boleh dilihat

HEADLINE

Edisi Kamis, 07 September 2017_ PUISI PUISI ENDANG A (Jakarta)


SUDAH MELEWATI WAKTU

Pikiran ini telah jauh merantau
mencari kalimat d antara patahan hujan
tetapinya terlalu dini untuk berkelana
sebab khatulistiwa tidak membuat hangat perjalanan.

Udara dari semak semak memicu rasa untuk kembali berepisode
mengenang jejak bunda 
saat waktu masih memancing hasrat untuk mencari mantra
yang diam diam menyentuh kalbu di ruang rapat.

Kemudian membaringkan tubuh
sejenak
sebab letih ini lama menguap
di tahun lalu
tanpa ada angin memasukin pintu pintu kesementaraan.

Wahai dunia yang cahayanya sempat kukagumi
aku ingin menggelar sajak
pada lipatan waktu, di mana napas kita pernah menjadi satu.

Jakarta, 5 September 2017.



MENUNGGUMU DI UJUNG BATU

Engkau telah paham benar jalur kita telah keramat
lama melupakan bahasa bunda
tentang hati
nyaman, menyentuh dan serasa damai.

Semenjak merangkak maju menuju jaring jaring dunia
melewatkan sujud
hingga tumbuh, menjamur dan malas
untuk sejenak bercengkrama dengan puji pujian di atas sajadah
meski berulang ulang azan memanggil 
teracuhkan.

Hari ini, kutunggu di ujung batu
sebab cerobohnya sebuah transportasi
tumbang nyawamu
walau raga memberontak 
tetap diam kaku kaku, lalu terbungkus bumi dengan air mata penyesalan.

Jakarta, 3 September 2017.



SELAMAT TINGGAL

Entahlah, sulit mengucap selamat tinggal
semenjak wajahmu menjadi rutinitas
aku terpelanting
di lautan kata kata, tanpa daya.

Ada ratusan rindu di kolom waktu
diam diam kurawat 
betapa musim ini begitu basah
silih berganti teringat
kehilangan ini memukul hulu dada
tanpa satupun kalimat lepas.

Jakarta, 1 September 2017.



SEMUSIM LALU

Apa kabarmu, dear?
sejak kau pergi, aku linglung
melupakan banyak jalur
berhenti menatap langit
namun matahari selalu sibuk, membangunkan semangatku.

Lalu, bisakah kita bersua?
memulai salam dan mencoba merangkai nada kembali
akankan mencair?
sebab kita telah beku di musim kemarau.

Kemarilah!
kita mengeja jejak yang tertinggal.

Jakarta, 1 September 2017.



RINDU YANG MENGABU

Hai Tuan!
Apakah salah jalan, lupa alamat?
sedangkan bertumpuk kertas memanggilmu pulang
teracuhkan.

Tuan, namamu ada di antara bait 
tatapi dinggin
riuhmu hanya menguras air mata.

Tidakkah Tuan teringat keringat bunda?
dahulu, ketika wujud membentuk menjadi rupa
namun kini, kau lempar bola api
membakar harapan kasih
yang telah menjadi pemukiman tua berdebu
sebab penghuninya merantau ke sebuah batu lautan kata kata.

Nanti, jikalau Tuan singgah
penyesalan akan datang
karena riwayatnya telah usai dimakan zaman.

Jakarta, 2 September 2017.



JEJAK KALI INI

Dik, kau telah menjadi debu
menodai ruangan
dan jika kemarau tiba
menjadi jalur kesukaran
berulang ulang meresahkan
hingga lahir pemberontak
menguburmu dalam damai.

Jakarta, 4 September 2017.



PERIHAL KEMARIN

Aku terpaksa membujuk angin
untuk membawamu serta
menunggu matahari.

Sebab orang orang mulai terjebak macet
di trotoarmu
membajak pikiran, lalu berdemonstran
namun kalimat kalimat kembali pulang
pada rencana kegagalan
sebab suara suaranya hanya terdengar oleh patung patung pualam.

Jakarta, 4 September 2017.



SIMPUHKU DI UJUNG MALAM

Ada mendung pada kemarau ini
berupa kunang kunang
menempeleng ketiadaan.

Kemarin, ingin segera kusampaikan gigil ini
saat malam tiba
bersama cuaca yang singgah di bola mata.
Sekali lagi, aku terhenyak
menghitung jejak, menimbang perjalanan
kemudian berlomba, menuntaskan riwayat gelap
agar ringan, kutitipkan asa di atas sajadah.

Jakarta, 4 September 2017.

Tidak ada komentar