boleh dilihat

HEADLINE

TANAH YANG DIKALAHKAN_Puisi Puisi Agust Gunadin




TANAH YANG DIKALAHKAN

Aku tergerak menulis pamplet ini
Sebab nyawaku dan nyawamu sering dijodohkan
Antara kegembiraan dan kesedihan
Namun, ada warna dan kegetaran hidup yang menakjubkan
Ingin mempertahankan kehidupan

Terlepas menyaksikan suguhan televisi dan koran lokal
Ada manusia mematahkan sayap antarsesama
Sebab sekian tahun hati mengeram dalam kebencian
Lalu menetes
Merebut kesucian tanah sebagai kepunyaanku
Lebih memilih malam daripada menyambut pagi

Sebab manusia ingin memperlakukan hamba dan dihambakan
menghantam sesama, menghilangkan martabat dan riwayat

Adik dan kakak tidak lagi bersaudara
Anak dan Ayah lebih suka berseteru daripada melihat ‘Enigma Wajah’
Sebab kedua-duanya tidak ingin mengalah untuk dikalahkan
Tanah yang suci seolah menjadi saksi kekejian rupa manusia

San Camillo, 18112018


PAJANGAN


Di balik banyaknya wajah terpampang
Penuh dan mendesak tepian jalan dan terminal kota
Ada hamparan padang, kerontang, kekerdilan ide
Sebagai kandidat terkuat atau hanya mencoba
Muncul pancaran kekesalan, dan terusik dalam penggelengan
Wajah yang hanya menampang nama
Lantas, menghilangkan rasa keingintahuan
Pemilih yang ingin tahu visi dan misi
Sebab, ada kemungkinan?
Banyak nama suka dipajangkan, tapi
lupa memajangkan ”apa yang ingin dikonkretkan menuju kesejahteraan”




KEBAHAGIAAN : PERLU DIKASIHANI

Kutemukan sosok Ondel yang tak mengena
Bukan saja pakaian yang tak punya, tapi
Adanya seringkali meriuh lalu lepas begitu saja
Pada emperan toko  lingsir waktu, jalin-menjalin
 seperti lintingan tembakau, senantiasa menghela nafas lega
namun, ada kisah yang senantiasa menghapal
syair untuk diingat
bully-bully untuk ditiadakan
pada keberadaan orang dalam gangguan jiwa
ditutur dengan cara yang santun
ditulis dengan feature agar menarik hati
kita sebagai demos menanak dalam jiwa
“Aku ada dalam diri yang lain”
hati pun perlu diisi oleh kratein
sebab nada kebahagian dan kesejahteraan
 perlu sebagai telos
agar tidak ada lagi kisah “anak emas” dan “ditirikan”

Gnd: San Camillo, Februari 2019


ANTARA JENAKA DAN POLITIK

Hidup adalah berburu
Yang sedang mengantar cerita-cerita dari nama
Dan membaca zaman yang sedang gelisah
Sedang tangisan penyesalan
Hanya mengikis butir-butir kelaliman
Kini, ketakutan mulai bergeming
Saat kita hanya sebagai penonton dalam bioskop
Lagi kita datang dengan pakaian necis dan pikiran melangit
Lalu, mencari tentang konsep
Politik  yang validitas lagi sahih
Namun,,,
Pernahkah kita membawa sekujur harapan,
Membawa keyakinan mulai merakyat, tidak melemahkan dan memperbodoh masyarakat
Tentang
Politik jangan lagi berteori banyak tapi praksis dalam kebijakan
Rakyat telah lama terlelap dalam teori
Menjadi bosan pada teori abstrak
Mungkinkah?
Demokrasi tidak hanya mengadu dan melangitkan teori
Ini bukan barter, tapi soal nasib rakyat
Yang memonopolikan kekuasaan dengan sepeser uang
Tak pernah ada penyadaran diri
Bahwa kita sudah terlambat bertransaksi
“Tentang pembangunan belum merata.                                                 

Gnd: Maumere, Des 2018



PEMIMPI ATAU PIMPINAN
I
Meski genang telah menghilir ke seberang
Tapi mata ini masih saja tergelincir pada jemari tenang
Meski suara menggunakan pengeras, berkomentar lewat saran
Rasanya kritikan dan usulan untuk lembaga, justru meninabobokan nafas panjang
Telah kami lalui pada jalan panjang
Lewat hentakan tertulis pun lalu menuang dalam lembaran kanvas
Terlihat tergesit, namun malah mendiamkan
Ataukah watak Apatis, memang sebagai karakter pemimpin
II
Sekian lama detak jantung hanya mengela nafass
Saat corong kami masih terninabobo
Katanya “Sibuk kerja, lantas berlibur ke Negeri seberang”
Kami percaya bahwa Bapa itu pemimpin bukan pemimpi
Yang hanya bertajuk mimpi
Melepas ide pemimpi demi kebijakan terpimpin
                                                                                                  San Camillo, 20 April 2018


Tentang Penulis:

Agust Gunadin, Penghuni Rumah Filsafat San Camillo-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat dalam Harian Pos Kupang, Warta Flobamora dan Media Online.

Tidak ada komentar