boleh dilihat

HEADLINE

KUPU KUPU DI LANGGAR TUA_Cerpen Eko Setyawan(Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 36

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen,cernak dan artikel (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


“Apakah benar, orang yang telah wafat dapat menjelma menjadi apa saja, Bu?” tanya Marina pada gurunya mengaji.

Pertanyaan itu bermula ketika ia mengingat kata nenek. Saat itu, Marina sedang menyandarkan kepalanya di pangkuan neneknya. Di dipan yang sudah usang di beranda rumah itu, nenek mulai bercerita tentang ibu Marina yang mengunjungi anak perempuannya saban malam.

“Kau tahu Marina, ibumu selalu datang tiap malam,” kata nenek dengan meyakinkan.

“Apa benar, Nek?” tanya Marina dengan rasa penasaran yang menyelimuti.

“Tentu saja, Marina.” Nenek berkata dengan begitu dalam sembari mengelus rambut Marina. Terpaan angin mengelus wajah nenek dengan lembut. Rambut nenek yang telah beruban itu tampak saling silang-menyilang berebut saling memeluk satu sama lain.

Marina tampak kedinginan. Tubuhnya tergulung. Ia memeluk kedua kakinya. Hujan menyebabkan angin bertiup agak kencang. Tempias hujan yang terbawa sesekali menyapu wajahnya dan tentu saja wajah nenek. Menghadirkan sejuk dikulitnya. Marina benar-benar menikmati hawa dingin itu.

Memang. Orang-orang di desa percaya, bahwa ketika hujan turun, terlebih pada sore menjelang magrib, ada baiknya tidak berada di dalam rumah. Katanya, bisa-bisa penunggu desa akan murka. Padahal hal itu tidak benar adanya. Apakah kau percaya dengan hal demikian? 

Jangan. Jangan pernah percaya. Semua itu hanyalah mitos yang sebenarnya ada alasannya. Marina sama sekali tidak percaya dengan hal itu. Tetapi ia menghormati neneknya agar tidak menyakiti hati orang telah merawatnya sejak bayi. Selain itu, ia keluar rumah demi sebuah keyakinan, yakni sebenarnya untuk membuat dirinya merasa aman. Marina tahu, bahwa sesungguhnya mitos itu dibuat agar warga keluar rumah ketika hujan tak lain adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya saja ketika ada hujan deras disertai angin, bisa saja ada pohon tumbang. Lantas akan menyebabkan kerusakan dan yang paling berbahaya yakni tiba-tiba menimpa rumah. Sehingga jika hal itu benar-benar terjadi, orang yang ada di depan rumah tahu dan masih bisa menyelamatkan diri. Karena jika masih di dalam rumah, kemungkinan besar tak bisa menyelamatkan diri. Hal itulah yang menyebabkan orang desa membuat mitos. Agar segalanya baik-baik saja.

Sebenarnya bukan mitos yang layak dipercayai, namun ada petuah yang disamarkan dari adanya kepercayaan turun-temurun itu. Segalanya demi kebaikan bersama. Marina meyakini semuanya. Antara percaya dan tidak, demi kebaikan dan petuah baik, ia melakukannya.

“Kau pernah melihat kupu-kupu di kamarmu?” tanya nenek pada Marina. Masih dengan elusan di rambutnya.

Dalam keadaan itu, kantuk menyerang Marina. Matanya lamat-lamat mengatup. Namun masih tertahan karena rasa penasarannya.

“Iya, Nek. Memang kenapa?” kata Marina bersamaan dengan menahan rasa kantuknya, Ia masih berusaha mengucapkan pertanyaan.

“Itu adalah ibumu,” kata nenek dengan perasaan mendalam.

Marina terlonjak. Rasa kantuk yang melanda matanya seketika hilang. Ia pun mulai duduk dan mengangkat kepalanya dari pangkuan nenek. Rasa bimbang menyeruak di kepala Marina. Dirinya gelisah.

Bagaimana mungkin seorang yang telah wafat dapat menjelma kupu-kupu. Itu adalah hal yang mustahil. Jika pun benar adanya, bagaimana itu bisa masuk dilogika manusia. Memang, ibu Marina telah wafat sejak melahirkan Marina. Sesaat setelah Marina lahir. Begitulah kata nenek. sehingga sejak kecil Marina dirawat neneknya.

Sebagai seorang anak, tentu saja ada kerinduan di dada Marina. Ia yang kini sudah masuk sekolah menengah ingin sekali berjumpa dengan ibunya. Siapa yang tak ingin bertemu dengan orang yang telah melahirkannya. Tentu semua orang di dunia ini menginginkan hal yang demikian. Sungguh.

***

Marina masih terduduk di tempatnya. Ia belum beranjak setelah pertanyaan yang ia lontarkan belum mendapatkan jawaban dari gurunya mengaji. Dirinya gamang. Menunggu sebuah jawaban untuk melegakan hatinya. Menunggu jawaban untuk jalan keluar dari rasa penasaran yang menyelimutinya.

“Apakah benar, orang yang telah wafat dapat menjelma menjadi apa saja?” Marina mengulangi pertanyaan yang sama. Kali ini diucapkan dengan lembut dan diselimuti perasaan yang mendalam.

Teman-teman mengaji Marina memperhatikan dengan seksama. Menatap dengan lekat seolah tak percaya dengan yang diucapkan oleh Marina. Mereka tidak tahu apa yang dimaksud oleh Marina. Kebingungan menyelimuti mereka.

“Memang kenapa, Marina?” Ustazah tersenyum. Menyunggingkan bibirnya. Ada kedamaian di wajahnya.

“Kata nenek, ibuku selalu pulang dan menjadi kupu-kupu,” ucap Marina dengan polos.

Ustazah kembali tersenyum, lantas mendekat ke Marina dan memeluknya. Teman-teman Marina juga semakin mendekat dan mengelilingi Ustazah serta Marina. Dari wajah mereka tampak sebuah rasa keingintahuan yang begitu dalam. Mereka sedang mengunggu sebuah jawaban.

“Begini, Marina,” kata Ustazah disertai elusan di kepala Marina, “semua orang yang telah wafat tidak bisa menjadi hewan seperti apa yang telah diceritakan nenekmu.”

 “Tapi kata nenek, ibu selalu pulang dan menjadi kupu-kupu?” Marina gelisah. Ia mulai gusar.

Anak-anak yang lain tak ada yang berbicara. Mereka begitu khusyuk mendengarkan percakapan Marina dan Ustazah. Namun tiba-tiba ada seekor kupu-kupu berwarna hijau kekuningan masuk ke langgar, hinggap di salah satu jendela di sudut langgar. Mereka pun riuh. Seolah apa yang sedang dibicarakan menjadi kenyataan. Mereka berpindah dan bersembunyi di balik punggung Ustazah.

“Kalian kenapa?” tanya Ustazah dengan senyum seperti biasanya.

“Apa itu ibu Marina, Bu?” sahut salah satu dari mereka.

Riuh kembali terdengar. Mereka ketakuatan.

“Anak-anak, itu bukan ibu Marina. Kalian kembali ke tempat kalian,”kata Ustazah menenangkan. Anak-anakku mulai kembali ke tempat mereka. Mereka kembali dengan rasa sedikit gentar.

“Begini anak-anak, juga kamu Marina, sebenarnya apa yang dikatakan nenek itu tidak benar adanya. Melainkan, apa yang dikatakan nenek Marina itu tak lain adalah agar kita tidak menyakiti hewan,” Ustazah menarik napas lantas melanjutkan, “kupu-kupu diibaratkan keindahan, mungkin saja nenek Marina ingin mengatakan bahwa ibu Marina itu serupa kupu-kupu, cantik dan indah. Dan yang paling penting adalah Marina tidak menangkap kupu-kupu itu karena bisa menyakiti mereka.”

“Berarti ibu Marina itu cantik dan indah seperti kupu-kupu, Bu?” kata Marina menanyakan kepastian.

“Dan kita tidak boleh menyakiti binatang ya, Bu?” tanya anak yang lain.

“Benar sekali anak-anak,” kata Ustazah dengan senyum yang mengembang. Senyum yang menunjukkan jalan keluar bagi rasa penasaran dan ketidaktahuan anak-anak.

Marina dan teman-temannya menganguk. Mereka mengerti apa yang dikatakan Ustazah. Kupu-kupu yang semula hingga di jendela di sudut langgar mulai terbang. Lantas hinggap di kepala Ustazah.

Tentang Penulis:

Eko Setyawan, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Kuliah di Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret. Buku kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, dan Literasi Kemuning. Karya-karyanya tersebar al. Koran Tempo, Solopos, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Malang Post, Radar Bromo, Analisa Medan, Magelang Ekspres, Banjarmasin Post, Haluan Padang, Fajar Makassar, Jurnal Asia, Cendananews.com, Saluransebelas.com, Takanta.id, Infotimur.com,  Nusantaranews.co, dll.

Tidak ada komentar