boleh dilihat

HEADLINE

ADA CINTA DI AKHIR DESEMBER_Cerpen Maula Nur Baety (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)


Malam lalu aku masih menyapa awan November. Kini bahkan sudah hampir habis langit Desember. Lalu, pada bulan apa aku membahasakan bahasa kawin? Hingga aku bertemu detik-detik Januari. 

7 Februari 2017  silam, kita masih hanya bertegur sapa dan bergurau bersama rasa cinta monyet. Hingga mematrikan tanggal jadian yang sebenarnya hanya kiasan nama untuk menutupi canda tawa ria mesra kita. 

Tidak apa! Masih terlalu dini, membicarakan bahasa pernikahan kala itu. Hingga hanya semu merah aroma perhatian saja yang mengembangkan hati dengan indah. 

Masih cerita yang sama, dari silam lalu. Tentang arti menunggu hingga waktu berlalu dan bertautan pada hati yang semu. 

Sudahlah! 
Cinta hanya seperkian detik gelenyar dalam dada, bahkan kau tidak bisa melipat-gandakan arti cinta itu dalam dirimu. 

Mari bermain bait-bait kecewa oleh cinta yang tak sesuai irama. Nikmati saja leguhannya, sebab masih dingin untuk menghangatkan dekapan kata-kata cinta. 

***

Sudah satu minggu yang lalu, sepasang itu berdiam kaku dalam balutan baju pengantin namun tidak saling dekat, hanya kehampaan yang mereka terpa. 

Kekosongan apa, yang menghunus mesranya malam pertama? Sementara orang-orang di luar sibuk bergosip apa yang akan dilakukan pengantin baru itu. 

Hanya Tuhan, dan mereka serta tersangka yang tahu. Kenapa bisa membuat mereka berdua tak bersua sama sekali, sedari hari pernikahan. Bahkan nasi pun hanya beberapa sendok, serta merta air tawar yang menutupi sebabnya radang tenggorokan. 

Sebenarnya b0m itu mel3d4k sukses, bahkan tak tersisa sama sekali. Hanya debu-debu luka yang berceceran. Terlalu hancur untuk tersenyum bahkan tersipu, sehingga pipi dan bibir tak bisa tertarik sedikit pun. Pertengkaran pun tidak mereka lakukan, sama-sama memilih diam seribu bahasa. 

Tidak ada yang bertanya, tentang kebisuan yang mengisi kamar itu. Mereka hanya berfikir, sedang menikmati masa-masa indah pernikahan. 

Hingga gadis kecil berumur 10 tahun itu merasa bingung, kala masuk ke kamar pengantin itu. Karena mereka masih mengenakan baju yang sama ; baju pengantin. 

Gadis kecil itu masuk karena ia rindu cerita-cerita yang biasa ia dengar sebelum terlelap, oleh kakak cantiknya yang kini sudah terikat pernikahan. Ia langsung masuk begitu tahu pintu tidak terkunci. 

Ternganga, tak percaya. Itulah yang membuat gadis kecil itu menatap bingung pada air mata dari pipi mereka. 

"Kak, you why?" tanyanya seraya menggenggam jemari yang terbalut sarung tangan itu. 

Jawaban sang kakak hanya gelengan kepala dan senyum terpaksa, semakin membuat gadis kecil itu menatap khawatir sebabnya air mata itu semakin deras. 

Gadis kecil itu berjalan ke sang suami kakaknya, untuk bertanya hal yang sama. Dan jawabannya tak jauh berbeda. Hanya gelengan kepala mewakili kekuatan untuk tidak berkata. Gadis kecil itu gemas, dan mengancam akan teriak biar semua orang tahu. 

"Baiklah ... aku akan teriak biar Mama dan Papa dengar, lalu---" belum selesai gadis kecil itu berkata, ia sudah di tarik ke pelukan sang kakak perempuannya. Dan menangis tersedu sedan. Gadis kecil itu tidak berani berkata lagi, saat mendengar tangisan pilu kakak pertamanya. 

Ia membiarkan tangisan itu pecah, walau ia tidak tahu alasan tangisan itu sebabnya ia tidak ingin membuka luka yang menyebabkan pilunya tangisan. 

Sementara sang lelaki yang sudah sah menjadi suami, kini memilih pergi dan tak kembali lagi. Ia tidak bisa mencapai batas hati yang dipaksakan. 

Saat pintu itu tertutup. Betapa tercabiknya hati wanita itu yang memandang luka pada kepergiannya. Semua ini terasa hanya seperti mimpi paling menyakitkan, namun kini ia harus sadar. Ini bukanlah mimpi, melainkan ini takdir Tuhan. 

Selang beberapa menit. Tangisan itu mulai reda berganti menjadi raut yang begitu menyedihkan. Bahkan saat siapa pun memandang kedua bola matanya pasti sudah bisa melihat betapa luka itu sangat pahit. 

Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi, namun sebelum itu, ia menemui gadis kecil yang tak lain adalah adiknya. 

"Nina janji sama Kakak ya ... jangan beritahu siapapun bahwa Kakak menangis, Nina mau janji kan?" tanyanya lembut seraya mengecup rambut adik kecilnya. 

"Tapi, Kakak kenapa?" ia masih tidak mengerti dengan keadaan rumah tangga kakaknya yang terjadi saat ini. 

"Ini luka yang tidak bisa Kakak ceritakan untuk saat ini, tapi Kakak janji akan cerita ke kamu. Jadi ... Nina mau janji sama Kakak kan, untuk tidak bilang ke siapa-siapa?" Nina langsung mengangguk cepat, kala mata itu menatap harapan penuh padanya. 

Ia tersenyum bersamaan air mata itu lagi. Dengan membawa luka masuk ke kamar mandi, dan bersiap pergi ke suatu tempat. Saat di pintu utama, panggilan ibunya memberhentikan dia dan harus bisa menampilkan senyum untuk keluarganya. 

"Nia mau kemana?" 

Sang ibu berjalan ke anaknya, namun tercegah oleh pelukan gadis kecil. 

"Mama ... Nina mau makan," rengeknya manja, penuh ekspresi memohon perhatian. 

"Minta ambilkan Tante Dea di dapur sayang," jawaban sang ibu, membuat gadis kecil itu berfikir kembali untuk alasan.

"Nina gak mau! Nina mau disuapin Mama." 

Dengan memperlihatkan raut cemberut, yang pasti meluluhkan hati sang ibunya. 

"Baiklah, ayo ... eh tapi, kemana tadi Kakakmu?" Marsita baru sadar anak sulungnya sudah pergi tanpa pamit. 

"Kakak tadi bilang ke Nina, minta bilangin ke Mama izin bertemu sahabatnya. Penting katanya," bohong gadis kecil itu. 

"Baiklah...." Sang ibu lekas membawa anak bungsunya, ke meja makan. 

Nina memang masih kecil, namun ia faham. Mungkin kakaknya butuh waktu, untuk masalah yang sedang menimpanya. 

Hari berjalan sesuai-Nya. Waktu terus merambat kian lambat-kian cepat tak menentu. Berbagai cuaca, dari panas membakar sampai dingin karena hujan. 

Wanita itu yang bernama Nia mulai membuka semua luka yang terjadi, dalam balutan pernikahannya. Ikatan itu sudah terlepas lama, selepas ia pergi menutup pintu rumah kami. Rumah yang selalu dibicarakan dalam layar telpon. Ia memilih kehidupannya dengan sosok yang didamba dan diinginkan. Membingkai kebahagiaan sendiri, bersenda gurau dengan istri dan anak baru yang begitu ia cintai. 

Sementara Nia mulai menutup hati. Membekukan perasaan, menutup segala celah untuk datangnya cinta kembali. Menciptakan raut datar untuk para lelaki, bukan untuk egois dengan menutup fakta bahwa tidak semua lelaki sama. Namun menutup datangnya luka lagi, dan lagi. 

'good bye wanita lemah, and welcome wanita kuat'  kata itu selalu melengkapi pikirannya. Hingga hanya untuk mempertahankan terbawanya perasaan.  

Tidak ada lagi kesempatan untuk mengenal cinta kembali, sebab ia membutakan arti cinta dengan luka. 

Jangan salahkan hati. Bila jiwa juga enggan menolak. Selalu bantahan itu yang menyebabkan kekecewaan mendalam pada diri sendiri. 

7 Februari 2018.

Kini raut itu penuh gelisah, sebabnya tetiba ada sosok yang datang mengisi segala pikiran dan harinya. Dia begitu berbeda, dia begitu terkesan sempurna dimatanya. Melingkupi segala denyut nadi bergetar kala mata kita bertemu, kala dia berucap, kala dia hanya lewat. 

Betapa, dan betapa berartinya dia hingga tak ingin melewatkan waktu dengannya. Rasa itu berbeda, sungguh berbeda dari sebelumnya, rasa ini kian kuat aromanya sampai tak bisa hilang. 

Ah betapa ingin dan ingin, memilikinya jika Tuhan beri kesempatan untuk merasakan cinta kembali.  

Lalu hari itu tiba, hari dimana impian itu, dan terciptalah kebahagian yang begitu sempurna. Itu masih kabut harapan dan mimpi. 

***

Pagi ini Nia memilih minum kopi di cafe kantor. Ia enggan bersenda gurau dengan keluarganya yang selalu berusaha membuatnya bahagia setelah masa pahitnya. 

Tak sengaja mata itu melihat dia, yang sudah berapa kali bertatap muka tanpa sengaja. Namun meninggalkan berjuta rasa ingin di dekatnya. 

"Pagi, Bu Nia," sapa salah satu pegawai yang bernama Mela. 

"Pagi juga Mela, duduk sini saja." Nia langsung bergeser pindah tempat duduk memberikan ruang duduk untuk Mela.  

Mela tersenyum dan bergegas duduk disamping Nia, namun matanya tak sengaja melihat lelaki yang di kenalnya. 

"Daniel sini....," teriakan Mela membuat Nia ikut menoleh mencari seseorang yang dipanggilnya. 

Dan tidak disangka, lelaki itu datang dengan senyum setelah panggilan Mela. Sakit itu timbul seperkian detik, karena ia datang membawa senyum selepas panggilan seseorang. Dan dengannya bahkan dia enggan memamerkan giginya. Cuek, acuh dan dingin yang ia pancarkan. 

Hampir saja tetiba ingin ada air mata. Namun langsung ditepis, karena rasa ini hanya berpangku padanya seorang. 

Obrolan itu meluber. Membuat suasana kaku menjadi hangat, dan ia mau pula bergurau dengan Nia. 

Nia merasa Tuhan mendengar do'a-nya, agar bisa memulai berkenalan dengan lelaki itu. Lelaki yang tidak mudah menebar senyum, tidak mudah tebar pesona, tidak mudah gombalin wanita. Sosok yang begitu Nia harapkan dalam setiap novelnya kini ada di dunia nyata dan dihadapannya. 

Pagi ini terasa, paling indah yang tidak bisa Nia lupakan. Sebabnya, untuk pertama kali ia berjabat tangan dengan lelaki yang disuka. 

Siang ini ada rapat untuk pemilihan siapa yang ikut dalam proyek terbaru kantor ini, bagian mana saja yang harus dibagi tugaskan. 

Dan CEO group Entertainment membagi tugas, untuk proyek launching mobil keluaran terbaru dari PT ini. Dan Nia di tugaskan menjadi model untuk kedua kalinya. Rasanya dia malas harus menjadi model untuk pameran mobil kantornya. Karena kebanyakan lelaki fokus ke model bukan ke mobil, dan ia harus tetap ramah. Dia ingin membantah tapi, dia tidak bisa. Karena walaupun perusahan ini milik pamannya tetap saja ia harus profesional. 

Saat lift berdenting, menandakan sampai. Nia masuk tanpa melihat sekeliling, hingga tak sengaja benturan dengan dada bidang seseorang. Ia langsung tersadar dari lamunan dan melihat siapa yang ia tabrak. Ternyata Daniel lelaki yang selalu menunjukkan raut biasa saja, terhadap siapapun. Namun hangat saat di dekat yang ia kenal. 

"Nia? Pasti ngelamun, mau ke lantai berapa?" tanyanya ramah.

Nia hanya bisa meringis grogi. 

"Emm ... lantai 3 Niel," jawabnya gugup."Baiklah, btw darimana?" Daniel memulai percakapan. 

Mereka terus berbincang, dari keluar lift sampai duduk di kursi masing-masing yang ternyata bersebelahan. 

Berbagai pertanyaan, dan cerita mereka isi untuk menghapus sunyi dalam ruangan yang dingin itu. Sampai waktu sore tiba. Daniel menawarkan diri untuk mengantarkan namun di tolak secara halus dengan alasan bawa mobil sehingga tak bisa di paksa lagi oleh Daniel. 

Malam datang, membawa cerita kenagan seperkian lamanya ia rindu canda tawa tulus. 

*** 

Dear Tuhan. 

Tuhan.... 

Bila ini yang dinamakan arti sabar dan ikhlas dalam merelakan, kini hamba siap melepaskan rasa pada sosok yang dulu, dan hamba gantikan dengan dia yang datang tiba-tiba menawarkan senyum, menyemburkan bahagia. 

Tuhan....

Izinkan kugenggam (dia) kudekap erat tubuhnya, dan terikatkan dalam ikatan yang kuimpikan. 

Sempurnakan cinta ini, bila ini yang dinamakan cinta. Dekatkan dia jika Engkau perkenankan. 

by Nia. 

*** 

Lembar polos dengan coretan tinta merah itu, terbungkus rapi dalam buku sampul Diary My Nia. 

Tepat tanggal 23 Desember. Acara launching dan ia menjadi model, Nia merasa tidak percaya tahun ini pembeli begitu banyak dan cukup melelahkan dengan mulut yang bekerja. 

Selepas selesai, semua sibuk Nia memilih bersandar untuk meredakan pegal dan sakit di kakinya akibat memakai hak tingginya. 

Daniel datang dari arah luar dengan membawa air minum dan salep untuk luka di kakinya. 

Perhatian, pengertian, kepedulian segala macam ia tunjukkan pada Nia. Mereka kini sudah mulai terbiasa jalan-jalan bersama, makan bersama, pergi nonton bersama. 

Semua itu mampu mencuri rasa aneh pada masing-masing, dan mereka menyadari akan hal itu hingga mereka memilih jujur dan menjalaninya bersama, saling terbuka, saling mengerti satu sama lain. 

There is love at the end of december. 

Ada cinta di akhir Desember. Ada guratan titik kebahagian dalam diri mereka, dan memilih mengikatkan dalam tali ikatan suci. 

Cinta itu membawa Daniel menghadap ke kedua orangtua Nia, dan meminta Nia menjadi calon ibu untuk anak-anaknya kelak, meminta menjadi wanita yang menemani sisa hidupnya. Wanita yang selalu ada untuknya kala sakit, kala bangun tidur. Yang terpenting, memenuhi ibadah dan menjauhkan dari dosa jika berpacaran. 

Akhir Desember itu, mereka mengikrarkan ikatan suci. Mereka berjanji dihadapan Tuhan. Mereka menjadi pasangan halal. 

Cinta tidak melulu sakit, namun datangnya sakit membawa pada kebahagiaan yang tidak terkira. 

The End. 

Tentang penulis : 

Maula Nur Baety, lahir di Brebes, Jawa Tengah. Klampok, pasar bawang. Banjaratma Gg. Batara 2. Menulis di wattpad dengan nama @maniezmala , tulisan di www.penuliscerpen.com dan berbagai cerpen / puisi di media www.simalaba.com 

Tidak ada komentar