boleh dilihat

HEADLINE

Edisi Sabtu, 16 September 2017_ PUISI PUISI JUWARTA SANGAJI (Kepulauan Sula, Maluku Utara)


TAPI UNTUK MENCINTAIMU

Sesungguhnya ada ingin memahamimu
meski pahammu tak memberi gejolak
tak memberi ombak, atau apa saja yang mungkin
membuat kita dinamis dan tertidur dalam bahasa yang sama.

Apakah aku tak layak menjadi puisi di hatimu?
tiba tiba ada tanya yang tersangkut
entah,
tapi apakah tanah tak mungkin menggapai bintang
atau aku ini air yang tak mungkin menjelma api
terlalu banyak ibarat untuk satu kata.

Ya, benar
aku bukan pecinta sejati
tapi untuk mencintaimu
Tuhan adalah saksi.

Ternate, 2017.


CATATAN DI SUATU SENJA

Kedatanganmu ketika api pecah dari mata langit
tapi waktu mengantarmu bagai kilat
menyambar 
duka dan luka silih berganti 
menganga di balik pintu kamar
yang berhari-hari aku tutup.

Memang, di sini 
ayam masih berkokok
tapi seruk meruk suara pipit tak lagi terlintas
maka aku pun belajar membuat catatan
kaulah- 

fajar yang pulang tanpa bicara.

Ternate, 2017.


TEMBANG PENANTIAN 

Hadirmu bagai angin
pergimu bagai hujan
seperti setitik cahaya
namun lenyap ditelan malam.

Banyak kisah yang singgah di tiris-tiris lisan 
tapi banyak pula kata yang terbuang 
dalam kolam dusta.

Apakah aku terus bersembunyi dengan hati yang tersayat?
atau kita biarkan sunyi ini menjelma 
tembang tembang penantian
tapi seberapa mungkin dada ini menampung hampa?

Dofa, 2017.


SERUPA LANGIT SUDAH BUTA

Di kaki bukit ini
kebenaran adalah bungkam
sementara angin terus mematahkan ranting ranting pohon
mengubur harapan ke dalam tanah sepi.
Menangis, merangkak, menjadi debu
berserakan di jalan raya
diinjak sepatu berkurik mutiara.

Di sini, sebuah suara adalah hati dalam jeruji
sementara agama menjelma bunyi bunyi dalam tembang sunyi
sebab rupiah, telah menjadi raja di atas tungku
serupa langit sudah buta.

Ternate, 2017.

DALAM KAMUS KATA KATA

Di saat sang fajar hinggap di langit Gamalama
angin pun menyapa sekujur tubuh 
ada udara kebebasan yang ingin kami belai
namun tangan terlalu letih.

Kami ingin berkata tentang isyarat
tentang suara hati yang tak sempat kami ucapkan
namun angin belum benar benar bersahabat dengan kami
sehingga setiap suara mesti kami simpan dalam kamus kata kata.

Ternater, 2017.


DI MATA TUHAN

Kita manusia, hidup untuk manusiawi
serupa bayang bayang, mengelilingi seisi bumi
mencari kata untuk  menjadi sebuah bahasa.

Lantas apa yang mesti kita sombongkan?
harta, kemapanan, ketampanan, kecantikan
itu pinjaman
maka mari kita merebah di pangkuan Tuhan.

Ternate, 2017.


SENJA DI UJUNG LARA

Bagai senja hadirmu
ada durja yang terpenggal dalam jiwa 
menyelimuti lara dengan senyum
mengobati luka dengan canda.

Di penghujung sana
kau tertunduk dalam lara
sedangkan bejana menantangmu 
tuk bernyanyi dengan suara merdu.

Aku melihat ada titik terang 
di balik ujung gelap
barangkali tuhan sedang bersabda?

Menyerukan aku agar terus berjalan
bukan terdiam di suatu tempat
dan tertunduk dalam kenangan asmara
yang hilang dicumbui angin.

Dofa, 2017.



Tentang Penulis:

Juwarta Sangaji, lahir di desa Dofa Kec. Mangoli Barat, Kab. Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Kini ia berstatus sebagai mahasiswa (semester III) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP-UNKHAIR. Selain sebagai mahasiswa ia juga aktif sebagai anggota Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara. Ini Karya pertamanya yang disiarkan simalaba.com



Tidak ada komentar