HEADLINE

KERIKIL TAJAM | Sajak Riduan Hamsyah |

Kerikil tajam itu menusuk kaki, denyarnya hingga ke punggung, setengah bulan ini saya tak nyaman tidur. Tak fokus memandangmu meski dari kejauhan sekalipun. Hari hari rabun, bulan bulan tertimbun, cahayanya runyam pada pikiran dan kita semakin mencintai dengan cinta yang hambar saja.

Percayalah, kita semakin menua. Semakin melihat bayang bayang kepunahan yang menyamar jadi tingkah aneh bumi ini: ada wabah tak kunjung selesai, ada segelintir orang berbisnis jarum, sementara dirimu jadi ahli nujum. Celaka sekali, zaman ini..! Di remang keterbatasan jarak pandang, rumah-rumah bersusun rapi, penghuninya sembunyi menata letak warna tembaga, menyibak kain gorden lalu memutupnya kembali pelan pelan.

Sekelompok elit pesta santai memandang ke arah pantai. Orang orang mulai sepi berenang, cuma sesekali bau keringat nelayan melintas dan tentunya kerikil di pasir-pasir juga tajam. Menghujam hidup. Menaburi biji mata. Selaksa konspirasi kian matang saja di dapur ritual yang bengal, mereka tinggal menyantapnya, pelan pelan. Menelan. Daging kita yang telah lama kehilangan rasa.

Kerikil tajam itu menusuk hati. Mengancam peradaban ini. Sketsa yang hampir sempurna, tetapi saya percaya: tuhan akan menggagalkannya...

Ruang Sastra, 27062021

(Penulis: Riduan Hamsyah, pekerja seni dan konten kreator)

Tidak ada komentar