boleh dilihat

HEADLINE

MARRY ME OR NOT_Cerpen Maula Nur Baety ( Sastra Harian )

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



Seoul, Korea Selatan.

Oneul bam-eun neomu maehogjeog ieoss-eo. (*Malam ini begitu memukau*)
Sungai Han saat malam hari begitu indah. Banyak yang menyusuri sungai Han dengan kapal pesiar. Ada sebuah jasa pelayaran yang disebut Hangang River Ferry Cruise.

"Bagaimana butikmu Rin?" tanya Seo In Hye.

"Lancar, kebetulan ada pasangan yang akan menikah jadi mulai besok aku sibuk mendesain gaunnya." Rin Chan menjawab namun matanya masih setia memandang sungai Han.

"Sorry kayanya aku besok tidak bisa bantu deh Rin, soalnya aku ada janji dengan Jaksa Park Tae San." In Hye membalikkan badan dan menghadap ke Rin Chan.

"Tidak apa-apa, namanya juga detektif In Hye yang sekaligus merangkap jadi dokter." Rin Chan tersenyum dan menggoda In Hye yang tidak suka di sebut dokter karena memang tidak ada keinginan untuk jadi dokter hanya saja keluarganya menuntutnya jadi dokter jika ingin jadi detektif.

"Aish! Jangan mulai deh Rin...." In Hye berjalan menuju stand makanan.

"In Hye, na jamkkan!" Rin Chan mengejar Seo In Hye yang sudah duduk menunggu pesanan.

"너를 짜내!" Rin Chan berucap ketus.

(*"Menyebalkan kau!"*)

Seo In Hye menyengir kuda dan meminum minumannya namun baru akan diseruput tetiba Rin Chan merebutnya dan menegak habis.

"Hei...!! Itu minumanku, bahkan belum kuminum sama sekali." In Hye memanyunkan bibirnya kesal karena Rin Chan selalu merebut makanan dan minuman miliknya seenaknya.

"Baguslah, beli saja lagi nanti kubayar." Rin Chan menjawab dengan santai tanpa melihat raut kesal In Hye.

"Oh ya Rin, nanti hari sabtu ikut ya?" tanya In Hye mengabaikan kekesalannya.

"Lihat nanti ya, kalau aku tidak ada janji dengan pelanggan." In Hye menggangguk setuju.

Setelah berbelanja buku In Hye dan Rin Chan pulang ke masing-masing rumahnya. Seo In Hye di Korea bersama Neneknya berbeda dengan Rin Chan yang sendirian. Orang tua Rin Chan di Jepang. Sedangkan orang tua Seo In Hye sudah meninggal. Mereka berteman semenjak kuliah bersama di Seoul.

Saat berjalan menuju rumahnya Rin Chan tidak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki. Hampir saja terjatuh namun Rin Chan berusaha mengimbanginya.

"Mianhae," ucapnya. (*"Maaf"*)

"Gwaenchanh-a." Rin Chan mengangguk sopan dan akan berjalan kembali begitu pula lelaki itu setelah tersenyum sopan ia berlalu.

Rin Chan melihat dompet tergeletak di jalan dan ia pikir pasti dompet lelaki itu karena sebelumnya tidak ada.

"Jigab-i tteol-eo jyeossdamyeon byeonmyeonghasibsio...." Rin Chan mencoba mengejarnya dan lelaki itu berbalik saat mendengar panggilan Rin Chan.

(Permisi Tuan dompet Anda terjatuh)

"Gomawo," jawab lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.

Rin Chan menerima tangan itu dan merasakan rasa berbeda dari jabat tangan dengan yang lain.

"Kim Jong Hyuk," ucapnya memperkenalkan diri.

"Ah ... Rin Chan."

"Jepang ya?" tanyanya dengan dahi mengerut bingung.

"Iya, tapi saya punya usaha jadi tinggal di sini setelah lulus kuliah," jawab Rin Chan.

"Punya usaha apa di sini?" tanya Jong Hyuk penasaran.

"Mari ikut denganku, di luar dingin sekali dan aku belum mau mati membeku." Rin Chan tertawa pelan dan Jong Hyuk pun menggangguk sopan seraya terkekeh.

Rin Chan membawa Jong Hyuk ke kedai kopi dan teh terbaik di sekitar tempat tinggalnya yang hanya beberapa blok lagi.

"Kau mau pesan apa?" tanya Rin Chan.

"Satu soju saja," jawabnya.

"Ahjumma...!! Soju satu dan kopi biasa satu." teriak Rin Chan namun tidak begitu kencang sehingga tidak akan mengganggu tetangga kios.

"Siap Nona Rin yang cantik...."

Rin Chan tersenyum mendengarnya.

"Sudah sering kesini ya Rin Chan?" tanya Jong Hyuk.

"Iya di sini tempat kedua setelah rumah jika aku capek kerja." Rin Chan menjawab dengan senyum khasnya.

"Kerja dimana?" tanya Jong Hyuk kembali.

"Aku punya butik sendiri, desainer gaun-gaun pernikahan," jawab Rin Chan.

"Wow keren...." Jong Hyuk bertepuk tangan kecil.

"Aigoo biasa saja kok," jawab Rin Chan tersenyum malu.

Tak lama Bibi yang pemiliknya datang membawa pesanan.

"Kau mau minum lagi Nak?" tanya Bibi Chung Yoon Ji dengan panggilan biasanya. Memang paman dan bibi pemilik kedai ini sudah menganggap seperti anak sendiri. Apalagi Rin Chan tinggal sendiri dan paman serta bibi ini juga tidak mempunyai anak sehingga ia memanggil Rin Chan dengan sebutan Nak. Paman pemilik kedai ini orang Indonesia sehingga Rin Chan juga belajar banyak bahasa Indonesia dengannya.

"Tidak Bi, ini untuk teman." Rin Chan menjawab dengan cengirannya sebagai tanda untuk tidak bertanya macam-macam.

"Ya sudah, silakan dinikmati anak muda." Rin Chan menggaruk kepala merasa tidak enak.

"Maaf ya Jong Hyuk...." Rin Chan meminta maaf setelah Bibi berlalu.

"Tidak apa-apa kok Rin," jawab Jong Hyuk dengan senyum tampannya.

"Kamu kerja dimana?" tanya Rin Chan untuk memulai pertanyaan agar ia mengeluarkan kecanggungan yang tetiba hadir.

"Aku pemilik perusahaan JH company," jawab Jong Hyuk mengeluarkan kartu namanya.

"Wow hebat...! Aku dengar perusahaan itu sedang mengembangkan cabang pasar raya terbaru di berbagai tempat di Seoul ya?" tanya Rin Chan berbinar. Ia tidak percaya kenal dengan pemilik perusahaan yang sedang melejit tinggi.

"Tidak sehebat itu kok..., oh ya Rin sepertinya aku harus permisi dahulu. Aku ada janji dengan seseorang tidak apa-apa kan?" tanya Jong Hyuk dengan raut minta maaf.

"Tidak apa-apa kok," jawab Rin Chan tersenyum kecil.

"Ini aku yang bayar, sampai jumpa." Jong Hyuk berlalu setelah mengangguk sopan.

Tak lama bibi datang. Entah untuk membereskan meja atau mau mengajaknya berbincang.

"Tadi siapa Nak?" tanya Chung Yoon Ji.

"Teman baru kenal Bi," jawab Rin dan menyerahkan uang yang dari Jong Hyuk.

"Bibi hari ini Rin capai sekali, maaf ya. Rin pulang dulu...." Rin berdiri dan menggendong tasnya.

"Hati-hati Nak!"

Rin Chan mengangguk sopan dan berlalu keluar dari kedai.

밝은 아침 - (*Pagi yang cerah*)

Rin Chan Pov.

어떻게 든 갑자기 나는 꽃을 느낀다.

(*eotteohge deun gabjagi naneun kkoch-eul neukkinda.*) 

{*Entah kenapa tiba-tiba perasaan aku berbunga-bunga.*}

Setelah membantu karyawan untuk melayani pembeli aku lebih memilih fokus desain dan mulai membuat gaun pesanan anak perdana menteri.

Dering telfon yang terhubung lantai satu berbunyi, menandakan karyawannya menelfon.

"Ada apa?" tanyaku ke inti.

"Nona ada tamu katanya Nona sudah mengenalnya," ucap Hae Yoon yang bertugas di bagian telfon.

"Siapa namanya?" tanyaku bingung.

"Kim Jong Hyuk katanya."

Aku menganga tidak percaya karena dia tahu butikku. Tanpa sadar aku tersenyum senang.

"Langsung masuk ke ruangan saja."

Setelah itu aku mematikan sambungan telepon dan memilih menyiapkan minuman.

Tidak lama suara pintu diketuk.

"Masuk...."

Setelah sudah selesai aku berjalan ke kursi dan duduk dihadapan Jong Hyuk yang terlihat tampan kali ini.

"Silakan diminum..., semoga suka kopi," ucapku.

"Suka kok, aku juga sering minum kopi." Dia tersenyum begitu sempurna dimataku.

"Aku mau ngomong sesuatu denganmu Rin," ucapnya dengan raut gelisah.

"Ada apa?" tanyaku penasaran dan memilih meminum minumanku.

"Will you marry me?"

Uhukkk uhukkk....

Aku tersedak mendengar ucapan dia barusan. Aku melotot tidak percaya.

"What?!" Tanyaku bingung dan sukses membuatku seperti orang bodoh melongo dengan mata melotot.

"Jujur, aku tahu ini terlalu dadakan namun ini situasi darurat. Rin aku ingin mengenalmu lebih jauh tapi aku saat ini sedang dijodohkan oleh orang tua-ku namun aku tidak mau. Bukan harta atau materi yang aku cari namun wanita yang mandiri, dewasa dan tidak bergantung pada keluarga selalu. Kumohon beri aku kesempatan untuk mengenalmu, jika aku memperkenalkan kamu ke keluargaku sebagai kekasihku pasti perjodohan ini batal. Aku tidak ingin menentang keluargaku namun aku ingin dengan cara halus untuk mengubah keinginan keluargaku dan dengan tangan terbuka. Maukah Rin Chan?" Jelasnya.

"Kamu mau memanfaatkanku?" tanyaku curiga.

"Tidak sama sekali. Hanya kamu yang sesuai hatiku, sesuai kriteriaku."

"Setidaknya dengan kamu menemaniku saat ini, kita bisa saling mengenal lebih jauh." Lanjutnya.

Aku bingung, ini bukan sekadar saling mengenal namun melibatkan orang tuanya. Apakah hatiku siap?

Ahhh!! Entahlahhh!! Jalani aja dulu mungkin, bisa saja seiring waktu rasa itu tumbuh.

"So? Marry me or not?" tanyanya.

Hufhhh.... Semoga Tuhan berkenan sehingga kisah-kasih aku dan dia bahagia.

"Baiklah, tapi beri aku waktu seharian ini untuk nangis. Besok saja kau temui aku," ucapku lesu.

Jong Hyuk tersenyum dan terkekeh.

"Terima kasih Rin, baiklah menangis sepuasmu dan aku berjanji tidak akan membuatmu menangis."

Aku hanya tersenyum singkat dan memilih membenamkan wajahku ke bantal sofa.

"Besok kita bertemu di sungai Han ya, aku tunggu calon tunanganku hehe."

"Aigoo!!!" Aku melempar bantal yang tadi kupakai karena ia menggodaku.

Baru saja diterima masa sudah di panggil calon tunangan. Tapi kenapa aku terasa bahagia ya hehe.

Aku tersenyum sendiri mengingat baru saja aku di lamar lelaki tampan dan mapan.

이 사랑은 뜨개질을하는 사랑에있는 대부분의 사람들처럼 아름답습니다.

(semoga cinta ini indah seperti kebanyakan orang dalam merajut cinta.)

일생의 가장 행복한 지점에 도착할 수 있습니다.

(ilsaeng-ui gajang haengboghan jijeom-e dochaghal su issseubnida) 

(Semoga sampai ke titik terbahagia seumur hidup.)

The End.

Tentang penulis : 


Maula Nur Baety, tulisannya berupa sajak dan cerpen diterbitkan di media Simalaba.com. Lahir di Brebes, Jawa Tengah. Banjaratma.


Tidak ada komentar