boleh dilihat

HEADLINE

CERITA PANJANG YANG TAK PERNAH USAI_Puisi Puisi LY. Misnoto (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)





CERITA PANJANG YANG TAK PERNAH USAI

di teras rumah tua itu,
kau bercerita tentang air mata rakyat desa

“mereka menagis”, ucapmu
berharap air mata itu segera usai
bersama harapan yang sudah di depan mata

sudahlah,
air mata itu takkan pernah terbalas
sudahlah,
harapan itu takkan pernah terjawab

begitu berdarah, kau menceritakan negeri ini
“busuk”, ucapmu sekali lagi
mereka tak pernah peduli

hingga suatu hari kau mulai lesu
padahal cerita itu belum usai

“sudahlah, aku sudah bosan
bercerita tentang negeri ini
semua layaknya tentang neraka
yang sudah penuh dengan
manusia-manusia”.

Malang, 2018


CERITA DALAM PENANTIAN

berdoa dalam lamunan mimpi. membawa harapan dalam pembaharuan jalan-jalan kepastian mimpi. bersama angin-angin malam yang menghunuskan janji-janji sebuah kepastian. jiwa ini masih tertidur pulas dalam menanti pastinya mimpi. terkadang terekam dalam angan tentang jiwa-jiwa yang sudah lama berpulang pada rumah-rumah mereka sesungguhnya. mungkinkah mimpi ini akan menjadi pasti sebelum aku kembali?

perjalanan ini sudah terlalu.aku hanya mampu menaklukkan angan agar terus tak bermimpi. hingga mimpi mengalir dalam pilu, lalu bersegera menjadi sengsara. sudah aku pastikan jiwa ini akan terkapar sebelum mimpi tercapai dalam nyata. nyata yang pasti. bukan nyata yang akan mengembalikan pada mimpi-mimpi tentang kepalsuan.

mimpi adalah penantian panjang dalam perjalanan kehidupan yang terumuskan pada alpha, beta, dan teta masa.

akan aku ceritakan sebelum kehidupan selesai. rotasi mimpi dalam cerita itu akan berakhir sendiri sebelum purnama kembali meyepuhkan tunas-tunas bumi. akan terjadi nyata tentang mimpi-mimpi itu.

penantian akan segera selesai dalam cerita-cerita.

pada mantra-mantra kehidupan tergores harapan-harapan. “semoga tak selesaikan sebelum semuanya menjadi pasti”, ucapku ketika malaikat-malaikat menghampiriku di jendela kamar. Keindahan akan segera usai bukan?

Malang, 2018


PENANTIAN

cerita dalam penantian, yang adalah penyesalan. yang adalah kerinduan. yang adalah nasib.

pada jejak langkah yang berlalu, menjanjikan harapan: penantian yang belum berakhir. penantian yang sudah melelahkan jiwa. dalam hasrat yang masih menggoreskan nestapa.

yang terkadang berlalu dalam bara penyesalan. masih berkobar tanpa peduli deria menghabiskan api-api sesungguhnya dalam sukma.

bukan sekedar cerita dari mulut ke mulut. dari kata ke kata. dari dongeng ke dongeng. sampai pada bira*i  yang menyimpannya dengan harapan, namun penantian adalah rasa hampa dalam jiwa.

Malang-Sumenep, 2018


HARAPAN


harapan sebagai kesemuan
dalam setiap mimpi-mimpi

harapan sebagai kepiluan
di antara hasrat-hasrat yang dipuja

di antara mimpi-mimpi yang terlena dalam sadar
harapan adalah doa setiap insan pengobar rindu

di antara langkah yang terkadang terhenti
harapan bersembunyi dalam keterdiaman yang bisu

bukan sekedar omongan para pemimpi dan pembual
namun ucapan para pengedar mimpi dan bualan
:
biarkan harapan menjadi abu dalam omonganku

Malang-Sumenep, 2018


PENYAIR

sekian panjang perjalanan
membawa sekedar kata dan diksi
lalu mengaduknya menjadikan sarapan pagi

setiap hari mengais-ngais sampah,
tapi penyair bukanlah pemulung
setiap pagi berjalan sesekali menoleh kanan dan kiri
tapi penyair bukanlah orang yang tak waras
setiap siang duduk di trotoar jalan
tapi penyair bukanlah pengemis
setiap sore mendatangi toko-toko
tapi penyair bukanlah pengamen
setiap malam nyenyak dalam bait-bait puisi
tapi penyair bukanlah pemimpi dalam mimpi

maaf, penyair bukanlah tidak punya rasa
karena hidupnya penyair adalah rasa
penyair bukan tidak punya hati
tapi penyair hidup dengan hati
rasa dan hati penyair,
terkumpul dalam setiap bait puisinya

penyair juga bisa galau
penyair juga bisa kehilangan
penyair juga bisa menangis
penyair juga bisa tertawa
pernyair bisa segala rasa
karena semuanya adalah keindahan penyair

penyair lahir dari rahim kata dan diksi
hidup dalam cerita yang berkepajangan
sesekali menanti arwah-arwah puisi
untuk sekedar diciptakan tubuh-tubuh baru

ini hanya sekedar wacana ilusi tentang penyair
yang selalu terlihat tentang keanehannya
dan keterbatasan dalam kehidupannya.

Malang, 2018

Tentang penulis :

LY. Misnoto lahir di Sumenep, Madura. Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia merupakan alumni Sanggar Aksara dan Forum Intelektual Santri (FITRI) PP. Nurul Islam, Karangcempaka Sumenep, saat ini ia tercatat sebagai anggota Komunitas Pena (KOMA) Malang. Beberapa puisinya sudah dikumpulkan dalam beberapa buku antologi bersama yang di antaranya Warna-Warni Bahasa Nusantara (Rumah Kita, 2016), Indahku dalam Junimu (Al-qalam, 2017) dan satu buku antologi tunggal dengan judul “Memori Juli” (Vista Publishing, 2018).


Tidak ada komentar