boleh dilihat

HEADLINE

KAMAR PENYAJAK_( Karya Riduan Hamsyah )


KAMAR PENYAJAK

Ada masanya, sulit kau temukan
kata kata
sekedar menyusun sebuah sajak
mewakili dinding warna telor asin
mesin berpendingin
sehingga percakapan jadi renyah dikunyah

jam dinding yang mulai letih berkeliling
udara hambar
sekawanan nyamuk sembunyi di kolong

engkau tetap pada pendirianmu
yang dungu
mencipta ilusi waktu, memeriksa bayangan
kesilaman memantul di ubin

sungguh, ruangan ini tetap seperti ini
menampung pikiran pikiran aneh
mengurung tubuh saat letih.
Sesekali engkau diselimuti kain tipis saja
yang menjelma wujud kekasih, menawarkan sisa permainan malam.

Banten, 22.05.2019



DI SAMPINGNYA KINI

Di sampingnya kini nasib serupa tarian udara
sebuah kutukan
yang telah mengitari tubuhnya belasan tahun lalu
saat itu pada sebuah sajak pernah dititipkan kalimat
perihal sebuah rumah
dan tiga rumpun bunga yang tumbuh di halaman

perihal air hujan
yang pergi ke perigi.

kemudian ia memeriksa itu pada kemudian hari
menemukan kenyataan,
bila nasib, sebenarnya, adalah sebuah konsep lama
yang terbuncah tak sengaja
meletup di langit sepi. Pernah merupa mimpi
pernah juga menghinggapi kemanapun ia pergi

Banten, 22.05.2019

DI LUAR TAK ADA BULAN

Di luar  tak ada bulan
tanah retak retak, debu menyemat di langit pucat.

Sekelebat tubuh ditariknya
ke dalam dirinya yang tiba tiba saja menjadi sangat sepi

bahkan setengah terengah
setengahnya lagi buru buru

untuk sebuah hasrat bertaut
dinding kamar ini terbakar, dan udara menjadi hangat hangat kuku

Banten, 22.05.2019

UNTUK SEBUAH KALIMAT CINTA

Sebenarnya, beberapa hari ini, ingin sekali kutulis
sebuah sajak cinta
sebuah mimpi yang belum selesai kembaranya
kata kata menggulung tubuh kita
merupa sebuah pergulatan hidup, sebuah sekat
yang mesti begitu rapat kita tutupi

hari hari meledak jadi minggu, jadi bulan
jadi dimensi waktu, ketika kita merasa menemukan
segala sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Entah kenapa, aku kian menemukan banyak kemungkinan
yang pulang pada arah semula kita cemaskan
menjadi sebuah retorika, tetapi engkau membuat aku banyak diam
kemudian aku menyimpulkan bila kalimat cinta itu
sebenarnya telah sempurna-
menyempurnakan kita sebagai partikel mungil cahaya
ya, cahaya yang tak begitu kita utarakan sebelumnya

Banten, 22.05.2019

Penulis:Riduan Hamsyah, sejumlah karyanya terdapat dalam buku-buku antologi pribadi dan bersama. Pernah juga tersiar di sejumlah media lokal dan nasional. Saat ini ia memilih untuk menulis secara pribadi, tanpa bergantung pada media siar konvensional.

Tidak ada komentar