boleh dilihat

HEADLINE

CATATAN BANYAK NAMA_Puisi Puisi Aan Hidayat (Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 19

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)




CATATAN BANYAK NAMA 

Di sini, pada wajah wajah kusam
kutuliskan tentang sebuah rasa, pada lempengan dingin yang kasat mata
pada lembar lembar kabut yang memudar.

Di sini, kucoba menuliskan banyak nama
dan sederet cerita yang terkadang usang
tentang mimpi mimpi yang banyak orang perbincangkan. 

Sobat, sejatinya kita masih memendam hasrat yang sama 
namun wajah kita masih terjebak warna yang temaram
selalu berpaling dari kenyataan hidup
dan membelakangi catatan sejarah. 

Lampung Barat, 06 / 04 / 2018


DI LEMBAH ENTAH 

Entah mengapa aku ada di sini 
di sebuah lembah yang biasanya sepi
tapi hari ini begitu ramai, bahkan ada sedikit hingar. 

Aku hadir karena sebuah undangan 
meski tak ada yang menyambut, tak ada senyum, tak ada tangan menghampiri. 

Di sini termenung, layar ponsel membisu. Huruf dan angka-angka ganjil silih berganti menamparku.

Tak ada jaringan telepon dan internet yang dapat menghubungkanku pada kehidupan di luar sana. 

Di lembah ini, kujumpai banyak banyak rupa dan aroma tubuh, tak kukenal sebelumnya. Dari sudut yang paling sunyi, kupandangi orang orang berjalan agak terburu
mereguk secangkir kopi.

Lagu-lagu yang tak kupahami bahasanya, dilantunkan. Di sini, tak kudapati dunia perbincangkan, tentang masa depan, tentang segala entah.


Lampung Barat, 01 / 05 / 2018


ANTARA RINDU DAN MIMPI 

Malam ini aku bermimpi lagi, seperti malam-malam sebelumnya 
kujumpai kembali nama-nama itu 
meski ia tanpa rupa dan warna 
dan tetap tak dapat kugambar aroma dan wujudnya.

Ada semacam rindu di sini
tentang sebuah nama, warna kulit dan aroma tubuh berlumur peluh
yang hadir dalam musim-musim tertentu 
wajah-wajah itu belum persis kukenal 
karena hanya datang melalui mimpi dan alam hayal.

Rindu --- 

ya, mungkin dia yang pantas kusebut Rindu 
Nama serta perwujudan cinta yang enggan terjalin 
karena janji-janji yang kudengar terasa hambar 
dan sumpah yang ia ikrarkan hanya guratan samar
antara mimpi indah dan rindu yang terkapar. 

Lampung Barat, 24 / 04 / 2018



DOA UNTUKMU

Ada Doa untukmu.
Semoga suatu hari nanti, aku bisa jitak jidatmu
dengan jitakkan yang selalu kau rindu. 

Dan aku juga berharap, semoga kau jaga diri dan hatimu
untuk tidak terjebak dalam pilihan yang membuatmu tersesat 
karena hakikat hidup adalah perjalanan panjang yang penuh persimpangan dan tikungan.

Ada doa untukmu
yang sengaja kusembunyikan dari matamu 
karena aku tak ingin kau tau lebih banyak tentang wajahku. 

Wahai adik ---

semoga kau baik baik saja
hingga pengembaraan ini berakhir pada tepian senja.

Lampung Barat, 11 Mei 2018


KAU DATANG LAGI 

Kau datang lagi
membawa gugusan rindu yang gagal untuk tumbuh 
bahkan tunas itu kini telah kering dalam sakumu. 

Kau datang lagi, membawa air yang beracun
dan kau katakan, bahwa itu penawar rasa haus bagi daun yang kian ranggas. 

Kau datang lagi, tapi hadirmu hanya sekejap 
lalu pergi lagi, meninggalkan kenangan sendu yang kau tancapkan pada pohon yang hampir mati. 

Kau datang untuk pergi
kau racuni akar-akar 
sebelum hidup ini benar benar hidup. 

Lampung Barat, 12 Mei 2018


LALAT TERJEBAK KACA JENDELA 

Pagi itu, kulihat seekor lalat terjebak di balik kaca jendela 
dia melihat dunia dari dalam ruang yang sempit
lalu terbang ke sana dan ke mari
namun kaca jendela terlalu kokoh untuk dipecahkan dengan kepalanya. 

Si lalat terbang dengan sayapnya
merasa diri paling sempurna 
setelah ia saksikan cacing berjalan di lantai 
dan para semut yang merayap di dinding. 

Sungguh naif nasib sang lalat, kini terjebak jendela kaca 
tak dapat nikmati udara di luar rumah 
bahkan ia tak melihat, masih banyak makhluk besar di luar sana 
dan lalat masih saja terjebak, hingga siang tinggalkan warna.

Lampung Barat, 19 / 04 / 2018


SEPENGGAL LAMUNAN 

Dan apa yang kau pikirkan tentang pagi?
Kau biarkan waktu tertegun 
dan jika pun berjalan 
langkahmu gontai untuk menyusuri hari
sedangkan mentari belumlah meninggalkan dhuha.

Tidakkah nampak di depan matamu
jalanan masihlah panjang dan berliku 
banyak tikungan yang seharusnya kau fahami
agar tak tergelincir sebelum sampai tujuan.

Hai!
pengembaraan ini masihlah panjang kawan
mestinya kau asah kembali mata pedang 
karena di depan sana, banyak tempat yang mungkin belum kau kenali 
dan sekawanan penyamun telah mempersiapkan muslihatnya.

Lampung Barat, 28 / 03 / 2018



RUANG REMANG


Hari ini sudah cukup sore
dan kulihat seorang lelaki di sudut ruang 
cukup lama ia berdiri, tanpa sapa juga suara. 

Matanya nanar, seolah menggambar bola api
karena ruangan tempatnya berdiri sangatlah remang.

Tak banyak yang ia lakukan 
dan tak banyak yang katakan 
hanya kilap sepatu dan dasi yang ia tau
pembeda dirinya dan orang-orang dalam ruangan.

Lampung Barat, 22 April 2018.

Tentang Penulis :

Aan Hidayat adalah seorang pengusaha mebel di Pekon Gunung Sugih Kecamatan Balik Bukit Liwa Lampung Barat, dia juga seorang pencinta seni budaya dan lingkungan hidup, karya karyanya telah dimuat di sejumlah media ONLINE dan beberapa antologi puisi, dan tergabung dalam Penyair Asia Tenggara 2018 di Padang Panjang. Sekarang tengah bergiat di Komsas SIMALABA.

Tidak ada komentar