boleh dilihat

HEADLINE

SASTRA ISLAM MODERN | Esai Muhamad Muckhlisin |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor) Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan



Bila kita mengkaji sastra Islam modern, khususnya dari negeri Iran, Reza Bahareni, yang hampir semua karya-karyanya dianggap “makar” oleh rezim Shah Iran, kita pun bisa membandingkannya dengan sastrawan manapun yang diperlakukan selaku musuh oleh penguasa yang berlangsung. Di Aljazair ada Fadila Marabet, meskipun tulisan-tulisannya dalam bentuk esai dan reportase jurnalistik, namun tidak kalah gaungnya dengan kekuatan daya imajinasi para sastrawan. Kedua penulis itu dianggap biang keladi yang mendorong kebangkitan umat – seperti karya Pramoedya Ananta Toer – yang menjadi hantu menakutkan bagi para penguasa korup.  

Menurut sastrawan Italia terkemuka, Ignazio Silone, “Semakin meningkat ke abad transformasi sosial, perbedaan novel dan esai hanyalah soal teknis pengungkapan saja. Muncullah kemudian istilah ‘novel esaistik’, bahwa setiap karya sastra tidak membatasi diri dalam penceritaan suatu riwayat yang dikarang, tetapi sekaligus menjelaskan realitas yang ada, menilainya, serta menyoroti kebudayaan dan kelembagaan, membandingkan citra dunia dengan tetap memanfaatkan simbol-simbol maupun alegori-alegori.”

Selain Reza Bahareni, Fadila Marabet, Taha Husain, Najib Mahfudz dan Orhan Pamuk, seorang sastrawan berdarah Arab lainnya yang diakui jagat kesusastraan dunia adalah Yussef Idriss, dengan karya cerpennya yang terkenal berjudul “Rumah Daging” (Betlehem). Cerpen Rumah Daging memanfaatkan simbol-simbol halus tetapi tajam, suatu protes terhadap kelembagaan agama tetapi dibalut dengan humor yang satir dan menghanyutkan. Bila membandingkan dengan cerpen-cerpen Najib Mahfudz (peraih nobel sastra 1988), kita dapat memahami betapa kehebatan sastra Arab memiliki kemampuan bercerita yang sudah mendarah-daging, sebagai bangsa padang pasir yang terlatih di sekeliling api unggun di malam Arabia penuh bertaburan bintang-bintang.

Rumah Daging menceritakan kisah empat wanita, seorang janda bersama tiga anak gadisnya yang sudah berumur, dan mestinya sudah saling menikah. Tetapi fakta bicara lain, ketiga anak gadis itu tidak ada yang cantik, tak pernah ada lelaki yang tertarik apalagi melamar. Keluarga itu miskin melarat. Mereka hanya bisa menunggu dan menunggu, namun tak pernah ada jawaban. Kesunyian eksistensial dari sosok-sosok perempuan yang tak laku, sampai akhirnya keluarga itu mengenal seorang lelaki tampan, Qari yang suka melafalkan ayat-ayat Quran, tetapi dia seorang yang buta.

Ketiga gadis itu mengusulkan agar ibunya menikah dengan sang Qari, perjaka muda yang berkumis menarik itu. Sang ibu menyetujui usulan itu, dan rupanya si perjaka buta pun sudah lama mengharap-harap adanya jodoh baginya. Pucuk dicinta ulam tiba. Maka datanglah waktunya, untuk pertama kali selama sekian tahun menanti, di tengah keluarga itu mulai terdengar adanya gelak-tawa di sebuah kamar gelap, meskipun pada perjalanannya seperti inilah akibatnya.

Lama kelamaan, sang Ibu menyadari sikapnya yang egois, di tengah anak-anak gadisnya yang tak bisa tersenyum. Padahal, sejak mereka kecil sang Ibu dengan sayangnya menyuapi roti ke mulut mereka, kadang-kadang merelakan dirinya kelaparan, yang penting anak-anaknya merasa kenyang. Tetapi, bagaimana dengan kali ini. Apakah ia tega membiarkan anak-anak tercintanya “kelaparan” secara biologis, bahkan tak pernah mengenal apa itu yang disebut “nikmatnya s*ks”?

“Makanannya haram, tetapi lapar jauh lebih berdosa.” Bergelutlah antara konflik adat, agama dan perikemanusiaan, meskipun dengan risiko yang harus dihadapinya.

Youssef Idriss sang pengarang, akhirnya dengan gentlemen memenangkan nilai-nilai kemanusiaan. Hingga terjadilah pada malam yang sunyi itu, ketika sang Ibu meminjamkan cincin kawinnya kepada si Sulung, sampai kemudian dia pun meminjamkan suaminya yang buta, yang hanya dapat meraba jari-jari bercincin sebagai tanda. Begitulah secara bergantian, pada malam berikutnya dia pinjamkan pula kepada si Tengah dan si Bungsu. Dan setelah lampu minyak dipadamkan, maka kelaparan secara biologis, diselesaikan.

Bila Youssef Idriss tidak sanggup melontarkan pertanyaan yang bersifat esaistik, dengan balutan filsafat dan religiositas tinggi, kisah-kisah macam itu bisa merosot ke dalam cerita erotis atau lelucon murah belaka. Sebab, si Qari tentu merasakan adanya permainan cincin, dan tiapkali dia meraba jari-jari itu tentu berbeda-beda, bahkan dengusan nafas mereka pun berbeda-beda pula. Tetapi, bukan di situ titik persoalannya.

Si pengarang ingin melontarkan gugatan, di tengah manusia menghadapi krisis eksistensial, dalam keadaan terjepit, kelaparan, tetapi hidup harus terus dijalani. Pada saat itu, akan sulit baginya mendapatkan nasihat atau petuah, karena mereka sendirilah yang mengalaminya secara konkrit, khas, tidak berlaku umum tetapi mereka sendirilah yang bertanggungjawab di hadapan Tuhan mereka.

Dalam konteks ini, si Qari yang buta pun pada dasarnya merupakan kiasan. Buta secara spiritual, atau karena sikon kemiskinan yang tidak memungkinkan bagi kalangan awam sanggup menangkap pewartaan yang diajarkan dalam teks-teks agama. Mana mungkin orang awam mampu menangkap sinyal dan massage dari firman Tuhan yang tersampaikan melalui pesan-pesan kenabian. Sedangkan bagi mereka yang tidak paham, atau justru tidak tahu sama sekali bahwa suatu perbuatan itu boleh dilakukan ataukah terlarang.

Bukankah yang dituju oleh dunia buku dan kitab-kitab agama (termasuk esai dan sastra) adalah bagi mereka yang mampu memahaminya, merenungkannya, serta punya waktu dan suasana kondusif untuk menyerap ilmu, lalu mengamalkannya? Masih banyak pertanyaan mengapa, bagaimana, mungkinkah manusia memilih teks-teks ajaran agama daripada perikemanusiaan, pada saat ajaran itu menuntut mereka agar selalu taat dan tunduk tanpa reserve, sementara para penganut agama tidak pernah diarahkan menjadi cerdas dan dewasa? 


Tentang Penulis:
Muhamad Muckhlisin adalah esais dan kritikus sastra, pemenang pertama lomba cerpen tingkat nasional (2017)



   




Tidak ada komentar