya yang suka menyergap secara tiba-tiba dan biasanya hanya menimbulkan mati gaya. Seusai sungkeman kepada kedua orangtuanya dan mencicipi beberapa macam kue lebaran, lalu aku mohon diri untuk pulang, tetapi sebelum pulang kuserahkan secarik kertas ke peri biru. Penuh keraguan ia menerimanya, dengan harap-harap cemas, semoga ia sudi membaca dan membalasnya.

Memang betul kata nenekku “Menunggu satu urat tubuh yang mati, dengan bersabar, sepertiga masalahmu terjawab.” Ya, tidak mungkin gadis penghuni hatiku ini, bisa dengan mudah mengambil keputusan tentunya banyak menimbang jalan. Jalan yang sebelumnya belum pernah ditempuh, sebab syarat makna dan bukan prihal mudah untuk menyimpulkan jawaban. Lagi pula jika pun ia mengabaikannya itu bukanlah kejahatan.

Senja hari di hari pertama lebaran, dimana suasana masih kental maaf memaafkan, saling mencicipi aneka masakan dari kue kering hingga kue basah, dari ketupat hingga soto bliak-blakkan, dan masih banyak jenis makanan khas daerah, baik yang sudah dikenal secara nasional atau hanya mengendap di budaya lokal. Sedikit manja adik perempuanku menghampiri. Aku mulai menerka jurus baru apa lagi yang adikku mainkan untuk menguras dompetku.

“Aa, mau berita paling terkini nggak?” Ucap adikku sambil menunjukan secarik kertas. 

“Nggak ah, emangnya aa tukang gosip apa,” timpalku seolah tak tertarik. 

“Yakin ..., nggak mau baca surat dari si teteh cantik yang tadi pake kerudung biru?”

Sontak aku kagen dan ingin meraih secarik kertas dari tangan adikku, tapi dengan cekatan ia menepis tanganku. 

“Eiit ..., tak semudah itu a, wani piro?” sambil menirukan iklan di tv

Tampa pikir panjang kuulurkan uang seratus ribu, karena aku tidak akan menang jika berdebat dengan adikku yang satu ini.

“Hhheee, terima kasih a, ini suratnya,” sambil menberikannya padaku, kemudian ia mencium pipiku dan berlalu.

Secepat kilat surat di tangan kubuka, kemudian membacanya, tetapi kupastikan dulu siapa yang bertandatangan di surat itu. Lama merenung, menafsirkan kalimat perkalimat hingga aku benar-benar paham. Sungguh Ramadan yang paling berkah, hikmah dari kesabaran ini membuahkan hasil. Dengan dijawabnya suratku oleh peri biru, yang akhirnya aku memutuskan untuk melamarnya, sesuai yang tertera di surat balasan “Jika perkara itu baik, tak baik lama menunda, segerakan itulah jalan yang diridhoi Allah.” Ya, ini adalah perkara yang baik, tidak melanggar hukum negara, dan dianjurkan dalam islam melalui aturan-aturannya. 


Lampung Barat, 8 Juli 2017.


Tentang Penulis : 


Q Alsungkawa, lahir di Tasikmalaya dan besar di Lampung Barat. Tulisannya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di sejumlah media, tergabung juga dalam buku MY HOPE 2017, EMBUN EMBUN PUISI, MAZHAB RINDU, EMBUN PAGI LERENG PESAGI, ANTOLOGI LANGIT SENJA JATI GEDE (Sumedang)  dan yang terbaru EPITAF KOTA HUJAN (TPAT) SENYUMAN LEMBAH IJEN (Kemah Sastra Banyuwangi) ANTOLOGI ANGGRAINIM, TUGU DAN RINDU (tugu Sastra Pematangsiantar) ANTOLOGI PUISI SOEKARNO CINTA & SASTRA. (Bengkulu) ANTOLOGI SEPASANG CAMAR (Semarak Sasta Malam Minggu SIMALABA)  dll. Saat ini aktif sebagai pengurus di Komunitas Sastra (KOMSAS SIMALABA) Lampung Barat.

Tidak ada komentar