boleh dilihat

HEADLINE

LARILAH MENUJU CAHAYA_ Puisi Puisi E.Kurniasih (Sastra Harian )

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



LARILAH MENUJU CAHAYA 

Aku cemburu
Pada rumput yang bercumbu
Tika marah membumbung
Terhempas  ku di dasar penyesalan

Bila kerinduan membuat lelah
Biarkan hujan menghapus jejak
Payung tak melindungi
Gelombang meluluh lantakan

Aku bukan harapan
Semua tergadaikan
Hanyalah keping hati
Tanpa makna dan tujuan

Datang tak dicari pun engkau tak peduli
Jualah aku serupa kabut, penghalang pandang, tak menenangkan

Bandung 15 Mei 2018


GELOMBANG MEWARNAI KEHIDUPAN 

Andai masa kembali saat embun berkilau
Inginku menembus waktu dan memungut bintang jatuh

Hanyalah mimpi berdalih saat isak mewarnai
Kibasan angin tak sesayup impian

Merintih dalam  kepiluan
Sengat menyantroni kehidupan
Bintang tenggelam
Bulan menertawai saat sedu menyambangi

Detak berwarna di pesisir, gemuruh tak menentu
Menemui kangen, senyum getir membalut sendu
Pinangan ego menelanjangi tanpa mau mengerti

Apa yang kupunya
Dipeluk bumi sendiri
Tawa dan canda serasa basi
Gigil menemani
Tepian sunyi

Harus bagaimana?
Membiarkan tenggelam di pusaran
Atau hanyut di aliran
Entahlah sungguh kalut menerjang gelombang
Aku dicekam kelelahan

Bandung, 14 Mei 2018


RINDU  DIPINANG SENDU

Malam bersanding rembulan
Kunangkunang berlari memberi senyum cahaya

Kangen menisik, debar membara
Adalah engkau pewarna jiwa
Merasuk di wahana jingga

Memandangmu, ku diburu rindu
Lukisan kenang dalam kanvas kemesraan
Mengentak menguliti

Pagutan malam memunguti keinginan
Antara mimpi dan nyata terhalang realita
Jaring mencengkeram tiada berdaya


Bandung, 14 Mei 2018




ADALAH ENGKAU SUARA ITU

Tanya menenggelamkan raut disela isak
Merasakan bulir embun disetiap koma
Hingga usai

Mengulum kerinduan yang lama hilang
Di penghujung hela mendapati diri, yang tak kuingini
bak diterkam sekumpulan engah yang aku enyahkan

Desir kesejukan
Memandu cahaya

Lelah surut, gemuruh reda
Titian manis menghantar lena
Seraut angan tentang mimpi
Mencumbui elok penuh irama

Meminda lubuk saat hilang
Manis pengharapan, engkau datang
Menayangkan kenang
Tertata tanpa reka

Engkaulah suara
Aku merindu

Bandung, 16 Mei 2018


IKHLAS 

Andai bisa mengartikan
Tak perlu canggung berkelok mengikuti irama

Kenapa cuma engkau
Sedang anggukan bak robot terkendali
Terlarang bagiku mengecap lelah
Sebuah rengekan kau hempaskan dalam dalih

Tiada ada istimewaku
Bahkan setitik manja bagaikan usang

Sepi lebih indah menyentuhku di kesendirian
Bergumul aksara lebih menawan
Tenggelam dibumbui ilalang
Dan putri malu tersipu merasakan kisah terabaikan

Bibir bisu hati bercumbu
Ikrar makna tak seindah waktu
Berujung haru
Hanya milikku
Dan takkan ada air mata menyeru
Ikhlas memeluk, kecup kesabaran mengeja perjalanan

Bandung, 17 Mei 2018


Tentang Penulis :

E Kurniasih, tulisannya berupa puisi terbit di media siar Simalaba, memiliki keinginan kuat untuk terus maju dalam menulis. Sekarang berdomisili di Bandung


Tidak ada komentar