boleh dilihat

HEADLINE

KEPADA KLINTING_Puisi Puisi Hendri Krisdiyanto (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk
tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.



KEPADA KLINTING

Sejauh kaki melangkah
Di Kota yang tak lagi ramah
Sejauh ingatan kelam tentangmu
Pada setiap waktu tak tentu
Aku rindu.

Bagaimana nasib cintaku, Tuhanku?

Aku tak pernah mampu
Menanggalkan setiap cerita
Apalagi peristiwa
Saat kita percaya
Bahwa setia adalah
Pilihan paling mulia.

Namun jawaban
Tak selalu benar
Engkau pergi
Dengan alasan
Mengenang adalah cara terbaik
Untuk bangkit.

Dan ketahuilah, Cintaku
Aku tak pernah menolak
Untuk melupakanmu
Tetapi, berusaha itu berat.

Yogyakarta, 2017


AKU INGIN TIDUR


Aku ingin tidur sepanjang hari
Dan berharap engkau datang sebagai mimpi

Aku ingin memimpikan dirimu
Sebagai khayalan yang tak pernah jadi nyata
Dan kenyataannya aku gagal meminangmu.

Yogyakarta, 2017


DI KAMAR INI


Ingatan beku, bagai pengembara
Yang kehilangan arah
Aku tak tahu kapan senja
Kembali ke tempat muasalnya

Di kamar ini
Tak ada yang lebih kekal
Selain membayangkanmu
Sebagai khayalan terdekat
Untuk aku jangkau

Di kamar ini
Aku dan mimpi-mimpiku
Akan berlayar ke setiap arah
Yang itu rahasia.

Yogyakarta, 2017



KEPADA MARIYAH

Di tepi jalan
Aku duduk seorang diri
Malam cukup kelam
Seperti masa-laluku
Yang tiada terang

Aku menatap bulan
Ia memancar tanpa peduli
Meski mendung adalah tirai kenyataan

Suaramu masih terdengar
Di telinga menggema.
Meski jarak adalah pilihan
Yang mesti kita tempuh
Untuk memulai rindu

Aku masih saja duduk
Di tepi jalan
Aku percaya puisi adalah
Ritual kita sebelum menenggelamkan
Diri ke alam yang nyata.

Yogyakarta, 2017


MALAM INI


Malam ini mendung, Ibu
Bulan tiada lagi memancar di atas langit
Suara-suara bertahan dalam diri pemiliknya
Dan aku anakmu, bingung
Di tengah kota yang tak lagi ramah kepadaku
Atau mungkin jika kau di sini, juga kepadamu

Malam ini mendung, Ayah
Bintang yang biasanya gemerlapan
Seakan akan kini berlindung dibalik mendung
Selain hujan, mendung kerap kali mengundang petir
Menebar getir.

Yogyakarta, 2017.


RINDU KAMPUNG HALAMAN



Dalam rentang jarak
Madura-Jogja
Aku bagai kehilangan
Kampung halaman
Desa yang kerap kurindukan
Seperti semakin menjauh
Setelah dalam dadaku
Sesak dengan deru kendaraan
Dan polusi bis kota.

Kapan aku pulang?
Jalan masih panjang
Tentu dengan rindu
Semakin dalam

Biarkan dulu aku tumbuh
Dengan mimpi-mimpi
Yang mencakar langit
Meski kaki menjejak bumi.

Yogyakarta, 2017


PULANG

Segenap ingatan yang terpendam
Kepada ibu dan bapak
Tiba-tiba tumbuh sebagai doa
Yang dikabulkan Tuhan

Kampung yang menyimpan
Suka-dukaku merekah di depan mata
Kenangan yang menerbangkan luka
Membangkitkan segenap khayalku
Pada setiap peristiwa tentangmu

Karena aku bukan pengingat yang baik
Untuk mahluk semacam kenangan
Sejenak aku menjelma sebagai perela
Yang lebih tabah dari dukamu.

Aku pulang menafkahi bulir-bulir rindu
Pada setiap kenyataan yang tampak
Sebagai dirimu.

Bantul, 2017



CATATAN UNTUK LIFAH
;part 1

Di sepanjang jalan tua itu
Aku menunggumu
Saat matahari merapikan
Segenap bayang-bayang
Dalam dadanya yang sesak
Dengan cahaya Tuhanku

Aku masih setia menunggumu
Bagai si Hamba yang menunggu
Jawaban doa dari Tuhannya
Bagai engkau yang tetap
Purnama dalam pandangku

Aku tak punya banyak cerita tentangmu
Dan aku masih ingin merangkainya
Dengan cinta yang tak pernah
Dapat jawaban darimu.

Yogyakarta, 2017

CATATAN UNTUK LIFAH 
;part 2

Aku menahan tangis seorang diri
Kesedihanku ditandai jawaban waktu
Yang telah menciptakan Lelaki
Untuk Lifah yang kucintai

Aku menahan tangis seorang diri
Bersama bulan yang remang
Tertimbun mendung
aku merenungi nasib
pada setiap kenyataan tentangmu

Aku menahan tangis seorang diri
Berusaha kuat dan tersenyum kepadamu
Meski kenyataannya aku gagal
Menyematkan–mu sebagai bunga
Dalam jiwaku.

Bagaimana nasib cintaku Tuhanku?

Berikan seteguk anggur dari Tuhanku
Niscaya aku akan meminumnya untukmu.

Yogyakarta, 2017


CATATAN UNTUK LIFAH
;part 3

Masih tentang mendung
Yang berkabung
Di pelupuk mataku, Lifah
Tentu aku berharap semoga
Hujan tak turun
Hari ini

Sebab, pernyataannmu sempurna
Menenggelamkanku
Di laut harapanku

Aku hanya duduk
Dalam kamar
Seorang diri

Luka ini milikmu, Lifah
Aku tak mengenalnya
Jauh sebelum mengenalmu.

Yogyakarta, 2017

Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Puisinya pernah dimuat di: Minggu pagi, Kabar Madura, Koran  Dinamikanews, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Buletin kompak, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi :2016), Kelulus (Persi :2017) Dan The First Drop Of Rain, Banjarbaru, 2017. Sekarang aktiv di Garawiksa Institute, Yogyakarta. 




Tidak ada komentar