boleh dilihat

HEADLINE

TENTANG DESA YANG HILANG DITELAN BUMI

Sajak di bawah ini coba menguraikan sebuah sejarah yang maha dahsyat serta pernah terjadi di negeri kita. Peristiwa ini adalah tenggelamnya sebuah Duku di Kec. Batur, Banjarnegara-Jawa Tengah, diprediksi terjadi antara 16-17 April 1955. Kisah ini tidak banyak yang mengangkat, dan cenderung tenggelam, seperti tenggelamnya dukuh yang dulunya terletak di sebuah lembah yang subur tersebut.

(di bawah ini adalah konten video sebagai ilustrasi sajak TENTANG DESA YANG HILANG DITELAN BUMI karya Riduan Hamsyah. Selamat menikmati)



TENTANG DESA YANG HILANG DITELAN BUMI

Sore itu, langit biru
tak ada isyarat akan terjadi apa apa.
orang orang menimang ladang, sebagai kekasih
sebab tanah adalah riwayat kesuburan dari
gadis gadis belia yang meremaja
perempuan dan lelaki dewasa piawai menanam biji-biji batu, lalu tumbuh menjadi pohon.

Di sudut dukuh, lapak-lapak arak serupa sarang kehausan
dari sejumlah orang yang telah lama jadi pecandu getah bumi
liukan pinggang pinggang penari lengger
asap tembakau
dan birahi memuncak ke ubun, ini adalah lembah kebebasan
lembah tempat selaksa kabut turun
dari bukit pengamun-amun
udara sejuk, mereka tak peduli pada kutuk.

Dukuh Legetang, sebuah syurga kecil menetas
di kawasan Dieng kala itu
menjadi pergumulan cinta sejenis
menjadi silang sengketa perasaan yang akhirnya berdamai
di ruang senggama yang liar.

Alam di negeri subur ini diam
tetapi mengamati
dengan seringai selaksa petaka.

Kita tak ingin melulu menyalahkan manusia
ketika suatu malam di bulan April 1955
hujan menusuk bumi dengan sejuta belati
orang orang di Legetang tenggelam dalam balutan lembah yang dingin
pelukan lawan bicara yang sedari tadi nyinyir
berubah menjadi diam tergantikan kepak angin
suara guntur di kejauhan, kian larut kian bersautan

dan, sebuah ledakan maha dahsyat
mematahkan puncak bukit yang buncit
pengamun-amun mengubah diri jadi jutaan kubik tanah
menerabas gelap
menyiram pemukiman hingga rata. Batur, Jawa Tengah geger di pagi buta
orang orang blingsatan menuju lembah meski jalan dilewati tertimbun bongkahan neraka
Legetang, hilang
sebuah kanal ajaib menyesaki semua pasang mata
kepanikan yang diam tengah malam
jiwa jiwa tak terdengar jeritannya
ruh ruh luruh dari tangkainya

ini petaka, ini petaka
manusia ini simpang siur di jalan uzur
hingga sebuah tugu dibangun pemerintah sebuah kota
di kemudian hari
saat alam kembali diam, dan kabut dingin
kembali ke sarangnya.

O, Dukuh Legetang
suatu saat aku ingin datang
menziarahi sejarah itu
memeluk tugu itu
mencari ridho bumi, atas sajak yang terlanjur kutulis ini.

10 Agustus 2019

Tidak ada komentar