boleh dilihat

HEADLINE

BERSAMA BULAN MASA LALU_Puisi Hardian Rafelia A Aini(Sastra Harian)


Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



BERSAMA BULAN MASA LALU

Aku melihat sang malam
Di mata bulan
Yang semakin menjajakan senyap

Di kening langit
Yang tak lagi cerah
Dan sepasang alis bintang

Tengah mengembara
Ke masa silam yang
Semakin tergerus arus masa

Kian menampik rindu
Masa kecil, dengan tapak kaki
Tak pernah lelah

Penuh getar keceriaan
Dengan tubuh yang tak mudah
Terjatuh angin waktu, dengan

Tawa yang penuh bening hati
Memuntahkan segala canda
Dari rerumput: oleh keriangan

Dari pohon-pohon: oleh kekuatan
Dari alir sungai: oleh kesabaran
Dari pematang sawah: oleh kerendahan hati

Dan, dari
Pesona kebebasan: oleh
Kebahagiaan tak terhingga

Pula, bisa menggenggam
Makna usia dari-Nya
Di malam yang tak lagi

Istirah masa kecil, kini
Ingin bersenda gurau
Bersama lelapnya
Bibir-bibir mengigau

Purbalingga, 08 Juni 2018


CERITA PADA SEBUAH PAGI


Fajar memberi salam kehidupan
Tak lama, rintih pagi jatuh
Di wajah semesta

Menjelma lanscape
Bagi mata yang memeluknya
Dan, bunga depan rumah itu

Haturkan hias pada muka masam
Sehabis bangun mimpi, sebab
Terseok oleh waktu yang menguap

Di pucuk dedaun terlihat embun-embun
Masih melelap bintik bening
Lalu bangun saat mentari
Teduh dengan sinarnya

Purbalingga, 08 Juni 2018


DI BALIK LEMBAR SORE


Tatapan mega yang dalam
Diam-diam mengatupkan
Sore dan hujan itu
Dari sanalah mimpi hendak tertuang

Kurma-kurma dan
Semangkuk kolak, yang
Ikut memeriahkan
Kantung mega merah lalu

Bagi para pengais logam dunia
Meski kian temaram, serta
Rerintik yang masih
Memakaikan kelabu

Namun baginya muskil meneduh, dan
Tetap bersinar hendak memikul logam-logam
Bersama derai mega merah
Dan setumpuk berkah
Bagi para pemberi

Purbalingga, 19 Mei 2018


PUTARAN WAKTU DARI TUHAN


Di celah waktu yang beri pengajaran
Bermain-main
Bersama takdir Tuhan, bahwasanya

Ada titian langkah sang pejalan
Yang melahirkan benih sejarah
Ada dedaun sumringah melambai
Di teriknya mentari

Ada segaris senyum di pagi buta
Yang tengah menyibak duka malam
Lalu memekarkan kehangatan awal
Pijak harapan

Ada pula keruhnya hati
Di bagian hembus nafas insani
Yang menodai lingkar putih wajah,
Pula tertanam setetes gerimis sore hari

Setelah siang membara keringat melelahkan
Maka, senja pun melahirkan malam
Lalu seiring usia detik, tak segan
Menyuguh pagi yang lebih lama

Agar semua mata hati
Dapat menikmati indahnya
Kebaikan dari sisi-Nya
Tuk memejam dalam sejenak

Tuk lampiaskan kerlip
Senyum selalu
Di balik gulita sang waktu

Purbalingga, 08 Juni 2018



RAHASIA KACA


Kaca yang berderai dosa
Para wajah yang bercakap-cakap
Di hadapan pilu membayang
Tetes-tetes lalu menjalar di tubuh kaca

Yang paling bening
Di antara mata kaca hidup itu
Belaian manja, kadang rayuan pesona

Membelah indah bagaikan
Sinar rembulan menerangi
Kelabu wajah malamnya

Hingga mawar-mawar tak canggung
Berlama-lama memeluk kaca
Penuh keinginan

Namun,
Kaca-kaca pun menderai
Dosa,
Bagi penatap ulung yang
Berniat merayu segala mawarnya

Purwokerto, 19 Mei 2018



SKETSA USIA


Kau termenung di sebelah jendela
Memasuki lorong masa usia
Saat semua kembali hanya kenangan

Sambil usia terkunyah lembut
Lalu melahap begitu cepat
Bersama detik memasak doa

Di wajan kehidupanmu yang
Kadang terasa getir, dan manis pun
Kadang ilusi

Pernah kau tersedak oleh sepiring  resah
Sebab belum sempat kau hadirkan
Lauk enak di lidah senja terkasihmu

Tak terasa, tetes bening tumpah
Di wajah yang hendak
Menyuguh doa-doa sebelum

Sebutir buah busuk dari Tuhan
Kau telan dengan air minum keruh
Di dahaga musim pecinta

Purbalingga, 08 Juni 2018


WAKTU YANG TERKASIH


Aku menatap meja bundar
Di ruang makan yang
Hendak terlahap dahaga
Sebab di sana hadir senyum tomat

Hadir pula rayuan buah-buah
Tak tertinggal riuh kangkung
Di dalam mangkuk yang hijau
Rindang di perut

Pula waktu lamat-lamat menjalar
Pada lidah
Pada kening
Hendak berdoa, bersujud

Mensyukuri hidangan
Satu hari penuh,
Diantar hawa kumandang surau
Melahap nikmat bersama
Tawa dan kalimat terkasih

Purbalingga, 19 Mei 2018


Tentang Penulis :

Hardian Rafelia Asril Aini, lahir di Purbalingga,seorang mahasiswa IAIN Purwokerto Fakultas Dakwah prodi BKI. Penulis aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto dan Komunitas Rumah Penyu Cilacap. Beberapa puisinya pernah dimuat di antologi bersama, Hilang (Aria Pustaka: 2017), Sepucuk Kasih dari Sosok Sayang (Penerbit Satria: 2018), Teruntuk Cinta (Rekan Media Publish: 2018), Surat Untuk Kaki Langit Palestina (Indonesia Writing Club: 2018).

Tidak ada komentar