HEADLINE

GURU YANG BERHASIL | Opini Rosni Lim |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.

Menjadi guru yang disukai murid, adalah impian para guru. Walau begitu, para guru pasti lebih mengharapkan, mata pelajaran yang diajarkannya dapat dimengerti murid-muridnya, sehingga jerih payahnya mengajar dan menerangkan selama ini dapat terbayarkan.
     
Berhasil atau tidaknya seorang guru mengajarkan mata pelajaran yang dipercayakan kepadanya, dapat dilihat dari berapa nilai yang dicapai murid-muridnya. Dengan catatan, murid-murid tersebut tidak berbuat curang alias mengopek/menyontek sewaktu ujian.

Bagaimana bila sang guru telah berhasil menyampaikan isi pelajaran di depan kelas, pengajaran dan penjelasannya dapat dimengerti para murid, namun karena si murid sendiri yang tidak belajar, akhirnya mendapat nilai jelek? 

Dalam hal ini, keberhasilan guru bukan saja dinilai dari seberapa berhasilnya dia membuat murid-muridnya mengerti, tapi juga seberapa pintarnya dia memotivasi murid-murid tersebut untuk tertarik, menaruh minat, sampai berusaha keras belajar sendiri untuk mendapatkan nilai bagus. Tentunya sebagai seorang guru, bukan hanya dibekali ilmu pengetahuan yang mapan untuk membagikan ilmunya, tapi juga kemampuan untuk memotivasi orang lain sebagai seorang pendidik.

Nilai bagus atau jelek yang dicapai murid, sedikit banyak tergantung juga dari bagaimana cara guru menyempaikan isi pelajaran di depan kelas. Guru yang tidak menarik bagi murid, akan susah membuat murid menangkap isi pelajaran atau apa yang hendak disampaikan. Kepintaran berkomunikasi dan “menghipnotis” seisi kelas supaya menaruh perhatian pada sosok yang sedang berdiri di depan kelas, juga adalah kunci suksesnya mata pelajaran yang diajarkan.

Contoh nyata, dari SD sampai SMP, ada seorang murid tak pernah menyukai pelajaran Matematika. Bahkan waktu SMP, murid itu mendapatkan nilai nol untuk mata pelajaran tersebut. Bagaimana tidak, sudah sejak SD pelajaran Matematika tak disukai murid itu, sewaktu SMP malah bertemu guru Matematika yang sewaktu mengajar dan menerangkan dirasa terlalu cepat, padahal murid-murid itu tidaklah semuanya sama kemampuannya atau pintar/jenius, tak jarang mereka harus mencerna dengan susah payah mata pelajaran yang sering dianggap sulit itu. 

Sang guru Matematika sewaktu murid itu SMP itu tidak menarik sama sekali, baik dalam cara menyampaikan isi pelajaran atau pun dalam cara menerangkan, tak heran walaupun belajar tetap tak bisa. Lain persoalannya sewaktu murid itu SMA, ada guru Matematik, sebutlah namanya Pak Joshua. Entah bagaimana cara beliau mengajarkan mata pelajaran Matematika, yang jelas murid itu merasa untuk pertama kalinya sangat mudah mengerti pelajaran itu sampai-sampai berhasil berkali-kali mendapatkan nilai 100 waktu ujian. Wah, sesuatu yang bagi murid itu seperti sebuah hal yang tak mungkin, tapi telah menjadi mungkin.

Menjelang Hari Guru 25 November, murid-murid di kelas diberi tugas oleh guru mereka, 
menuliskan di secarik kertas siapa guru-guru yang masuk ke dalam tipe-tipe: guru ter-killer, guru terlucu, dan guru tersabar.

Rata-rata mereka menulis nama yang sama untuk guru ter-killer, guru terlucu, dan guru tersabar. Ini artinya, dalam pandangan mereka, guru-guru tersebut layak diberi “gelar” “killer/galak”, “lucu/humoris”, atau “sabar/baik”

Ini sama seperti masa .kita sekolah dulu, seperti teman-teman lain, memberi penilaian untuk beberapa guru. Guru killer/galak yang dimaksud murid-murid itu adalah guru-guru yang bila mengajar/menerangkan terlihat serius, jarang tersenyum, bertampang galak, dan bila ada murid yang membuat ribut atau tak memperhatikan sewaktu beliau menerangkan, akan menjadi sasaran kemarahan, dilempari kapur tulis, penghapus, sampai dirotan atau dijewer kuping. Konon, bila sang guru  killer sedang mengajar, murid-murid tak ada yang berani ribut, semua rata-rata melihat ke depan, walaupun ada juga yang sembunyi-sembunyi tak menaruh perhatian atau berbicara sedikit-sedikit, namun risikonya bila ketahuan bakal dihukum.

Maksud guru bersikap galak juga ada baiknya, supaya murid-murid serius dan tak main-main, karena dengan serius memperhatikanlah baru bisa mengerti isi pelajaran, apalagi pelajaran sulit seperti Matematika, Fisika, dan Kimia.

Namun, menjadi guru killer harus menanggung risiko tak disukai murid, ditakuti, dihindari, sampai dibenci. Bahkan bisa-bisa mata pelajaran sang guru killer pun ikut-ikutan dibenci gara-gara gurunya tak disukai. Jadi, bagaimana mereka bisa memahami sesuatu yang mereka benci?

Guru lucu/humoris juga ada di sekolah. Guru humoris yang setiap kali masuk kelas selalu membuat seisi kelas tertawa. Sebelum mengajar, murid-murid dibuat tertawa terbahak-bahak dulu selama setengah jam. Setelah tertawa, suasana hati mereka akan terasa lebih nyaman dan senang, dengan begitu apa isi pelajaran yang disampaikan sang guru humoris akan lebih mudah diserap/dimengerti. Bukankah kita akan lebih mudah mengerti bila sesuatu dijelaskan dengan senyuman daripada dengan kerutan di kening?

Guru sabar/baik tampaknya selalu ada juga di setiap sekolah/kelas. Guru tipe begini walau bagaimana pun murid membuat ribut/tak memperhatikan tetap sabar dan jarang marah. Murid yang nakal dan ribut hanya disuruh tertib dan jangan ribut. Atau bahkan membiarkan mereka tetap bising karena sang guru tahu akan sangat susah mendiamkan , hanya berharap mereka mengerti sendiri. Tapi yang namanya anak-anak/remaja,  pastilah masih seperti anak-anak/remaja. Mana ada anak-anak/remaja yang bisa diam saja? Di usia seperti mereka pastilah sangat aktif dan tak bisa diam.

Hendak menjadi tipe guru yang bagaimana, itu terserah kepada masing-masing individu. Yang penting, tugas utama sang guru menyampaikan/mengajarkan isi pelajaran kepada murid-muridnya dapat tersalurkan dengan baik, dimengerti, dipahami, dan bukti dari keberhasilan guru  mengajar, satu di antaranya adalah nilai murid-muridnya.

* * *
Tentang Penulis:
Rosni Lim. Menulis cerpen, artikel, dll di beberapa media cetak/online

Tidak ada komentar