boleh dilihat

HEADLINE

PELAJARAN NASI PADANG_Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 23

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


Joko kaget begitu telinganya mendengar seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke sana dan kemari, dan sesaat kemudian ia melihat seseorang melambai-lambaikan tangan di seberang jalan.

“Sini!” teriak orang itu—ia lelaki, kedua telapak tangannya dijadikan corong seperti pengeras suara. Meski Joko belum tahu persis siapa orang itu, ia menyeberang saja. Dan saat sudah di dekatnya, Joko masih juga belum tahu siapa orang yang melambaikan tangan ke arahnya itu.

“Apa kabar? Lama kita tak bertemu.” Joko terheran-heran. Ia mencoba mengingat-ingat wajah orang di hadapannya.  Melihat raut muka Joko yang bertanya-tanya, orang itu tersenyum.

“Maaf Anda siapa ya? Saya lupa.”

“Lupa? Lupa dengan aku? Coba ingat-ingat kembali,” perintah orang itu, bibirnya menyisakan senyum.

“Saya tidak ingat. Sungguh. Siapa Anda?”

“Aku teman lamamu, teman SMA. Kita dulu sering ngobrol masalah puisi di kantin sekolah. Masa tidak ingat? Atau kalau masih lupa, aku adalah orang yang selalu bilang kepada Aryati, gadis pujaanmu, ketika kita bertemu dengannya, ‘Ti, dicari Joko’.”

Joko diam, matanya adalah mata orang berpikir. Tiba-tiba ia berteriak dengan sangat keras.

“Saprawiiii? Kau Saprawi. Ya, kau Saprawi. Wah, bagaimana kabarmu? Aku kok bisa-bisanya selupa ini,” kata Joko girang. Kemudian mereka berpelukan.

“Ya, seperti ini kondisiku,” kata Saprawi, seusai melepas pelukan ke Joko. “Tadi awalnya aku ragu-ragu, meragukan wajahmu, apakah Joko atau bukan, karena kita yang lama tak bertemu. Niat mengurungkan diri untuk tidak memanggilmu sempat tersirat di benakku. Tetapi kemudian aku tak peduli, aku tidak peduli menanggung malu jika kau bukan Joko. Ehhh, ternyata memang Joko temanku.”

Joko pun tertawa.

“Kau masih berpuisi?”

“Aku tidak dapat pisah dengan puisi. Apalagi sekarang sudah mendarah daging. Bagiku puisi adalah obat manjur untuk mengobati disaat hati sedang terluka.”

“Gombal!”

“Kok gombal?”

“Selain itu apa kegiatanmu? Maksudku pekerjaanmu?”

“Aku melukis. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk saat ini.”

“Hanya itu? Hanya itu, tapi omsetnya lumayan?” Joko nyengir.

“Ya, begitulah. Kamu sendiri bagaimana? Oya, sudah berapa anakmu?”

“Sudah berapa anakmu?” Joko mengerutkan keningnya.

“Iya, kau tidak salah dengar. Sudah berapa anakmu?” Sementara kian siang, jalanan kian ramai dengan kendaraan. Macet tak dapat terhindarkan. Asap kendaraan yang begitu pekat mencemari udara.

“Pertanyaanmu gila, memangnya aku sudah berapa lama menikah? Baru dua tahun, kawan. Doakan kawan, sebentar lagi istriku melahirkan,” ucap Joko. “Sekarang aku menjadi pengemudi ojek online. Istriku membuka warung sembako di rumah. Beginilah keadaanku.”

“Wah… Wah… Semoga persalinannya nanti diberikan kelancaran oleh Tuhan. Kukira anakmu sudah banyak.”

“Anakmu berapa?”

“Boro-boro anak, nikah saja belum.”

“Kalau calon?”

“Sudah ada.”

“Jangan lupa undangannya, ya.”

“Aku akan lupa. Kau tidaklah begitu penting.”

“Kau belum berubah, Saprawi. Masih suka bercanda.”

“Hahahah… Jangan dimasukan ke hati. Tentu saja aku akan mengundangmu. Oya, kau sudah makan belum? Kalau belum mari makan. Ini adalah hari paling bahagia selama hidupku, aku akan menraktirmu nasi padang. Dan mumpung kita sedang di depan rumah makan padang juga.”

“Jangan-jangan bertemu kembali denganku setelah sekian lama tak bertemu malah sebagai hari paling buruk di hidupmu?”

Saprawi tertawa, Joko pun demikian.

“Ehh, sebentar aku mau mengambil motorku dulu.”

“Di mana motormu?”


“Itu.” Joko mengacungkan telunjuk ibu jarinya ke seberang jalan.

“Ya, sudah, kau ambil motormu dulu.” Lalu Saprawi masuk ke dalam rumah makan padang di belakang ia berdiri.

***

Tanpa malu dan ragu, Saprawi bersendawa setelah nasi padangnya habis. Es tehnya tinggal seperempat gelas. Ia keluarkan bungkus rokok dan korek gas dari sakunya, kemudian ia mengambil sebatang rokok, lalu ia pasang di mulut. Ia sulut, sesaat kemudian asap mengepul.

Ponsel Joko berdering. Ada yang menelepon. Joko mengangkatnya. Ternyata istrinya. Ia mengabarkan ada salah seorang tetangganya yang meninggal dunia. Selain itu, ia menyuruh Joko untuk pulang, kerja bakti mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman.

“Aku pulang dulu, Sap.”

“Lho, kenapa kok cepat sekali?”

“Tetanggaku ada yang meninggal. Aku tidak enak kalau tidak ikut gotong royong mempersiapkan untuk pemakaman.”

“Oh, begitu… Ya sudahlah, kita sambung lain kali pertemuan ini. Kabar-kabar saja kalau ada apa-apa. Nomor ponselku sudah kau simpan kan?”

“Sudah-sudah.”

“Eh, sebentar. Tunggu sebentar. Kau jangan pulang dulu.”

“Lho?”

Saprawi menghampiri pelayan rumah makan nasi padang itu. Saprawi memesankan Joko nasi padang dua bungkus.

“Ini untukmu nasi padang dengan lauk ikan bandeng. Kau juga tak perlu membayar atas apa yang kau makan. Semua sudah kubayar. Sekarang kalau kau mau pulang, pulanglah."

“Wah, kenapa harus repot-repot?”

“Jangan menolak rezeki. Tuhan tak pernah mengajarkan itu.”

“Siapa yang menolak rezeki? Aku hanya menyayangkan tindakanmu. Aku jadi merasa berhutang budi.”

“Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan.”

***

“Halo?”

“Saprawi?”

“Ya, ada apa, Joko?”

“Aku hanya ingin sedikit memberitahumu.”

“Memberi tahu apa?”

“Soal nasi padang yang kau belikan lima hari yang lalu.”

“Kenapa memang? Tidak kau makankah? Tidak enakkah? Atau istrimu tidak doyan?”

“Bukan itu. Jadi…”

“Jadi apa? Kau jangan membuat aku penasaran.”

“Nasi padang yang kau belikan itu tidak seperti apa yang kau bilang.”

“Hah? Maksudmu?”

“Kau bilang nasi padang dengan lauk ikan bandeng. Tapi kenyataannya sesampai di rumah, hanya nasi, daun singkong, dan beserta kuahnya yang ada ketika bungkusannya kubuka.”

“Sungguh?”

“Iya. Nah…”

“Nah, apa? Aku akan melabrak rumah makan itu! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku yakin pelayan itu sengaja tidak memberi ikan bandeng di setiap bungkusnya.”

“Tenang dulu, kawan. Tadi aku sudah ke sana. Kujelaskan pada pelayan itu, bahwa nasi padang yang kau belikan belum diberi ikan bandeng. Ia bilang lupa. Aku melihat wajah pelayan itu tampak malu sekali. Tapi malunya itu malu beda.”

“Malu beda? Beda yang bagaimana?.... Oh, aku tahu. Ya, ya. Ia sengaja tidak memberi ikan bandeng. Jelas sekali ada maksud tertentu di balik tindakannya itu. Dugaanku, ia hendak korupsi untung dari penjualan.”

“Dugaanku juga serupa denganmu… Tapi, ya, sudah. Masalahnya sudah selesai. Tidak usah diperpanjang. Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih padamu.”

“Sama-sama.”

“Mulai sekarang kalau aku membeli nasi padang, sebelum meninggalkan rumah makannya, aku akan membuka bungkusan nasi padangnya. Ini penting! Ini pelajaran untuk kita. Iya kan?…”

“Betul.”

Bantul, 2018


Tentang Penulis :

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Akhir-akhir ini ia mengikuti diskusi di komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.





Tidak ada komentar