boleh dilihat

HEADLINE

MENOLONG SAHABAT_Cernak Sutono Adiwerna (Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 37

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen,cernak dan artikel (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


Bel tanda istirahat berbunyi. Setelah Bu Indah meninggalkan kelas,anak-anak kelas 6 berhamburan keluar. Ada yang ke kantin,perpustakaan,ada pula yang menuju masjid di dekat SD Tunas Bangsa untuk sholat sunah.

“Ke kantin yuk Nah!” ajak Vivi.

Sakinah yang sedang melamun tak mendengarkan ajakan sahabatnya.

“Ke kantin yuk, Nah!” ajak Vivi sekali lagi. Kali ini dengan sedikit berteriak.

“Ke..mana  Vi?”tanya Sakinah dengan sedikit terbata.

“Ke kantin yuk!”

“Anu..Vi,  aku masih kenyang”

“Masih kenyang atau nggak punya uang?”ujar Vivi setengah berbisik agar teman-teman lainnya tidak mendengar. Sakinah masih diam seribu bahasa.

“Vivi yang traktir deh?” lanjut Vivi.

“Nggak ah. Terimakasih banyak Vi”

“Ya sudah,Vivi  ke kantin dulu ya ” kata Vivi akhirnya. Sakinah menganggukan kepala.

Sudah beberapa hari ini, Vivi melihat sahabatnya melamun, bahkan ketika Bu Indah wali kelasnya sedang menyampaikan pelajaran. 

Vivi kenal dengan Sakinah sudah lama.  Semenjak dirinya menjadi siswi baru, tiga tahun lalu. Vivi senang bersahabat dengan Sakinah. Karena selain ramah, dia juga bintang kelas yang tak sombong. Sakinah akan dengan senang hati menjelaskan jika Vivi bertanya pelajaran yang sulit.

Hingga suatu sore, Sakinah main ke rumah Vivi dengan mata yang sembab.

“Viii..”tangis Sakinah pecah

“Ada apa Nah?”tanya Vivi sembari mengusap punggung sahabatnya. Sakinah masih menangis sesenggukan.

“Ada apa Nah?”tanya Vivi lagi, saat tangis sahabatnya mulai mereda.

“Kata Ibu, aku tak usah meneruskan sekolah. Lulus SD saja sudah untung. Tak ada biaya katanya.”

“Lho kamu kan pintar. Kamu pasti bisa masuk SMP Negeri yang favorit sekalipun.”

“Percuma Vi. Kata Ibu, meski sekolah SMP tak ada SPP lagi, biaya lain-lainnya tetap saja besar dan memberatkan. Ibu kan Cuma buruh pabrik. Setelah Bapak wafat, Ibu memang bekerja keras, banting tulang sendirian. Aku memang tak pantas jadi guru ya Vi? Aku memang pantasnya jadi buruh pabrik teh seperti Ibu ya Vi?”

“Kamu cerdas, pintar Nah. Bahkan jadi dokter atau jadi apapun kamu pantas Nah! Kamu yang sabar, kuat ya! Sekarang kita fokus saja sama ujian nasional yang tinggal dua minggu lagi. Nanti kita sama-sama cari cara agar bisa masuk SMP pilihan kita.”

***

“Bunda, Sakinah kasihan ya?”ujar Vivi sembari menaruh segelas orange jus untuk bundanya. Setelah berterimakasih pada putrinya,

”Kasihan kenapa sayang?”
“Ibunya melarang Sakinah masuk SMP. Bunda kan tahu,Sakinah anak yang baik, pintar lagi. Sayangkan kalau bintang kelas SD Tunas Bangsa hanya tamat bangku Sekolah Dasar.”

Mata Bu Laras berbinar. Berkaca-kaca. Tak menyangka anak kesayangannya memiliki hati mulia.

“Lalu apa yang akan Vivi lakukan?”selidik Bu Laras.

“Vivi akan memecah Si Kodok. Nanti uangnya untuk Sakinah semuanya. Pasti isi Si Kodok sudah cukup banyak. Si Kodok  kan sudah tiga tahun. Sama dengan usia persahabatan kami”

“Bunda setuju saja. Tapi,tabunganmu katanya mau buat membeli laptop?” selidik Bu Laras.

“Kan bisa pinjam laptop Ayah atau Bunda. Hehe. Vivi akan sedih jika sampai Sakinah putus sekolah Bun ”ujar Vivi mantap.

Jam di ruang tamu menunjukan pukul sembilan malam. Bu Laras menyuruh putrinya segera ke kamar agar besok tak bangun terlambat. Sebelum beranjak meninggalkan ruang tamu, Vivi berkata “ Bunda, besok kita ke rumah Sakinah ya! Membujuk ibunya Sakinah agar mengijinkan Sakinah terus sekolah”

Bu Laras menganggukan kepala dan  tersenyum. Manis sekali.

Tamat


Tentang Penulis:

Sutono Adiwerna. Cerpen anaknya pernah dimuat di majalah Aku Anak Soleh, Ummi, Soca. Koran Suara Merdeka, Wawasan dan Radar Bojonegoro. Selain menulis cerita anak, penulis juga aktif di Forum Lingkar Pena dan Rumah baca Asma Nadia Cabang Tegal

Tidak ada komentar