HEADLINE

VIRUS CORONA DAN KARAKTER MANUSIA | Artikel Indah Noviariesta |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor) Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.

       
Menteri kesehatan, dr. Terawan menegaskan dalam siaran persnya bahwa fenomena wabah Corona jangan menimbulkan sikap-sikap yang membuat bangsa ini terjangkit paranoid di antara kita. “Jika imunitas kita baik, maka serangan penyakit seganas apapun akan terkalahkan oleh sistem kekebalan tubuh,” demikian tandasnya.

Sehaluan dengan hasil analisis seorang psikolog dari Universitas Curtin Australia, Martin Hagger yang memberikan testimoni, bahwa munculnya berbagai penyakit degeneratif akhir-akhir ini sangat berhubungan erat dengan karakter yang memengaruhi sistem anatomi tubuh. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki kelemahan pada karakter tertentu, sangat mudah terserang penyakit yang berhubungan dengan kualitas organ tertentu dalam tubuhnya.

Teori persamaan yang digagas Einstein (E = mC2) secara tidak langsung mengisyaratkan adanya korelasi antara karakter seseorang dengan jenis penyakit yang dideritanya. Persamaan itu mengandung arti bahwa unsur-unsur yang menimbulkan perubahan bentuk pada fungsi organ tubuh (m) terjadi akibat perubahan bentuk (E) pada sifat, watak dan karakteristik orang itu dalam kehidupannya sehari-hari.

Dalam ilmu kedokteran Tiongkok yang sudah melanglang buana selama 3000 tahun lebih, watak dan karakter manusia adalah pangkal utama yang menjadi bahan diagnosa untuk mengukur kriteria kesembuhan penyakit seorang pasien. Teknik pengobatan itu mengacu pada teori lima organ, berikut masing-masing pasangannya.

Pertama, organ liver, berpasangan dengan kandung empedu, menandakan karakter orang yang pandai berterimakasih (bersyukur). Jika seseorang menderita sakit darah tinggi, biasanya penyakit itu menyerang liver. Obat penurun darah tinggi tidak menjamin kesembuhan paripurna untuk orang yang tensi darahnya naik akibat merasa kecewa, galau atau sakit hati. Mengubah karakter suka kecewa menjadi pandai bersyukur adalah cara yang harus ditempuh agar penderita tidak mengonsumsi obat secara terus-menerus.

Organ kedua adalah pankreas, berpasangan dengan lambung, menandakan orang yang yakin dan penuh percaya diri. Orang yang mengalami sakit pankreas perlu dipacu semangat hidupnya agar menjadi penuh percaya diri dan tidak didominasi sifat plin-plan dan ragu-ragu. Penyakit yang erat kaitannya dengan sifat peragu adalah mag, karena penyakit ini berpangkal pada lambung si pasien.

Organ ketiga adalah jantung, berpasangan dengan usus kecil, menandakan seorang yang pendiam, minder dan pemalu (introvert). Penderita jantung akan dipacu semangat hidupnya agar memiliki sifat jujur dan terbuka (ekstrovert). Seringkali penderita jantung ini meminum obat-obatan yang menimbulkan efek samping pada munculnya penyakit baru akibat mengonsumsi obat secara berlebihan.

Organ berikutnya adalah ginjal, berpasangan dengan kandung kemih, menandakan sifat seorang yang egois dan angkuh. Sifat ini identik dengan keberanian seseorang, namun pada titik tertentu dapat membuat seseorang menjadi pemarah, sombong dan temperamental. Seorang penderita ginjal atau kandung kemih akan dipacu perubahan karakternya agar menjadi pemaaf dan rendah-hati. Organ kelima adalah paru-paru, berpasangan dengan usus besar, menandakan sifat pemurung dan gampang frustasi. Pasien yang didominasi sifat pemurung akan dipacu semangat hidupnya agar selalu optimistis dan bahagia.

Sistem pengobatan dengan menyeimbangkan kelima organ bersama pasangannya itu, telah banyak diadopsi oleh dunia kedokteran barat sebagai lima tipe karakter dasar manusia (the big five personality traits). Teori ini semakin berkembang luas secara empiris, dan diakui pakar-pakar kedokteran sebagai teori pengobatan yang universal. Secara psikologis, teori ini melintasi batas-batas kebangsaan, lintas budaya, bahkan tidak memandang usia maupun jenis kelamin.

Kita bisa mengambil satu contoh dari seorang penderita liver atau darah tinggi (hipertensi), bila dihubungkan dengan teori the big five personality traits, kita mudah mengenali sifat dan karakternya yang gampang kecewa, suka mengeluh dan merasa tidak puas. Karena liver itu berpasangan dengan kandung empedu, maka akan ada hubungan antara kedua organ tersebut, baik penyakit itu menyerang liver secara langsung, maupun menyerang kandung empedu yang merupakan korelasi dari organ liver. Begitupun tipikal angkuh dan pemarah yang sering menyerang organ ginjal hingga kandung kemih.

Karena itu, sepantasnya diberikan penawaran kepada mereka yang gampang marah, egois dan temperamental, sebaiknya mengendalikan sifat angkuh itu kepada sifat-sifat positif seperti pemaaf dan rendah-hati. Sebab, dalam teori kedokteran post-modern ini, cara seperti itulah yang lebih elegan ketimbang Anda mengonsumsi obat secara terus-menerus.

Mengubah karakter dari sifat negatif menjadi sifat positif, dari gampang kecewa menjadi pandai bersyukur, dari peragu menjadi optimis dan penuh percaya diri, dari tertutup menjadi terbuka dan apa adanya, dari egois dan sombong menjadi legowo dan rendah-hati, adalah cara-cara pengobatan yang arif dan mulia, yang dapat membawa manusia pada kesembuhan paripurna.

Kita bisa saja minum obat seumur hidup untuk menahan tekanan darah tinggi, atau menekan fungsi pankreas hingga lambung, dalam upaya mengobati penyakit diabetes miletus (penyakit gula darah). Tetapi mengubah karakter menjadi pandai bersyukur, tentu saja merupakan pilihan terbaik yang harus ditempuh agar si penderita tidak mengonsumsi obat seumur hidup.

Penyakit diabetes miletus atau sakit mag bisa saja diobati dengan obat-obatan yang cocok. Namun, sifat obat hanyalah temporer dan sesaat, sewaktu-waktu dapat menyembuhkan, meskipun tidak bersifat permanen. Tapi mengubah karakter negatif menjadi karakter positif, tentu saja merupakan pilihan paling bijaksana dalam teori ilmu kedokteran manapun.

Oleh karena itu, kembali kepada peringatan dr. Terawan beberapa waktu lalu, bahwa kepanikan dan rasa takut justru akan menganggu karakteristik kita, hingga menimbulkan imunitas kita menjadi lemah. Dan pada saat itulah, virus yang paling ringan sekalipun akan mudah menyerang tubuh kita. Sebaliknya, jika kita cerdas menjaga kondisi tubuh kita, mengendalikan karakter dan ketenangan pikiran dan perasaan kita, maka virus seganas apapun – termasuk Corona – tidak akan sanggup menyerang tubuh kita.

Secara implisit, menteri kesehatan menyatakan bahwa kondisi  tubuh manusia ibarat sistem kerajaan yang diamankan oleh benteng pertahanan yang tinggi dan kokoh, hingga kebal dari serangan-serangan musuh. Tetapi, jika benteng pertahanan itu rapuh dan keropos, maka anak-anak panah sekecil sapu lidi sekalipun akan sanggup menembusnya.

 ***
Tentang Penulis:
Indah Noviariesta. Alumni Jurusan Biologi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten.

Tidak ada komentar