HEADLINE

SISI LAIN NOVEL PERASAAN ORANG BANTEN [ ESAI Purwo Mawasdi ]

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor) Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


Dalam novel "Perasaan Orang Banten", tergambar peristiwa-peristiwa yang seakan tumpang-tindih, tetapi memiliki harmoni dan keterhubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi sehaluan dengan iklim perpolitikan kita yang dinilai banyak kalangan sebagai “hangat-hangat tahi ayam”.Kalau suatu peristiwa berlangsung, masyarakat ribut dan tengkar bukan main. Hampir semuanya mengemukakan pendapat dari sumber pikiran yangberbeda-beda. Ketika esok tiba, topik pertengkaran tiba-tiba berganti dengan yang baru, hingga problem yang kemarin dibiarkan melayang dari ingatan, terbang  bersama angin lalu.

Muncul pertanyaan sederhana, mengapa bangsa ini mudah terbakar sesaat?Ketika satu persoalan belum selesai diceritakan, sudah beralih padacerita yang lain. Inilah yang ditunjukkan oleh novel POB, seakan bangsa ini masih hidup dalam kebudayaan lisan, dan belum memasuki periode bangsa literer. Bangsa ini sekan masih mengandalkan epistimologi pengetahuannya, kesadarannya, dari mendengar hal-hal monoton, sampai pada hal-hal sepele yang memuakkan.

Budaya lisan yang tergambar pada penokohan POB tentu saja terbatas ruang cakrawalanya, hanya mengenal dimensi ruang dan waktu sesaat.Suatu sikap hidup yang nggantungkan diri pada kesadaran kolektif,bukan pada solidaritas umum yang bersifat universal. Perspektifpandangan yang dangkal, seolah hanya mempersoalkan apa yang terindera secara kasatmata. Orang-orang yang hidup secara komunal, namun merasa kesulitan menemukan jarak dengan obyek-obyek inderawinya. Subyek mudah sekali menjadi obyek, sehingga ketika melihat satu peristiwa inderawi,mereka tidak pernah sanggup menangkap substansinya. Mereka tidak mampu melihat ketarkaitan dari struktur eristiwa yang beraneka ragam,apalagi menghubungkan kausalitas dan hukum alam yang berlaku dari setiap peristiwa yang berlangsung.

Budaya lisan dari tokoh-tokoh yang banyak mengandalkan komunikasi di kampung Jombang (mewakili perkampungan Indonesia), tidak mampu berpikir abstrak, hingga tergopoh-gopoh menangkap substansi dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang dianggap tumpang-tindih tersebut.Penulisnya memang cakap menampilkan narasi-narasi dalam alur cerita yang seakan terpisah-pisah, meski pada dasarnya memiliki keterhubungan yang konkret, dan dalam struktur yang tetap. Pembaca yang sanggup menangkap substansi dari pola bercerita semacam ini, kemudian mampu menangkap hikmahnya, tentu tidak mudah terjebak ke dalam hasutan danbberita murahan (hoaks).

Mereka akan melihat dengan nalar dan akal sehatnya, bukan semata-mata pandangan inderawinya. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu di luar dirinya.
Segala peristiwa yang tergambar dalam novel tersebut, dapat dilihat secara obyektif apa adanya, bukan sebagaimana nampaknya. Karya sastra semacam ini mesti jelas diolah dari pikiran yang kritis, berbuat dan menggoreskan pena setelah matang betul pertimbangannya, karena ia telah berhasil melihat perspektif dari segala kemungkinan.

Ironisnya, budaya lisan yang ditampilkan melalui tokoh-tokoh POB bukanhanya menghinggapi mereka yang kurang terpelajar, tetapi juga merekayang sudah mencapai gelar pendidikan tinggi, baik yang terjun sebagaipolitisi, pengusaha hingga ke kalangan agamawan sekalipun. Orasi-orasipolitik dari seorang jurkam (juru kampanye) menunjukkan kedangkalanberpikir dari tipikal budaya lisan yang menyerambah di sekitar kita.Kita melihat juga bagaimana demo-demo kaum politikus dan aktivispartai, tak ubahnya seperti demo kaum gelandangan. Bagaimana bakuhantam terjadi di gardu ronda, warung kopi, hingga ke soal-soalsengketa rumah-tangga dan perbedaan pendapat tentang agama, pemihakanpolitik, ideologi dan tafsir akan kebenaran.

Hal-hal memalukan yang tergambar dalam POB sering terjadi di tengahkeseharian kita, seakan-akan mengembalikan kita ke zaman primitif, dimana budaya lisan kolektif masih hidup segar. Semua persoalandiselesaikan dengan emosi partisipasi secara blak-blakan, tidak jarangmelalui jalan pintas kekerasan. Mereka mengandalkan akalnya hanyauntuk membenarkan kepentingannya sendiri. Kesadaran mereka seakanhanya diisi oleh pendapat kolektif melalui siaran televisi, obrolan digardu ronda, mengumbar gosip, fitnah, hingga menebar hoaks ke sanakemari. Semua persoalan sampingan yang remeh-temeh itu kemudiandiangkat menjadi persoalan prinsipil. Tontonan favorit mereka, kalaubukan kasus kriminal tentu saja gosip dan celotehan kaum politisi danselebriti.

Budaya lisan yang seakan abadi ini, menjadi tanggung jawab kitabersama untuk membangkitkannya menjadi budaya literer. Bukan sekadarbudaya baca dalam pengertian formal, melainkan membaca yang benar,substantif, hingga masyarakat berinisiatif mengolah bacaan sertamenulis dan menghasilkan bacaan yang baik. Di era tahun 1950-an –menurut kesaksian sastrawan Jacob Sumardjo – hampir di setiapkecamatan terdapat perpustakaan rakyat. Tetapi, ketika memasuki era1970-an, di bawah kepemimpinan Soeharto (Orde Baru),perpustakaan-perpustakaan seakan lenyep, kemudian berganti dengan perpustakaan-perpustakaan swasta yang dijejali buku-buku komik dannovel-novel picisan. Gejala itulah yang mendorong manusia Indonesiaseakan kembali terpelanting kepada budaya lisannya. Sebagaimanatokoh-tokoh dalam POB yang hidupnya hanya ingin memanjakan diri,
dengan imaji-imaji kenikmatan, kemudahan, dan kesenangan sesaatbelaka.

Pembangunan manusia Indonesia berjalan secara tak seimbang, antarapembangunan akal budi dengan materi yang bersifat inderawi. Bangsa inilebih bangga membangun mall-mall dan supermarket daripadagedung-gedung perpustakaan. Ironisnya, pemerintah Orde Baru besertajajaran departemen yang membantunya, telah berdiri di baris belakanguntuk menjauhi buku-buku bermutu. Mereka hanya membaca laporan-laporanresmi dari acara televisi, dan setiap menjelang tanggal 30 September,siaran-siaran politik yang bermuatan hoaks tentang G30S terus-menerusberulang hingga menjadi santapan rohani bangsa ini.

Dalam tulisan saya tentang analisis konflik yang dikemas dalam novelini, ditambah dengan ulasan pada penulis yang semakin marak di mediamassa dan daring, kiranya tepat usulan yang saya kemukakan kepadacivitas akademika sejak tahun lalu, bahwa novel ini memang layakmenjad rujukan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang tengahmempelajari materi-materi kesusastraan.

Tokoh-tokoh dalam novel POB menggambarkan suatu bangsa yang seringkalisibuk menghakimi pikiran dan perbedaan pendapat. Tetapi, apapun yangdiperbuat oleh suatu bangsa, itulah cermin dari perilaku pemimpinnya.Mereka tidak pernah punya catatan, seakan tidak punya memori dansejarah masa lalu. Begitu peristiwa hari ini muncul, peristiwa kemarinseakan hilang terbawa angin.

Itulah bangsa yang suka omong dan gemar retorika politis. Kisah-kisahtumpang-tindih, seakan bertebaran tanpa plot dan alur cerita. Tetapi,melalui novel Perasaan Orang Banten, segalanya telah dikemas denganapik dan menarik, hingga terstruktur menjadi penceritaan alternatifyang pantas diperhitungkan dalam khazanah sastra mutakhir Indonesia.

Tentang penulis: 
Purwo Mawasdi. Generasi milenial alumni jurusan sastra dan bahasa Indonesia, Untirta Banten)

Tidak ada komentar