boleh dilihat

HEADLINE

SATU HAL | Puisi Winda Efanur FS |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor) Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


SATU HAL


Satu hal yang paling sakit dari cinta
Adalah ketika rindu beranak tanpa raga

Cilacap, 19 Desember 2016



KENANGAN KOTAMU


Bila aku mengunjungi kotamu
Sejuta kenangan tumpah di depan mata
Jalan-jalan ramai yang kita telusuri
Juga cahya purnama yang kita rangkul bersama
Masih terasa hangat rindu ini,
Mengikatku denganmu pada malam itu,
Ketika kita bertukar rasa di bawah purnama
Cilacap, 25 Oktober 2016



KENANGAN KOTAMU 2


Di alun-alun kota ini masih melekat jejak kita
Terukir jelas di rerumputan dan semak belukar
Debu-debu ini, juga sama: membau aroma parfummu
Aku tersedak aroma itu, aroma yang buatku ingin kembali
Mengunjungimu dalam kata
Sayang, kata-kata itu memantul-mantul dalam hati,
Kau, jauh terenggut waktu

Cilacap, 25 Oktober 2016



KENANGAN KOTAMU 3


Kau yang pergi
Janji yang mati
Namun kita abadi
Dalam Mimpi

Cilacap, Desember 2016

PANTULAN


Aku lihat tubuhku di depan cermin
Memantulkan gelap wajah
aku berlari menuju kolam
Aku bercermin pada tubuh kolam
Kolam memantulkan hening wajah
Aku bercermin pada rumput di halaman
Rerumputan memantulkan goresan mimpi
Aku bercermin pada senja,
senja memantulkan malam
Aku pantul-pantulkan diriku pada malam.
Aku jadi malam.
Di bumi raga jadi bayang
yang terbiaskan dingin

Cilacap 19 Desember 2016



JALAN PULANG

Aku masih mengenal jalan pulang,
Hamparan hutan dialiri sungai kehidupan
Sawah-sawah hijau yang memanjang
Dan menembus cakrawala
Tanah-tanah berlubang,
Lumpur cokelat tumpah,
Juga rangka-kering terbungkus kulit

Iya, aku masih menyimpan rinduku,
Pada keningmu yang lebar,
Rambutmu yang mengkilap putih
Ingin aku menelusuri setiap helai rambutmu
Mengusap lelahmu yang tertanam waktu.
Di kedua tanganmu tergenggam doa,
Yang kau taburkan pada malam,
Dan bintang menyanyi hikmat pada puji
Keteguhanmu tak menemui tepi,
Tempatku merindu hingga pagi,

Cilacap, 19 Desember 2016


Tentang Penulis:
Winda Efanur FS, penulis lepas. Bergiat di Komunitas Rumah Penyu Cilacap dan Komunitas Buku Untuk Anak Indonesia. 

Tidak ada komentar