boleh dilihat

HEADLINE

HIKAYAT RINDU | Puisi Puisi Syarif Hidayat |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor) Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


HIKAYAT RINDU 

“Aku mau menulis puisi”
degub jantung dengan sajak-sajak kuyup membentang panorama layu
Juang hanya tinggal jua
selamat tinggal duka lara

“Aku mau menulis puisi”
gemuruh angin lampan hentakkan goni-goni
bungkus aku, ada dan tiada
menjulang kenangan simfoni tebarkan penyesalan
genggam purnama bersama sufi tak henti menari

“Aku mau menulis puisi”
moga kata-kataku menjadi benang jahitan jubamu
kau pakai ‘tuk menghadiri pesta perkawinan tuhanmu
agar aku tetap mengenang memandang terangnya malam
dengan syair-syair do’a pujian

what ever will be will be
karena jubahmu hilir berganti

“aku telah menulis puisi”
telah sampai pada tahun pengenalan diri
dengan karang laut jumpai kilauan peradaban kehidupan
membentang katulistiwa daratan kenang

“Bismillah”
kuawali dengan kalam agung tuhanmu
menjadi penerang, bertamasya ke waruga
sementara tombak kaulumuri darah saudaramu
benarkah lentera yang kubawa
setelah gunung kuratakan dengan ambisi
tentang tahun yang membawa lentik gerbang keangkuhan

Annuqayah, 2019-2020

KENANGLAH AKU 

;Nurjannah

Hanya kicau angin yang kudengar
Dahan tak pernah kau lihat burung itu
Tapi kau tau itu ada burung di sana

Walau hanya desir angin kau rasa
Dan tak pernah  luah gemuruh angin itu
Padahal dia tak menyuruhnya datang
Tapi percayalah sayang
Angin itu di lentik alismu 

Hanya doa bergulir malam itu 
Dan tak pernah kau lihat siapa aku
Tetaplah aku bersembunyi dalam bait-bait kalammu

02 Maret 2020 

MASIH ADAKAH HARAPAN 

Sudah saatnya 
Embun menjadi luka
Saat kau bilang “aku mencintaimu”

Sudah saatnya 
Awan menjadi hujan 
Saat kau tak sempat katakan hakikat kehilangan

Sudah saatnya
Kayu menjadi api 
Saat kau urungkan air mataku 

Sudah saatnya 
Air mata menjadi duka 
Saat kau lupa pedihnya pengorbanan

Sudah saatnya 
Air menjadi udara 
Saat kau tegukkan harapan

11/2/2020
ELEGI CINTA

Bilamana mencintaimu sebuah nasib, 
maka aku adalah orang pertama menahan luka, 
sebuah kata yang sempat kutulis pada lentik alismu
pada syair-syair kombat yang menjadikanmu tiada 

tentang carik tuliskan aksara gebu
bila kau tak tuliskan aksara padaku
kepada penyair kutanyakan cinta
saat kelender ajalmu menjadi surga 

entahlah rentang kitab cinta apalagi 
kala kalbu mengalir ke hilir 
duduk termenung menatapmu dengan elegi cinta

14/2/2020
PENGEMIS di NEGERI TUA

Kemarin sore pengemis tua menyuruhku untuk menjadi penyair
Nenekku sempat melarang cucunya merangkai kata-kata 
Tabiat menghantar sajak ujung dermaga 
Pintas perjalan menuju negeri tua 

11/2/2020
MEMOAR RINDU

Kemarin aku mendengar kau tertabrak kereta, Marlena? “katanya”, kepalamu pecah dengan benturan air mata diangkutnya, darahmu mengalir ke hilir rindu, terserap tanah gambut kian layu. kutanyakan Kepada anak kecil yang mengabariku tentangmu dia adalah saksi mata kejadian itu, Ternyata dia mengaku cuma bermain di ujung dermaga, menjauh dari nina bobok ibunya. Masih tetapkah kubungkus sisa-sisa daging yang terhampar di sepanjang jalan lampau, dengan goni yang membekas di wajahmu. Kini keluargamu menangis menahan kombat di waruga para penyair, hantarkan kepedihan dengan memoar rindu.

25 Februari 2020

MENDIANG GURU SESEPUH
;Mistharun Assalimy

Kala matahari tanam permata
Pada helai barokah kerungkuh
Dengan kalam mengeja butir akta aljabar rumus sinonim

Tentang istikamahmu 
Belencong pada murid tak mengenal aksara
Menjadi bait-bait dalam doa penghulu

Pak,
Kini hanya bianglala menemanimu
Seutas kain kanvas membungkus kesunyian
Secarik kertas kutuliskan sajak pengampunanmu
Bersama kenangan kaubawa purnama

Pak, 
Aku masih ingat kata-katamu
“siapa dulu gurunya”
Kata yang tak kenal lelah pengabdian 
Sorong murid-muridmu ‘tuk mengenal guguh
Dan hakikat perpisahan

Selamat tinggal guru semoga semua ilmu yang kautuang menjadi biang kehidupan!

19/2/2020
Tentang Penulis: Syarif Hidayat: Kelahiran pulau Raas. Santri PP. Annuqayah daerah Lubangsa dan Mahasiswa INSTIKA jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI). Guluk-guluk Sumenep Jawa Timur. Aktif di Komunitas Santri Ngopi dan Komunitas Karamba’. Penulis bisa dihubungi Fb: Syarif Assyakir.






Tidak ada komentar