boleh dilihat

HEADLINE

CERITA CERITA KAKEK_Cernak Ramajani Sinaga (Semarak Sastra Malam Minggu )

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 18

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)



“Bagaimana kamu bisa tahu cerita tentang itik dan kura-kura? Apa kamu sudah pernah membaca ceritanya di buku dongeng?” tanya Anton pada Sandi sepulang sekolah.

Anton memandangi temannya itu dengan kagum. Sandi bisa hafal banyak cerita. Bagi Anton, hal itu sesuatu yang luar biasa. Dirinya malah tak tahu cerita rakyat seperti itu.

Sandi tersenyum.

“Kakekku bercerita padaku setiap malam. Aku selalu suka dengan cerita-cerita kakekku. Selain cerita itik dan kura-kura, masih banyak cerita lain yang kutahu dari kakekku.” Jawab Sandi bersemangat.

Anton mendengarkan.

“Kakekku hafal seribu cerita. Ada cerita Simarsikkam yang lucu, cerita Si Balua yang cerdik, cerita Mandurung yang pemurung, cerita Si Sampuraga si anak durhaka kepada orang tuanya, dan masih banyak cerita-cerita lainnya yang kutahu dari kakek. Aku bahkan sudah lupa berapa banyak cerita-cerita itu.”

“Wah, kakekmu hebat. Sepertinya kakekmu sudah banyak membaca buku cerita.” 

Sandi diam. Ia belum pernah melihat kakek membaca buku cerita. Yang Sandi tahu, kakek hanya suka bercerita kepadanya.

Sesampai di rumah, ia langsung menemui kakek yang sedang menanam pepohonan di samping rumah.

Sandi selalu suka dengan cerita-cerita kakek. Cerita kakek selalu seru dan membuat penasaran. Tapi, Sandi tidak pernah tahu dari mana cerita-cerita itu berasal. Ia harus bertanya langsung kepada kakek.

 “Dari mana kakek bisa tahu banyak cerita dan dongeng seperti itu?” tanya Sandi penasaran.

Kakek tersenyum, “Dulu kakek senang mendengarkan cerita-cerita dari teman-teman kakek. Sekarang cerita-cerita itu kakek bagikan ke kamu.”

“Wah… Teman-teman kakek hebat. Mereka bisa hafal banyak cerita.”

Kakek tiba-tiba diam. Kulit kakek yang sudah keriput semakin terlihat jelas. Ada apa dengan kakek? Mengapa ia tiba-tiba murung sekali?

“Sebenarnya… banyak cerita yang sudah kakek lupa. Seperti cerita Haloban, cerita Si Dormauli, cerita Si Pemancing ikan, dan masih banyak cerita lainnya yang sudah kakek lupa.”

Sandi memandang kakek tidak mengerti. Mengapa kakek bisa lupa dengan cerita-cerita itu? Jika kakek tidak lupa, Sandi pasti akan tahu tentang cerita-cerita itu. 

Kakek memandang Sandi dengan sedih. “Karena kakek tidak menuliskan isi cerita-cerita itu. Ingatan  manusia itu terbatas, Sandi. Sandi harus rajin belajar menulis. Biar bisa menuliskan cerita-cerita dan dongeng yang kakek sampaikan. Tulisan itu kekal dan abadi. Akan banyak orang yang membaca dan bermanfaat pula.”

Sandi diam. Sandi tidak terlalu suka belajar, termasuk belajar menulis seperti yang kakek maksudkan. Sandi hanya suka bermain dan mendengarkan cerita-cerita dari kakek. 

***
Malam itu, Sandi mencari kakek. Kakek sudah berjanji padanya untuk bercerita tentang si gajah yang baik hati. Tapi, Sandi tidak menemukan kakek di kamarnya.

Sandi ke ruang tengah dan melihat kakek di sana. Kakek sedang duduk di depan meja. Tangan kanan kakek sedang memegang sebuah pulpen. Tangan kakek bergetar menggerakkan pulpen itu. Sandi memandanginya dari jauh juga ikut bergetar.

“Kakek sedang apa?” tanya Sandi.

Sandi melihat kedua mata kakek berembun.

“Kakek menulis?”

“Kakek ingin bisa menulis, biar cerita dan dongeng yang kakek tahu nggak akan terlupa. Kakek ingin menulis semuanya. Kakek ingin cerita-cerita kakek bermanfaat bagi orang lain. Tapi… kakek tidak bisa menulis.”

Wajah Sandi sedih.

“Kakek nggak bisa menulis?” Mata Sandi bulat memandangi kakek. Ia tidak percaya dengan hal itu.

“Di zaman kakek dahulu, ketika seumuran kamu, sekolah hanya milik anak-anak tertentu. Waktu itu penjajah masih ada di negeri kita. Kakek tidak bisa sekolah. Padahal kakek ingin belajar membaca dan menulis.” Suara kakek bergetar.

Sandi memeluk kakek. Baginya kakek adalah yang terbaik baginya.

“Kakek nggak usah khawatir. Sandi akan menuliskan cerita-cerita kakek.”

Kakek tersenyum senang. 

Sejak saat itu, Sandi selalu giat belajar menulis. Ia berjanji akan menuliskan seribu cerita-cerita kakek. Seperti kata kakek, ingatan manusia tidak kekal. Dengan bacaan ingatan akan kembali. 



Tentang Penulis

Ramajani Sinaga, alumni FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sekarang ia sebagai guru di sebuah SMA dan SD Banda Aceh. Beberapa cerita anaknya telah dimuat di Kompas Anak, Sinar Harapan, Majalah Story, Analisa, Waspada, MedanBisnis, Mimbar Umum dan Serambi Indonesia.  



Tidak ada komentar